Proyek Drainase Wahidin Terancam Gagal

oleh -

*Progres Minus Hingga 40 Persen

TINJAU – Bupati Batang, Wihaji saat meninjau secara langsung progres penataan trotoar dan drainase Jalan Wahidin, Kecamatan Batang beberapa waktu lalu.

BATANG – Proyek penataan trotoar dan drainase Jalan Wahidin, Kecamatan Batang, terancam gagal selesai. Pasalnya, progres pengerjaan paket konstruksi tersebut mengalami keterlambatan (deviasi negatif) cukup tinggi dari target yang dijadwalkan. Jika tak selesai, maka PT Budikarya Tama Intiarta selaku pelaksana pekerjaan pun terancam masuk daftar hitam (blacklist).

Sebab, proyek senilai Rp 4.000.040.000 yang mulai dikerjakan per 27 Juni 2019 lalu dan ditarget harus sudah dapat selesai pada 23 November 2019 besok, saat ini progresnya baru terealisasi sekitar 60 persen.

“Ya, masuk H-2 ini, progres pekerjaan masih mencapai 60 persen. Artinya rekanan mengalami keterlambatan dalam penyelesaian pekerjaan mencapai 40 persen,” ujar Kabid Prasarana Jalan dan Jembatan DPUPR Kabupaten Batang, Nur Haryanto, Kamis (21/11).

Ia mengatakan, DPUPR telah menawarkan kesempatan perpanjangan waktu kepada rekanan untuk penyelesaian pekerjaan. Namun, kata dia, hingga saat ini pihak rekanan belum juga memberikan jawaban.

“Kita sudah tawarkan, namun sampai H-2 ini belum juga ada jawaban. Apabila rekanan mengambil masa perpanjangan, maka rekanan akan menerima denda sepermil dari nilai kontrak per hari, di mana setiap satu harinya rekanan harus membayar denda sejumlah Rp 3 juta sekian,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keterlambatan proyek penataan trotoar dan drainase Jalan Wahidin tersebut diduga akibat rekanan mengalami kesulitan modal. “Intinya rekanan ini mengalami kesulitan dalam permodalan, sehingga tenaga kerja yang ada di lapangan hanya sedikit dan material juga tidak mencukupi,” ungkap Kepala DPUPR Kabupaten Batang, Ir Ketut Mariadji.

Diketahui juga, bahwa Kabupaten Batang telah melakukan evaluasi dan melayangkan surat peringatan satu dan dua kepada rekanan. Bahkan, beberapa waktu lalu, Bupati Batang, Wihaji berkesempatan meninjau langsung pengerjaan proyek. Bupati tidak dapat menyembunyikan kekesalannya kepada pelaksana proyek. Pasalnya, progres pekerjaan jauh dari target yang ada dalam kontrak kerja.

“Jujur saja saya kecewa. Proyek ini pagu anggaranya mencapai Rp 4 miliar dan berada di kawasan perkotaan, tapi ternyata progresnya jauh dari yang seharusnya,” ujar Bupati Wihaji. (fel)