Penting Membahas Asal Usul Sebelum Melihat Hukum Fiqih

by
KAJIAN – Memakai cadar dan celana cingkrang jadi kajian NU Kendal. Acara dikemas dalam pengajian selapanan dengan narasumber Ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial Royan.

KENDAL – Forum Pengajian Selapanan PCNU Kabupaten Kendal ikut membahas permasalahan cadar dan celana cingkrang yang belakangan sempat menjadi polemik, utamanya pasca wacana yang digulirkan Menteri Agama. Lantas bagaimana hasilnya?

KAJIAN Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) itu dipusatkan di Gedung Graha NU Kendal, belum lama ini. Sebagai narasumber Ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial Royyan. Acara itu dimoderatori dengan apik oleh Jafar Baihaqi.

Dalam prolognya, moderator menyampaikan cadar dan celana cingkrang di Indonesia mulai merebak sejak tahun 1980-an, sebagai fenomena kebangkitan Islam. Cadar dan celana cingkrang dianggap sebagai salah satu simbol keIslaman. Namun masalah muncul ketika cadar dan celana cingkrang dihubungkan dengan para pelaku terorisme ataupun radikalisme.

“Sehingga menarik untuk dikaji dari segi etika, estetika, dan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Jafar Baihaqi.

Dalam paparanya, KH Muhammad Danial Royyan menyampaikan hukum memakai cadar dan celana cingkrang sebagai hukum yang berubah sesuai perubahan tempat dan zaman, bukan hukum tetap (qoth’i). Apakah itu termasuk syariat atau budaya. Menurutnya, pakaian, makanan, dan minuman jika dikaitkan dengan agama dapat berarti simbol atau syiar.

“Pembahasan terhadap hal tersebut berubah-ubah, seperti hukum memakai celana dan dasi pada zaman KH Hasyim Asy’ari. Sedangkan cadar dan celana cingkrang termasuk masalah furu’ul furu’ (cabang dari cabang), sehingga membahasnya nggak perlu ngotot,” terangnya.

Danial pun mengangkat konsep urf atau ma’ruf yang menunjuk pada kebaikan yang bersifat lokal sehingga dikenal. Sebab ada budaya baik di suatu tempat yang belum tentu dianggap baik di tempat lain. Pun dengan syariat, dibedakan pada primer atau lidzatihi) dan sekunder (lihgoiri dzatihi). Dalam shalat misalnya, yang primer itu sujud, semendatara yang sekunder semisal duduk di antara dua sujud. “Sedangkan cadar tidak diatur dalam Alquran, sehingga bukan syariat primer, sebab yang dibahas Alquran itu jilbab,” ujarnya.

Dijelaskan Danial, pembahasan cadar harus dikaitkan dengan aurat wanita. Menurut Imam Hanafi, wajah sendiri tak termasuk aurat, sehingga tidak harus ditutupi.

Sementara soal isbal, yakni pakaian yang melebihi mata kaki, ada dua pendapat. Yang mengharamkan berpegang pada hadits, sementara yang membolehkan merujuk pada riwayat tentang Abu Bakar yang pakaiannya menutup mata kaki. Ketika ditanyakan ke Rasulullah, itu tidak dilarang asalkan tak sombong.

“Dari riwayat ini, maka yang dimaksud haram adalah kalau untuk kesombongan seperti gaun pengantin. Dari sini dapat diambil pelajaran betapa pentingnya memahami sejarah atau asal usul sebelum membahas fiqih,” timpalnya.

Bagaimana soal wacana adanya aturan yang melarang ASN memakai cadar. Menurut Danial hal itu sah-sah saja pemerintah mengaturnya sehingga agar tidak terjadi eksklusifisme, memudahkan untuk saling mengenal, dan menjauhkan fitnah atau cap teroris.

“Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan “hukmul hakimi yarfaul khilaf” atau keputusan pemerintah menghilangkan ikhtilaf atau perbedaan,” pungkasnya.(*)