Wanita Hamil Digaruk Pol PP

by -
Wanita Hamil Digaruk Pol PP-1
SURAT PERNYATAAN - Tiga wanita yang diduga PSK sedang membuat pernyataan di Markas Satpol PP Kabupaten Tegal, kemarin. YERI NOVEL/RADAR SLAWI

SLAWI – Seorang wanita hamil terpaksa digaruk petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tegal bersama tim gabungan, kemarin. Wanita itu diamankan petugas karena diduga Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sedang mangkal di tempat prostitusi.

Wanita Hamil Digaruk Pol PP-1
SURAT PERNYATAAN – Tiga wanita yang diduga PSK sedang membuat pernyataan di Markas Satpol PP Kabupaten Tegal, kemarin. YERI NOVEL/RADAR SLAWI

Selain mengamankan wanita tersebut, petugas juga menggaruk dua wanita malam lainnya

Kepala Satpol PP Kabupaten Tegal HM. Berlian Adjie melalui Kabid Trantib Susworo didampingi Kasi Trantib Suyoto mengatakan, operasi penertiban PSK ini melibatkan 35 anggota Satpol PP, tiga anggota dinsos, dua anggota Kodim 0712 Tegal, dan dua anggota Polres Tegal. Operasi yang dilaksanakan pada pukul 21.30 hingga pukul 03.00 itu, mendasari sprint Kasatpol PP tanggal 11 Februari 2019 Nomor : 331.1/08/175 tentang Kegiatan Operasi PSK di Eks Lokakisasi Curug, Jalingkos dan sejumlah wilayah Kabupaten Tegal.

“Dalam razia ini kami juga menyasar ke Curug, pertigaan Badar-Suradadi, panti pijat pantura, Terminal Adiwerna, di bawah jalur Tol Balamoa, dan Jalingkos,”terangnya.

Dari hasil penyisiran itu, tim gabungan berhasil mengamankan wanita malam yang diduga PSK berinisial RM, 34, warga Dukuhturi di Terminal Adiwerna. Saat diinterogasi, wanita ini memiliki 2 anak yang satu masih berusia 1 tahun dan satunya sudah SMK.

“Di hadapan kami, dia bersumpah tidak akan mengulangi perbuatannya lagi,”ujarnya.

Petugas juga mendapati wanita berinisial NR,21, warga Balamoa yang sedang mangkal di tempat karaoke di dekat Tol Balamoa. Wanita itu memiliki anak balita dan ibunya sakit-sakitan. Di lokasi yang sama, tim gabungan juga mengamankan wanita berinisial RN,34.

“Wanita ini sedang hamil 8 bulan dan mempunyai anak down sindrom,”ucapnya.

Dia menyatakan, ketiga wanita tersebut tidak bisa dikirim ke Panti Rehabilitasi Sosial (Resos) karena tidak memenuhi syarat. Ketiganya juga memiliki anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan pembinaan dari ibunya.

“Mereka kami perintahkan untuk buat surat pernyataan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya,” tandasnya. (yer/ima)