BOS Minim, Guru Terpaksa Rangkap Pustakawan

by
KOORDINASI - Disperpuska Batang saat menggelar FGD bersama Disdikbud dan komunitas guna meningkatkan budaya literasi di Batang.
KOORDINASI – Disperpuska Batang saat menggelar FGD bersama Disdikbud dan komunitas guna meningkatkan budaya literasi di Batang.

BATANG – Masih banyak sekolah di Batang, khususnya SD sederajat, yang belum memiliki tenaga pustakawan ahli. Kebanyakan untuk petugas perpustakaan sekolah dirangkap oleh guru atau TU. Hal itu dilakukan karena sekolah belum mampu memberikan insentif khusus jika merekrut jabatan tersebut.

“Memang kebanyakan sekolah belum memiliki tenaga perpustakaan ahli. Salah satunya karena terkendala terbatasnya Dana BOS. Tapi bagi sekolah yang memiliki banyak siswa, rata-rata mereka sudah memiliki pustakawan sendiri. Karena memang ada alokasi dana untuk menggaji karyawan tersebut,” terang Sekretaris Disdikbud Batang, Bambang SS, Jumat (8/3).

Oleh karena keterbatasan anggaran tersebut, lanjut dia, jabatan pustakawan ahli biasanya masih dirangkap oleh guru ataupun TU. Namun tentu saja ada aturan sendiri, di mana dalam proses pelayanan perpustakaan harus dilakukan ketika istirahat. Tujuannya agar tidak menganggu pekerjaan wajib guru atau TU yang merangkap jabatan tersebut.

“Untuk mengangkat tenaga ahli memang belum bisa dilakukan seluruh sekolah, karena terhalang dana BOS yang tidak memadai. Salah satunya itu Mbak, kalo mengangkat tenaga perpustakaan honornya pasti beda, karena keahliannya khusus. Sedangkan untuk Tenaga Admistrasi Sekolah (TAS) lainnya saja belum semua sekolah ada dan mampu membayar,” jelas Bambang.

Meski begitu, pihaknya terus berupaya mencari solusi agar ke depannya perpustakaan sekolah bisa ditangani pustakawan yang memang ahli di bidangnya. Sementara ini, pihaknya masih memanfaatkan apa yang ada dan juga memberikan sedikit pelatihan untuk menunjang kompetensi mereka.

“Kami bekerja sama dengan Disperpuska juga mendorong para penjaga perpus sekolah non pustakawan ini dengan pelatihan. Alhamdulillah, mereka juga punya komunitas untuk saling diskusi dan belajar bagaimana mengelola perpustakaan. Kami berharap, ke depan ada solusi agar bisa dikembangkan lebih baik,” pungkas Bambang. (nov)