Nguri-uri Budaya, Gunungan 1.000 Kupat Diarak Keraton

by
Nguri-uri Budaya, Gunungan 1.000 Kupat Diarak Keraton
REBUTAN - Puluan warga saling berdesak-desakan berebut gunungan berisi 1.000 kupat melambangkan 10 jenis karakteristik yang harus dilakukan oleh manusia.NUR KHOLID MS

*Grebek Kupat ala Keraton Karawitan Amarta Bumi

KENDAL – Keraton Karawitan Amarta Bumi Kampung Djowo Sekatul Limbangan, menggelar grebek kupat, Minggu (9/6). Kegiatan dalam rangka menguri-uri budaya itu mengarak hingga 1.000 kupat yang melambangkan 10 jenis karakteristik yang harus dilakukan oleh manusia.

Nguri-uri Budaya, Gunungan 1.000 Kupat Diarak Keraton
REBUTAN – Puluan warga saling berdesak-desakan berebut gunungan berisi 1.000 kupat melambangkan 10 jenis karakteristik yang harus dilakukan oleh manusia.NUR KHOLID MS

Seribu kupat itu dikemas dalam bentuk gunungan. Selain itu juga ada gunungan hasil bumi. Kemudian kedua gunungan itu didoakan dan mendapatkan percikan air kelapa muda dengan tujuan untuk mensucikan diri. Hal itu dilakukan usai prosesi acara sungkeman abdi dalem dan warga kepada Sri Anglung Prabu Punta Djayanagara Cakrabuana Girinata dan Ratu Keraton Karawitan Amarta Bumi Kampung Djowo Sekatul. Selanjutnya, kedua gunungan itu diarak keliling keraton dan menjadi rebutan puluhan warga yang hadir untuk mencari berkah.

Sri Anglung Prabu Punto Djojonegara CakraBuana Girinata mengatakan, gerebeg kupat sudah dilakukan sejak keraton tersebut berdiri sekitar 20 tahun silam. Dipilihnya kupat karena memiliki 10 sifat yang melambangkan kehidupan manusia, antara lain harus menggunakan nurani, hormat kepada sesama, menjaga nilai-nilai yang baik hingga memegang prinsip yang baik, serta bekal hidup.

“Seorang manusia punya pegangan hidup. Kupat bukan sekadar bentuk makanan, tetapi punya makna filossofi tersendiri,” katanya.

Dijelaskan, gerebeg kupat bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat tentang tradisi yang dimiliki di tanah Jawa. Dirinya berharap kegiatan itu bisa ditiru oleh warga yang lain dalam melestarikan tradisi yang sudah terjadi turun temurun. Selain itu, mengembangkan adat-adat Jawa yang mungkin sudah hilang digali dan dicari lagi dan masyarakat mendukung dalam mencari jati diri bangsa. “Gerebeg kupat kami gelar beberapa hari di bulan Syawal,”ungkapnya.

Sri Anglung Prabu Punto Djojonegara CakraBuana Girinata menambahkan, jika 1.000 kupat dengan 10 jenis melambangkan karakteristik itu benar-benar dilakukan oleh manusia, maka perjalanan hidupnya di dunia hingga nanti kembali kepada Tuhan akan selamat.”Tentu saat ini kita prihatin, negara sedang dalam leadaan gaduh. Harapanya akan tumbuh dari acara adat ini nilai-nilai kejujuran, ketulusan, dan dijauhkan dari pamrih pribadi dan kedepankan kepentingan umum, bangsa dan negara, di atas kepentingan pribadi dan golongan. Maka itu akan membuat negara ini damai, makmur dan sejahtera,” pungkasnya.(lid)