Daerah Rendah, Tirto Butuh Tanggul Permanen

by
GOTONG ROYONG – Anggota TNI, Polri, masyarakat, hingga relawan bergotong royong membuat tanggul darurat untuk meminimalisir luapan air sungai.

TIRTO – Pemerintah Kelurahan dan segenap masyarakat Tirto merasa terbantu dan berterima kasih atas bantuan sebanyak 25.000 karung dan 200 truk tanah merah dari Pemprov serta dinas terkait, khususnya Pemerintan Kota Pekalongan. Namun demikian, mereka berharap ke depan bisa dibangunkan tanggul permanen.

Pembuatan tanggul darurat sejauh 4 kilo meter yang dikerjakan selama 7 hari itu dilakukan secara gotong royong pihak TNI, Polri, DPUPR, relawan, dan masyarakat sekitar.

“Kemarin itu sudah masukan tanah, ini tinggal 1 karung nggeh. 1 Truk yang belum dimasukkan, masih dimasukkan dan semoga bisa mengurangi genangan air yang masuk ke wilayah Tirto sendiri, terutama di rumah warga,” ungkap Lurah Tirto, Pekalongan Barat, Nur Imaniah, saat dikonfirmasi di kantornya, Kamis (27/2/2020).

Karena wilayahnya menjadi langganan banjir dan bahkan terparah, maka pihak kelurahan dan masyarakat berharap Pemkot dan Pempov tidak hanya membantu tanggul darurat, namun sudah harus mengeluarkan kebijakan pembuatan tanggul permanen.

Pihak kelurahan mengaku sudah mengusulkan pembuatan tanggul permanen sepanjang kali Bremi dan Kali Meduri kepada Pemerintah Kota. Harapannya, pemukiman warga yang selama ini menjadi sasaran luapan kali Bremi dan Meduri utamanya di RW 01 sampai dengan RW 7 bisa ditanggulangi. Sebab sejak menjadi langganan banjir, warga di semua RW tersebut baik dewasa maupun anak-anak selalu mengungsi.

“Kita sudah usulkan tanggul permanen antara kali Bremi dan Kali Meduri itu sepanjang 1500 – 3000-an meter. Banjir terparah di kali Bremi itu ya RW 1, karena dari RT 1 sampai 7 banjir semua setinggi lutut orang dewasa, bahkan lebih. Kemarin juga dikunjungi Bapak Kapolda Jateng, karena di sana itu kalau anak-anak dan orang dewasa itu mengungsi,” paparnya.

Karena itu, Nur Imaniah berharap agar aspirasi tanggul permanen bisa direalisasi. Sebab, jika intensitas hujan tinggi, wilayah itu pasti banjir, belum lagi dampak rob, sehingga meluap ke pemukiman warga.
“Dengan adanya tanggul permanen itu minimal mengurangi banjir yang ada di kelurahan Tirto,” sambungnya.

Selain itu, masyarakat Tirto juga mendesak Pemkot bisa mengupayakan pompa sedot air bertenaga listrik di dua titik, yakni RW 1 dan Rw 8. “Kami sudah mengusulkan. Di samping tidak hanya solar, lama ya. Masyarakat pengennya listrik,” jelasnya.

Permintaan itu didasari karena penyebab banjir di kelurahan Tirto bukan hanya luapan sungai Bremi dan Meduri, tetapi karena memang kawasan Tirto merupakan daerah rendah dan resapan air, sehingga jika curah hujan tinggi sepanjang 1-3 jam, wilayah ini pasti banjir.

“Maka keberadaan pompa listrik sangat dibutuhkan warga, sebagai pertolongan pertama jika terjadi genangan setinggi lutut orang dewasa seperti selama ini terjadi,” pungkasnya. (ap3)