Tuntaskan Buta Aksara, 116 Guru Relawan Diterjunkan

by
4 - Tuntaskan Buta Aksara, 116 Guru Relawan Diterjunkan
SIAP TERJUN - 116 guru relawan siap diterjunkan dalam program penuntasan buta aksara sesi kedua. Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menargetkan tahun 2020 mendatang Kota Pekalongan dapat meraih predikat bebas buta aksara. MALEKHA

KOTA – Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menerjunkan 116 guru relawan yang bertugas menuntaskan angka buta aksara sesi ke dua. Penerjunan guru relawantersebut ditandai dengan launching penuntasan buta aksara yang dilaksanakan di Aula Dindik Kota Pekalongan, Kamis (18/7).

4 - Tuntaskan Buta Aksara, 116 Guru Relawan Diterjunkan
SIAP TERJUN – 116 guru relawan siap diterjunkan dalam program penuntasan buta aksara sesi kedua. Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menargetkan tahun 2020 mendatang Kota Pekalongan dapat meraih predikat bebas buta aksara. MALEKHA

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Soeroso mengatakan, program ini merupakan program sesi ke dua setelah program penuntasan angka buta aksara sesi pertama yang berhasil membawa 60 peserta dari 162 penyandang buta aksara meraih Surat Keterangan Melek Aksara (Sukma).

“Saat ini kita menggarap sisanya, yaitu 102 orang dengan rentan usia 15-59 tahun dan tersebar di 21 Kelurahan dari 27 Kelurahan yang ada di Kota Pekalongan. Insyaallah targetan tahun ini bisa selesai tepat satu minggu sebelum pelaksanaan hari guru dan kita menyongsong 2020 dengan predikat Kota Pekalongan bebas buta aksara,” tutur Soeroso.

Ke 102 orang penyandang buta aksara ini, menurut soeroso terdapat merata di empat Kecamatan yang ada di Kota Pekalongan. Meskipun secara komposisi berbeda, ada yang dominan ada yang lebih sedikit. “Yang terbanyak masih terdapat didaerah Kecamatan Utara, yaitu sebanyak 90 orang, Barat 38 orang, Timur 27 orang dan Selatan 7 orang,” imbuhnya.

Selain itu, ada perbedaan yang cukup menonjol dari program penuntasan angka buta aksara sesi pertama dan ke dua. Untuk sesi pertama Dindik masih menggunakan tutor sebagai pengajar. Namun untuk sesi ke dua, Dindik melibatkan relawan guru yang siap untuk membantu Pemerintah Kota Pekalongan menuntaskan buta aksara.

“Jadi relawan guru ini sifatnya relawan, tidak ada unsur imbalan apapun. Namun alhamdulillah guru-guru di Kota Pekalongan begitu tanggap dengan masalah yang ada di Kota Pekalongan, meski sifatnya relawan dan tidak ada imbalan. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri sehingga kami harus menutup pendaftaran, bayangkan saja objeknya hanya 102 orang tapi relawannya sampai ada 116 orang. Kita patut berbangga,” jelasnya.

Hal ini dilakukan oleh para guru di Kota Pekalongan bukan tanpa sebab. Mereka ingin mempersembahkan sesuatu yang sangat bernilai bagi Kota Pekalongan dan akan dipersembahkan pada saat peringatan hari guru nasional, yaitu predikat Kota Pekalongan bebas buta aksara.

Sementara itu, Walikota Pekalongan Saelany Mahfudz yang ditemui usai melaunching program penuntasan buta aksara menyampaikan, bahwa menjadi seorang relawan dalam pengentasan buta aksara adalah pengorbanan seorang pendidik. Saelany mengaku tersentuh dengan banyaknya jumlah relawan yang andil dalam program ini. Gerakan para pendidik ini tentu akan mewujudkan mimpi Kota Pekalongan untuk nol (zero) buta aksara sehingga pada tahun 2020 natinya Kota Pekalongan menjadi Bebas Kota Bebas Buta Aksara.

“Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban namun tidak semua orang berkesempatan untuk mencicipi pendidikan yang layak. Dulu, banyak orang tua yang tidak mendapat kesempatan belajar membaca. Pada era milenial ini jangan sampai kita biarkan orang buta aksara. Ketidaktahuan mereka harus diberantas, bukan hanya belajar huruf, barangkali mereka berpergian dapat paham tanda-tanda lalu lintas,” tandasnya.(mal).