Home Metro Pekalongan Penataan Sempadan Kali Loji Diprediksi Memakan Waktu 7 Tahun

Penataan Sempadan Kali Loji Diprediksi Memakan Waktu 7 Tahun

by Admin 1

KOTA – Program penataan kawasan Krapyak, Pekalongan Utara, yang di dalamnya termasuk kegiatan normalisasi sungai dan penataan sempadan Kali Loji oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah bersama Pemkot Pekalongan dilakukan secara ‘multiyears’. Diperkirakan, program ini akan memakan waktu hingga tujuh tahun.

Penataan Sempadan Kali Loji Diprediksi Memakan Waktu 7 Tahun
AKAN DITATA – Pemprov Jateng bersama Pemkot Pekalongan akan melakukan penataan kawasan Krapyak, Pekalongan Utara pada tahun 2019 sebagai Kawasan Wisata Perairan Berbasis Kearifan Lokal. Termasuk diantaranya akan penataan sempadan Kali Loji mulai dari Taman Jlamprang hingga Jalan Mahakam. ISTIMEWA

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Permukiman Dinperkim pada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kota Pekalongan, Muhammad Wisnu Nugroho, Rabu (10/4).

Diterangkan Wisnu, dari DED yang dibuat Dinas Pusdataru Provinsi Jateng, pembuatan tanggul normalisasi Kali Loji sepanjang 1,5 kilometer akan dimulai dari sisi utara Krapyak yakni Jalan Mahakam hingga Taman Jlamprang. Dari pihak Provinsi setiap tahunnya hanya mampu mengerjakan sepanjang 200 meter saja.

“Dari 1,5 kilometer atau setara 1.500 meter, hanya bisa 200 meter setiap tahunnya. Maka secara perhitungan butuh kurang lebih tujuh tahun selesai. Itu baru di kawasan Krapyak, padahal dari keseluruhan DED-nya terdapat total 11 kilometer, hingga wilayah Kuripan, Pekalongan Selatan,” terang Wisnu.

Dia memaparkan ada dua fokus yang akan dikerjakan dari penataan kawasan di wilayah Krapyak diantaranya dari Dinas Pusdataru Provinsi Jawa Tengah dalam menata kawasan Kali Loji dan Dirjen Cipta Karya Kementerian PU yang bertugas dalam mengatasi permukiman.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Pemkot telah menyiapkan anggaran pada tahun 2019 sebesar Rp3,5 miliar untuk pembebasan bidang tanah dan bangunan. Dinas Pusdataru Provinsi Jawa Tengah juga telah menetapkan anggaran sebesar Rp3,5 miliar.

“Ini adalah program kolaborasi antara Pemkot dan Provinsi, dari anggaran yang sudah ada kita juga masih ada usulan dana anggaran lainnya karena program ini sifatnya multiyears. Pemkot membantu pembebasan lahan, sedangkan Provinsi bagian konstruksinya, yang dijadwalkan pada pertengahan tahun 2019 ini akan dimulai pembuatan normalisasi Kali Loji. Memang tujuan awalnya penataan kawasan ini untuk mengendalikan banjir maupun rob di wilayah Krapyak sekaligus mengangkat potensi wisata berbasis kearifan lokal yang ada di wilayah tersebut,” jelas Wisnu.

Wisnu menyampaikan untuk mencegah luapan sungai, nantinya Kali Loji akan dilebarkan sekitar 25 meter. Setelah itu dipasang site pile yang berfungsi seperti tanggul. Kemudian dari parapet kurang lebih memiliki lebar 3 meter yang didesain seperti tempat duduk, dan akan dibuat berundak. Baru nanti ada jalan inspeksi selebar 6 meter.

“Sementara untuk kawasan permukimannya, kami akan menyambungkan kawasan Krapyak dengan kawasan heritage di Jetayu dengan jembatan yang dikhususkan untuk sepeda dan becak. Selanjutnya akan dibuat ikon lopis raksasa sebagai ciri khas budaya yang ada di Krapyak,” ungkapnya.

“Nanti saat perayaan tradisi pemotongan lopis raksasa pada Syawalan akan ada plaza dipusatkan juga di sekitar sungai, tidak lagi di gang 8 agar dapat menampung lebih banyak pengunjung, tempat edukasi galangan kapal, dok kapal, pengembangan waterway, riverwalk, sentra batik, dan sebagainya. Orang yang baru mendengar pasti seperti mimpi, tapi kita optimis bahwa Kota Pekalongan bisa menjadi kota wisata yang indah dan menarik untuk wisatawan,” sambung Wisnu.

Sementara itu, ditambahkan Walikota Pekalongan, Saelany Machfudz saat membuka FGD II kegiatan penyusunan RTBL Kawasan Krapyak di Ruang Kalijaga, Senin (8/4), penataan kawasan Krapyak ini memang betul-betul mempertimbangkan aspek historis, filosofis, dan arsitektual agar dapat diterima sebagai ikon kawasan.

“Ini adalah paparan yang ke-2 yang dilihat dari aspek kondisi, potensi, dan peta konsep perencanaan. Ini sebagai bentuk upaya mewujudkan Kawasan Krapyak yang aman, nyaman, wisatanya berkembang. Kita lihat dari potensinya, Krapyak ini memiliki historis yang cukup panjang dari awal mula terbentuknya, sejarahnya, budaya dan lain sebagainya,” imbuh Saelany. (way)

Related Articles