Satpol PP akan Kirim Anak Punk untuk Direhab di Panti

by
Satpol PP Petimbangkan Kirim Anak Punk untuk Direhab di Panti
DIBERI PEMBINAAN - Tiga anak punk yang terjaring Satpol PP di jalur Pantura Wiradesa diberi pembinaan oleh petugas. Hadi Waluyo

WIRADESA – Satpol PP Kabupaten Pekalongan terus berusaha menekan anak punk yang berada di Kota Santri. Berbagai upaya dilakukan mulai dari razia anak punk hingga pembinaan terus dilakukan. Bahkan tidak menutup kemungkinan anak punk yang terjaring razia akan direhab di Panti Antasena Purworejo.

Satpol PP Petimbangkan Kirim Anak Punk untuk Direhab di Panti
DIBERI PEMBINAAN – Tiga anak punk yang terjaring Satpol PP di jalur Pantura Wiradesa diberi pembinaan oleh petugas. Hadi Waluyo

Operasi penyakit masyarakat dengan sasaran anak punk rutin dilaksanakan Satpol PP Kabupaten Pekalongan. Sejumlah titik yang kerap dijadikan mangkalnya anak punk dikosek, seperti di Lapangan Gemek, Perempatan Podo, hingga di sejumlah titik di jalur Pantura Kabupaten Pekalongan.

Dalam operasi pekat di jalur Pantura, Satpol PP mendapati tiga anak punk tengah mengamen di Perempatan Gumawang. Ketiga anak pun ini pun langsung diamankan petugas, dan diberi pembinaan. Petugas memberi nasehat kepada ketiganya untuk tidak lagi menjadi anak punk dan hidup di jalanan. Selain meresahkan masyarakat, masa depan mereka pun bisa suram. Pasalnya, sebagian besar anak punk sudah mengenal minuman keras dan sejenisnya. Usai dibina, ketiganya dipulangkan lantaran mereka masih ada keinginan untuk kembali bersekolah.

“Setelah kita bina dan beri nasehat, ketiga anak punk ini kita pulangkan. Mereka masih baru menjadi anak punk dan masih mau untuk sekolah lagi. Namun untuk kegiatan ke depan, kami akan panggil orang tuanya. Tidak menutup kemungkinan, anak punk yang kita jaring akan direhab di Panti Antasena Purworejo,” ujar Kabid Tribum Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan, Argo Yudha Ismoyo, kemarin.

Kancil, salah satu panggilan anak punk tersebut mengaku berasal dari Desa Rowoyoso. Ia sempat berhenti sekolah di kelas dua SMP, dan berencana melanjutkan sekolahnya. “Saya hanya ikut-ikutan ngamen. Uangnya untuk beli makan kalau malam. Saya tidak minum miras,” aku dia.

Sebelumnya diberitakan, fenomena maraknya anak punk kian meresahkan masyarakat. Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Pekalongan turun tangan dengan merazia anak-anak punk ini, Jumat (3/5). Hasilnya, sebanyak 41 anak punk terjaring razia di titik-titik mangkal mereka. Di antaranya di Simpang Empat Gumawang, Wiradesa, Pencongan, Wiradesa, Lapangan Gemek, Kedungwuni, dan Simpang Tiga Podo, Kedungwuni. Mirisnya, sebagian besar di antara mereka tengah pesta minuman keras saat terjaring razia petugas.

Puluhan anak punk ini lantas dibawa ke Aula Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan untuk didata dan diberi pembinaan oleh petugas. Dengan mendatangkan tukang potong rambut, mereka juga dicukur gundul agar tampak rapi. Pasalnya, tampilan anak punk ini sangat kucel dan kumuh. Bahkan, di antara mereka mengaku sudah tidak mandi dan ganti pakaian selama empat hari.

Mirisnya lagi, sebagian besar anak punk ini masih anak-anak. Rata-rata mereka berumur di bawah 17 tahun. Bahkan, beberapa di antaranya masih berstatus pelajar SD, SMP, dan SMK. Di antara kelompok anak punk ini juga dijumpai anak-anak gadis yang masih berusia belia. Mereka pun sebagian besar berasal dari luar Kabupaten Pekalongan, di antaranya ada yang berasal dari Cirebon, Tegal, Pemalang, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Batang. Oleh karena itu, mereka diberi pembinaan dan digunduli agar jera masuk ke Kota Santri. (ap5)