Radar Batang

Tingginya Tarif Tol masih Dikeluhkan Sopir Truk

BATANG – Hampir sebulan paska pemberlakukan tarif Tol Trans Jawa banyak pengendara yang melintas di jalur tol Pemalang Batang mengeluhkan mahalnya tarif jalan bebas hambatan tersebut. Pengendara menginginkan tarif tol Pemalang Batang dan Batang Semarang dapat disamakan dengan tarif tol lainnya.

Tingginya Tarif Tol masih Dikeluhkan Sopir Truk
ARUS LANCAR – Kondisi jalur tol di wilayah Kabupaten Batang terpantau lancar. Mahalnya tarif membuat sebagian pengguna jalan memilih kembali menggunakan jalur pantura. M DHIA THUFAIL

Bahkan, tarif tol sendiri jika dibandingkan dengan pengisian bahan bakar minyak masih lebih mahal tarif tol, sehingga pengguna tol yang akan melewati jalur Pemalang Batang dan Batang Semarang berharap ada penurunan tarif tol.

Seperti dikatakan Suwaris (45), pengemudi truk asal Jawa Timur. Ia menyebut, tarif Tol Trans Jawa sangat mahal, khususnya ruas Pemalang Batang dan Batang Semarang. Ia membandingkan, jika tarif tol di daerah lainya hanya ditarik Rp 500 perkilo, sehingga masih sangat terjangkau.

“Mahal sekali mas bagi saya, dibanding tarif tol di Jakarta sana. Sehingga saya memilih keluar tol dan menggunakan jalur Pantura kalau mau melewati jalur dari Pemalang hingga Semarang dan seterusnya,” terangnya saat ditemui, Selasa (12/2).

Memang diketahui, pihak pengelola Tol Trans Jawa masih membebani tarif tol di jalur Pemalang Batang dan Batang Semarang sebesar Rp 1.000 perkilonya. Tarif ini berbeda besarannya dengan tarif tol yang diterapkan di Jakarta dan sekitarnya, yakni Rp 500 perkilo.

Pemberlakukan tarif tol senilai Rp 1.000 perkilo dirasa pengguna jalan masih terlalu mahal. Pengendara berharap adanya pengkajian kembali tarif tol di sejumlah jalur tol yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo itu.

Selain dianggap masih mahal, sejumlah fasilitas seperti rest area di sepanjang jalur tol Pemalang Batang dan Batang Semarang masih belum ada, sehingga pengendara terlebih dulu mengisi bahan bakar kendaraan sebelum memasuki tol ini.

Senada disampaikan Budi (38), pengemudi mobil angkutan barang asal Weleri. Menurutnya, dengan tarif yang dianggapnya terlalu mahal itu, masyarakat belum bisa menikmati fasilitas seperti rest area. Sebab hingga kini pembangunannya masih terus dikejar. “Dari Weleri keluar tol Pekalongan tarifnya Rp 43 ribu, jika bolak balik berarti kita harus merogoh kocek sebesar Rp 86 ribu. Oleh karenanya, saya sangat keberatan dengan tarif yang sangat mahal ini,” ucapnya dengan nada tinggi.

Ia pun ikut menuntut, agar pemerintah segera menurunkan tarif tol menjadi Rp 500 perkilonya. “Memang kondisi jalan sudah bagus. Namum tarifnya mahal sekali tidak sebanding dengan fasilitas yang kita dapatkan. Di mana rest area hingga saat ini belum selesai pengerjaannya, membuat kita harus keluar jalur Pantura terlebih dulu apabila mau beristirahat,” pungkasnya. (fel)

Facebook Comments