Abaikan Nilai, PPDB Sistem Zonasi Dikeluhkan

by
Abaikan Nilai, PPDB Sistem Zonasi Dikeluhkan
MEMBLUDAK - Pendaftar di SMPN 1 Wonopringgo yang merupakan salah satu sekolah favorit di Kota Santri tampak membludak. Foto - Hadi Waluyo.

KAJEN – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2019/2020 masih banyak mendapat keluhan dari masyarakat. Pasalnya, pada PPDB tahun ajaran ini, PPDB lebih mengutamakan faktor jarak rumah calon siswa dengan sekolahan, dan mengabaikan faktor nilai atau kepintaran anak. Anak pintar akan kalah dengan anak kurang pintar yang jarak rumahnya dekat dengan sekolahan.

Abaikan Nilai, PPDB Sistem Zonasi Dikeluhkan
MEMBLUDAK – Pendaftar di SMPN 1 Wonopringgo yang merupakan salah satu sekolah favorit di Kota Santri tampak membludak. Foto – Hadi Waluyo.

Anam (30), warga Kranji, Kedungwuni, kemarin, mengeluhkan PPDB tahun 2019. Disebutkan, salah satu keponakannya mendaftar di SMPN Kedungwuni. Pada hari pertama pendaftaran melalui online, keponakannya itu didampingi orang tuanya mendaftar melalui online sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Keponakannya ini, kata dia, awalnya masuk 10 besar, namun terus bergeser ke urutan 102 hingga pada hari berikutnya menempati urutan ke-105, karena urutan ini ditentukan berdasarkan jarak rumah ke sekolah.

“Yang paling dekat dengan sekolah, walaupun daftar terakhir, nilai USBN rendah, tetap yang diterima. Daftar pertama, nilai bagus, nggak pengaruh karena jarak rumah ke sekolahnya kalah,” keluh dia.

Ia berharap, penentuan PPDB dengan sistem zonasi ini bisa dievaluasi. Selain mengedepankan kepintaran anak, jarak zonasi tidak ditentukan dengan jarak permeter rumah dengan sekolah namun ditentukan perdesa. “Harusnya zonasi ditentukan jarak perdesa, bukan jarak permeter rumah dengan sekolahan,” katanya.

Kepala SMPN 1 Wonopringgo Mucikno, mengatakan, pada hari pertama pendaftaran sistem online dibuka, jumlah calon peserta didik yang mendaftar di SMPN 1 Wonopringgo cukup tinggi, yakni 360-an anak. Sebagian besar berasal dari sekitar SMPN 1 Wonopringgo atau di Kecamatan Wonopringgo dan kecamatan lain di sekitarnya yang masih dalam satu zonasi. “Peminatnya banyak. Pendaftar hari pertama saja 360-an. Ini berasal dari lingkungan terdekat dari Kecamatan Wonopringgo. Ada yang jaraknya 172 Km, jaraknya jauh sekali. Ini masih kita lacak, apakah dia mendaftar melalui jalur prestasi tapi melalui jalur zonasi atau tidak,” katanya.

Dikatakan, untuk kendala teknis selama pendaftaran online tidak ada masalah. Hanya persoalan waktu untuk melakukan verifikasi. “Hari pertama verifikasi dibatasi jam 14.00 WIB, sehingga waktu tidak cukup untuk memverifikasi yang mendaftar pada hari itu. Hari berikutnya waktu verifikasi dibuka jam 8.00 WIB sampai 19.00 WIB. Kuota delapan rombel kali 32 anak, ada 256 siswa. Yang sudah mendaftar sudah melebihi. Untuk SMP penerimaan berdasarkan jarak rumah siswa ke sekolah yang zonasi. Jarak ini berdasarkan kartu keluarga,” terang dia.

Kasi SMP Dindikbud Kabupaten Pekalongan Aji Suryo, kemarin siang, mengatakan, pelaksanaan PPDB online yang berlangsung dari tanggal 17 hingga 19 Juni kemarin berjalan dengan lancar. Menurutnya, dari hasil pantauan dinas tidak ada kendala teknis. Dalam PPDB Tahun Ajaran 2019/2020 ini mengacu pada Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018.

“Ada yang baru di PPDB kali ini yakni penerapan sistem zonasi sehingga masyarakat agak kaget. Dalam PPDB sistem zonasi, nilai tidak dipertimbangkan. Anak pintar kalah dengan jarak ke sekolahan. Aturan baru memang seperti itu. Tahun ajaran lalu kan anak pintar kalah dengan SKTM, sekarang anak pandai kalah dengan zonasi atau jarak,” kata dia.

Dikatakan, untuk PPDB SMA juga menerapkan sistem zonasi, namun patokan jaraknya adalah kantor balai desa. Sedangkan untuk PPDB SMP sistem zonasi patokannya jarak rumah ke sekolah. “Ini tentu ada kelemahan dan keuntungannya. Untuk SMA menggunakan zonasi tapi patokannya kantor balai desa. Siapa pun yang berasal dari Desa Nyamok, misalnya, maka patokannya semua diukur dari balai desa. SMP berdasarkan rumah. Ini tentu ada kelemahan dan kelebihannya,” ujar dia.

“Dengan sistem zonasi ini semua sekolah merata, tidak ada sekolah unggulan. Nanti kemampuan gurunya akan kita tingkatkan lagi untuk meningkatkan pembelajaran. Selama ini kan ditengerai model sekolah favorit dan unggulan bukan mutlak karena keberhasilan guru, tapi anak banyak yang les dan bimbel. Dengan sistem zonasi ini tantangan juga bagi sekolah,” imbuhnya. (ap5)