Pelajar SD Negeri Keputran 6 Tradisikan Pakai Sarung Batik

by

KOTA – Wujud nyata melestarikan batik sekaligus melaksanakan instruksi Walikota tentang memakai sarung batik, pelajar SD Negeri Keputran 6 memakai sarung batik setiap Jumat Kliwon.

Perwakilan guru SD setempat, Urip Purwaningsih mengungkapkan, kebijakan pemakaian sarung batik itu merupakan instruksi yang disampaikan Walikota Pekalongan untuk melestarikan budaya lokal Kota Pekalongan, yaitu sarung batik.

“Penggunaan sarung batik yang digagas oleh SD Keputran 6 ini menjalankan dari apa yang disampaikan Walikota Pekalongan, HM Saelany Machfudz untuk cmencintai kearifan lokal sehingga setiap Jumat kliwon dimulai bulan ini, sekolah menyampaikan kepada anak-anak untuk memakai sarung batik,” ujar Urip usai mengikuti kegiatan tasyakuran pencanangan pemakaian sarung batik di Halaman SD Keputran 6 setempat, Jumat (27/9).



Adapun ketentuan penggunaan tersebut, disebutkan Urip, bagi siswa putra diperkenankan menggunakan sarung bermotif batik dan untuk siswi bisa menggunakan bawahan rok batik atau gamis batik. Penyampaian kebijakan ini telah disosialisasikan terlebih dahulu kepada para wali murid agar mereka paham betul tujuan dari pencanangan kebijakan bersarung batik setiap Jumat kliwon.

“Acara tasyakuran pencanangan sarung batik di sekolah kami tadi memang kami kemas dalam bentuk sarapan bersama baik murid maupun guru dengan makan makanan khas Kota Pekalongan juga, nasi megono lesehan anak-anak dengan lahap menyantap nasi megono tersebut yang dilengkapi dengan tempe goreng seperti kebiasaan masyarakat Kota Pekalongan,” terang Urip.

Menurut Urip, SD Keputran 6 sebagai salah satu Sekolah Berkarakter, sekolah tersebut harus menyisipkan pengimplementasian Pendidikan yang bermuatan lokal dekat dengan masyarakat. Maka, pencanangan wajib bersarung batik di SD tersebut dirasa sangat tepat dilakukan untuk mendukung pengembangan mutu Pendidikan yang berkualitas.

“Salah satu indikator Sekolah Berkarakter memang harus memiliki program yang diimplementasikan dengan kolaborasi kearifan lokal, jadi pemakaian sarung batik ini sangat tepat untuk dikenalkan kepada siswa terlebih lagi para warga sekolah khususnya wali murid sangat mendukung kebijakan ini,” tutur Urip.

Salah satu wali murid SD Keputran 6, Janing yang sedang menjemput anaknya mengaku sangat apresiasi dengan kebijakan bersarung batik setiap Jumat Kliwon di lingkungan SD Keputran 6.

“Sebelumnya memang sudah ada sosialisasi mengenai hal tersebut. Kami selaku wali murid menyambut positif dan tidak keberatan akan hal itu. Anak-anak kami diajarkan untuk mengenal budaya lokal yang ada di Kota Pekalongan seperti sarung batik ini, mereka juga bisa mengetahui batik itu seperti apa dan mudah-mudahan ini bisa berkelanjutan ke depannya,” pungkas Janing. (dur)