Pemkab Babat Penyakit Kaki Gajah

by -
Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Yuhdi Syuhada
Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Yuhdi Syuhada

KAJEN – Pemkab Pekalongan terus bertekad untuk membabat penyakit kaki gajah atau filaria di Kota Santri. Di Kabupaten Pekalongan terdapat 44 warga yang menderita filaria kronis.

Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Yuhdi Syuhada
Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Yuhdi Syuhada

Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Yuhdi Syuhada, kemarin, mengatakan, berdasarkan survei darah jari terakhir di Kecamatan Wiradesa dan Buaran, ditemukan satu positif di wilayah Buaran. “Wiradesa ‘clear’, Buaran positif satu. Temuan ini belum ada 1 persen. Dari 150, positif hanya satu,” ujar dia.

Ditargetkan, pengobatan massal pada tahun ke lima yang akan dilakukan bulan Oktober 2019 nanti bisa ‘clear’. Diakuinya, Kecamatan Buaran salah satu kecamatan endemis filaria. Menurutnya, akumulatif di Kabupaten Pekalongan ada 44 warga yang kronis filaria.

“Yang positif itu mikro filaria. Ini dilihat dari survei darah jari pada malam hari,” terang dia.

Dikatakan, warga yang positif mikro filaria akan tampak sehat. Jika tidak diobati, lanjut dia, bisa berakibat fatal, di antaranya kaki membesar seperti kaki gajah. Pasalnya, mikro filaria jika sudah dewasa bisa menyumbat aliran limpa sehingga terjadi pembengkakan.

“Jika tidak mau diobati bisa membengkak. Lima tahun pembengkakan ini baru bisa kelihatan,” terang dia.

Untuk mencegah penyakit filaria ini, kata dia, pada bulan Oktober nanti akan ada pengobatan massal filaria tahun ke lima. Menurutnya, obat filaria akan dibagikan untuk seluruh warga yang berusia 2 tahun hingga 70 tahun. Namun pada tahun ini bayi usia 2 bulan ke atas juga akan diberi obat filaria.

“Semua warga dari bayi usia dua bulan hingga warga usia 70 tahun dikasih obat. Nanti ada pos-pos untuk pembagian obat ini. Kami juga melibatkan kader Posyandu, Fatayat, Muslimat, dan sekolahan. Aparat desa juga bisa terlibat. Target pengobatan 80 persen, dan target 90 persen obatnya diminum, ” katanya.

Dengan pengobatan massal tersebut, diharapkan hasil survei darah jari negatif, atau survei darah jari di bawah 1 persen.”Dengan pengobatan massal ini ada eliminasi penurunan kasus kepada nilai yang ditolerir,” ujar dia.

Dikatakan, penyebaran filaria melalui nyamuk jenis Culex yang biasa muncul di malam hari. Ditambahkan, obat filaria itu efek sampingnya sangat kecil. “Obat filaria ini efek sampingnya sangat kecil, jadi nanti saat diberi diminumlah untuk mengantisipasi filaria. Untuk ibu hamil, penderita penyakit jantung, dan lansia di atas 70 tahun ditunda pemberian obatnya,” imbuh dia.

Seperti diketahui, Kabupaten Pekalongan merupakan satu dari sembilan daerah endemi penyakit kaki gajah di Jawa Tengah. Sebagai upaya untuk mencegah penyakit filariasis ini, pemda pada tahun 2018 mencanangkan gerakan minum obat pencegahan massal filariasis tingkat Kabupaten Pekalongan Tahap 4 Tahun 2018 di Balai Desa Wonopringgo, Kecamatan Wonopringgo, Selasa (2/10).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, Setiawan Dwiantoro, mengatakan, di fase awal penyakit kaki gajah ini bisa diobati. Namun, jika sudah terlanjur kronis tidak bisa. Oleh karena itu, gerakan minum obat ini sebagai upaya pencegahan secara massal atas penyakit kaki gajah tersebut. “Awal penularan bisa dicegah tapi jika sudah kronis sulit diobati. Ini upaya pencegahan dengan minum obat secara massal,” katanya.

Diterangkan, ciri-ciri terserang penyakit kaki gajah di antaranya, mengalami demam berlanjut dan terus menerus, panas mendadak, dan pegal linu tidak ada kejelasan. Menurutnya, di Kabupaten Pekalongan ada 46 kasus penderita kaki gajah yang tersebar di 9 kecamatan, yakni di Kecamatan Wiradesa, Tirto, Buaran, Bojong, Petungkriyono, Kandangserang, Paninggaran, Wonopringgo dan Kecamatan Kedungwuni.

Selain dengan upaya minum obat secara massal, upaya pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan sangat penting, agar nyamuk vektornya tidak berkembang. Oleh karena itu, pemda terus menggelorakan berbagai program inovasi untuk menjaga lingkungan seperti program Gentong Hebat dan Berjumpa. (ap5)