Soal Data, Belajarlah dari Warisan Belanda

by
Soal Data, Belajarlah dari Warisan Belanda
FOTO BERSAMA - Wakil Bupati Batang, Suyono, berfoto bersama dengan para peserta FGD di Hotel Sendang Sari. DOK ISTIMEWA

*Wabup Minta Petugas BPS Tekankan Akurasi dan Validasi

BATANG – Dalam hal pengarsipan data, pemerintah Indonesia di semua tingkatan dinilai masih lemah. Wakil Bupati Batang, Suyono, bahkan menyebut pemerintah perlu belajar dari masa lalu, termasuk warisan Belanda yang memiliki dokumen yang lengkap dan terawat.

Soal Data, Belajarlah dari Warisan Belanda
FOTO BERSAMA – Wakil Bupati Batang, Suyono, berfoto bersama dengan para peserta FGD di Hotel Sendang Sari. DOK ISTIMEWA

Pesan itu disampaikan Wabup saat membuka Forum Group Discussion (FGD) Daerah dalam Angka yang berlangsung di Hotel Sendang Sari, belum lama ini. Dia mengingatkan pentingnya mentradisikan mencatat serta bagaimana mengumpulkan data yang valid. “Melihat data dari sistem pemerintahan Belanda yang dari zaman dahulu catatannya masih ada, dalam ajaran agama pun disuruh mencatat dengan teliti serta menginventarisir, tapi pemerintah justru ketinggalan dari masa-masa lalu yang sesungguhnya harus menjadi pelajaran,” terang Suyono.



Dia meminta seluruh petugas pengumpul data di bawah Badan Pusat Statistik (BPS) serius dalam menjalankan tugas, sehingga data-data yang dikumpulkan bisa teruji keakuratannya dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. “Harus samakan visi dan misi dalam pengumpulan data untuk terselenggaraan pemerintahan yang baik. Maka data harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Menurut Suyono, guna mendukung program pemerintah dan pembangunan serta terselenggaranya pemerintahan yang baik di Kabupaten Batang, diperlukan keterbukaan informasi publik dan penyebarluasan informasi melalui penyediaan data yang memadai.
Oleh karena itu, petugas pengumpulan data harus berintegritas, karena dituntut menyajikan data secara jujur sesuai fakta. Apalagi terkait dengan data masyarakat yang bertujuan untuk kesejahteraan.

“Jangan sampai menyajikan data hoaks, dan tidak akurat, karena ketidakakuratan data dapat berimplikasi terhadap masyarakat,” tandasnya.

Dikatakannya, bagi petugas pengumpul data dalam menyajikan ke BPS seharusnya data yang berintegritas. Sebab, kata dia, data itu akan dijadikan single data yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat dan dapat diakses melalui Batang dalam Angka.

“Batang dalam angka merupakan kumpulan data yang ada di seluruh Kabupaten Batang. Mulai dari jumlah telur, hewan sampai manusia, bisa diketahui melalui data tersebut. Dengan demikian, kemajuan teknologi data ini harus dapat diakses oleh seluruh komponen masyarakat,” ujarnya. (fel)