Radar Batang

Duh, Banyak Pekerja Migran Gunakan PJPMI Ilegal

*Minimalisir, Disnaker Gulirkan Program Toko Bahasa

BATANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang tidak hanya menghadapi problem masih tingginya jumlah warga yang mengadu nasib ke luar negeri sebagai pekerja migran. Lebih dari itu, sebagian besar dari mereka juga diduga menggunakan Penyalur Jasa Pekeja Migran Indonesia (PJPMI) ilegal.

Duh, Banyak Mekerja Migran Gunakan PJPMI Ilegal
LATIH – Sebelum memulai program pembinaan wirausaha, PMI di Kedungmalang, Kecamatan Wonotunggal, diberikan aneka pelatihan. NOVIA ROCHMAWATI

Informasi itu disampaikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Dinasker) Batang, Drs H Tulyono MSi, melalui Kabid Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Gandi Windu Nurcahya. Sesuai data dinas, ada lebih dari 5.000 warga Batang yang menjadi pekerja migran di negeri orang. Tetapi dari jumlah itu, tercatat hanya 283 orang yang berangkat menggunakan PJPMI resmi atau melalui Disnaker. Terlebih, jumlah PJPMI resmi di Batang hanya 9 saja.

“Nah, selebihnya para pekerja migran berangkat dengan kemungkinan menggunakan PJPMI ilegal,” ungkapnya, Selasa (12/1).

Untuk menekan angka itu, Disnaker saat ini tengah menggiatkan pembinaan dan pelatihan, khususnya untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sudah purna ataupun pulang ke Indonesia. Seperti dilakukan di Desa Kedungmalang, Kecamatan Wonotunggal, belum lama ini. “Harapannya, setelah diberi pelatihan, mereka bisa mengembangkan usaha di kampung halaman dan tidak menjadi tenaga migran. Apalagi tenaga migran yang disalurkan secara ilegal,” terang Gandi.

Dijelaskan, para PMI itu dibina melalui Program Toko Bahasa. Pelatihan sementara dipusatkan di Desa Kedungmalang, Wonotunggal, yang notabene merupakan basis buruh migran di Kabupaten Batang. “Selain itu, melalui program ini, juga diharapkan dapat mengembangkan potensi lokal Desa Kedungmalang dengan merangkul masyarakat, selain PMI purna dan para remaja desa sebagai kader penggeraknya,” kata Gandi.

Tercatat, saat ini di Kedungmalang terdapat sekitar 200 PMI yang bekerja di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi. Sedangkan buruh migran yang sudah pulang mencapai 100 orang lebih. Rata-rata dari PMI purna tersebut adalah perempuan usia produktif.

PMI purna yang mendapatkan pendampingan, diprogreskan setidaknya memiliki produk. Tahap sekarang tengah menyelaraskan pemikiran antara Pendamping, Kelompok, dan Pihak Desa, seperti mengerucutkan produk yang akan dibranding dan strategi pemasaran serta inovasi.

Selanjutnya membranding produk yang rencananya diciptakan, berupa produk Sale Pisang Aneka Rasa yang merupakan produk biasa yang diinovasi. Misalnya, Sale Pisang Anti Baper, Sale Pisang Anti Galau, Sale Pisang Anti Mainstream, dan Sale Pisang Anti Pati.

Terakhir, membuat “Toko Bahasa”, sebagai strategi marketing dan wisata. Ketika semua elemen seperti SDA, SDM serta Produk-produk sudah siap, maka selanjutnya adalah memanfaatkan potensi PMI Purna yang mampu berbahasa asing seperti Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Mandarin dengan baik.
“Makanya diperlukan upaya untuk memberdayakan PMI Purna agar mereka bisa menjadi penggerak pemberdayaan bagi kaum perempuan di desa, agar tidak menjadikan bekerja di luar negeri sebagai pilihan utama kaum perempuan di desa tersebut,” tukas Gandi.

Sementara pendamping program, Tacik Setianingsih mengatakan, program tersebut akan berjalan setahun penuh. Mulai 11 Januari, pendamping sudah terjun di lapangan, lalu 14 januari terjun wawancara ke PMI purna untuk memetakan siapa saja yang mahir bahasa asing sekaligus menentukan bagian produksi sale. Tanggal 17 Januari warga mendapatkan sosialisasi program dan awal bulan ini mulai dilakukan pelatihan membuat produk sale pisang.

Disela-sela mulai berjalannya program, warga juga distimulus dengan pelatihan pengelolaan limbah dan seni tari. “Harapannya, kita mampu bersinergi dengan program Bupati Batang yaitu Seribu Pemuda Berwirausaha, one village one product, dan menciptakan 1.000 lapangan pekerjaan serta Visit Batang 2022,” pungkasnya. (nov)

Facebook Comments