Produk Gipsum Yosorejo Sudah Tembus Pasar Bandung

by

*Usaha Turun Temurun, Butuh Dukungan Pemerintah

INDUSTRI GYPSUM- Iqbal pengusaha gypsum di kelurahan Yosorejo, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan.

KOTA – Kelurahan Kuripan Yosorejo, Kecamatan Pekalongan Selatan, ternyata memiliki sentra industri potensial, salah satunya usaha kerajinan gipsum khas Yosorejo. Meski masih dikelola manual, namun produknya sudah menembus pasar luar daerah.

Salah satunya usaha gipsum milik Iqbal, di Gg 10, yang sudah turun temurun puluhan tahun. “Ini namanya gipsum Ikbal. Usaha ini sudah turun temurun, puluhan tahun,” ucapnya saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (4/3/2020).

Untuk produksinya sendiri, gipsum tidak memakan waktu lama, meski bahan pembuatannya khusus dari casting yang tidak bisa dirubah. “Proses pembuatannya cepat. Bahan dasarnya dari bahan khusus dari casting tidak bisa dirubah. Kalau untuk pengeringan 15 menit udah kering, udah langsung angkat dari cetakan. Kalau untuk pengeringan total bisa sampai 3 hari,” terang Iqbal.

Kelebihan usaha ini, lanjut dia, karena tidak bergantung kondisi cuaca. Proses produksi justru dipengaruhi dari proses intensitas pembangunan yang ada. Kalau aktivitas pembangunan sedang tinggi, maka permintaan gipsum otomatis meningkat.

“Permintaannya dari tahun ke tahun memang naik turun, tidak stabil. Untungnya tidak terpengaruh hujan, karena cukup dijemur di dalampun pasti kering, karena sistemnya menguap,” jelasnya.

Dirinya mengaku bisa memproduksi 50-60 batang per hari. Namun jumlah produksi sehari itu tergantung permintaan. Bahkan permintaan setiap hari ke luar kota juga sudah ada.

“Ini penggiriman sampai ke Bandung. Kebetulan orangnya ke sini sih. Kadang 200-300 batang. Ini untuk pembangunan rumah dari yang kecil sampai yang besar, kadang hotel. Itu juga nda pasti,” paparnya.

Selain itu, produksi juga dipengaruhi permintaan konsumen. Motifnya sesuai pesanan, ada yang polos, kembang, ukiran. Tingkat kesulitan motif juga berpengaruh ke harga.

“Harga itu tergantung lebarnya. Hampir rata-rata 2 meter kalau lebar kan masing-masing itu yang menentukan harga. Dari minimal Rp 9.000 – Rp 30.000 per lonjor atau batang. Itu kalau beli leiss, itu sistemnya batangan, kalau pemasangan sistemnya meteran. Jadi di sini menerima pemasangan juga,” beber Iqbal.

Sebagai usaha turun temurun, Iqbal mengaku terus berupaya menjaga kualitas. Meskipun pihaknya terbuka untuk melakukan inovasi dari segi motif dan ukiran.

“Kalau kualitas itu masih tetap, tapi ukiran itu tergantung permintaan. Terkadang konsumen minta ukiran yang baru, dan kita ganti motif yang baru, yang lama sudah menurun,” imbuhnya.

Iqbal berharap, usaha gipsum ke depanya makin maju hingga mampu naik kelas dalam hal pemasaranya. Tentu dengan dukungan pemerintah setempat.

“Ya semoga ke depannya bisa lebih maju. Ya itu nanti seiring dengan berjalannya waktu, ditambah dukungan pihak kelurahan dalam hal pengembanganya ke depan, “tandasnya. (ap3)