Radar Kendal

18 Warga Terserang DB, Pemkab Kendal Anggarkan Rp 200 juta untuk Pemberantasan

KENDAL – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) ternyata tak hanya menyerang pada anak-anak. Dalam satu dekade terkahir ini, ada kecenderungan kenaikan proporsi serangan penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu kepada orang dewasa.

Plt Kepala Dinas Dinkes Kendal, Ferinando Rad Bonay

Saat ini, di Kabupaten Kendal ada sebanyak 18 penderita demam berdarah. Jumlah itu tersebar di 11 wilayah, dengan penderita terbanyak ada di Kecamatan Brangsong.

Hal itu dibenarkan Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal, Ferinando Rad Bonay, kepada Radar Pekalongan, Senin (11/2). Kata dia, 18 penderita demam berdarah itu terjadi di bulan Januari hingga Februari 2019. “Bila dibandingkan tahun 2018 di dua bulan yang sama, terjadi penurunan kasus demam berdarah. Tahun lalu hanya ada 8 penderita demam berdarah dan 1 di antaranya meninggal dunia. Sedangkan di dua bulan yang sama tahun 2017 ada 27 penderita demam berdarah,” katanya.

Ferinando menjelaskan, sebanyak 11 daerah yang terdapat kasus demam berdarah, yakni Kecamataan Pageruyung 1 penderita, Kecamatan Patean penderita, Kecamatan Sukorejo 3 penderita, Kecamatan Kaliwungu Selatan 1 penderita, Kecamatan Brangsong 4 penderita, Kecamatan Ngampel 1 penderita, Kecamatan Weleri 1 penderita, Kecamatan Gemuh 1 penderita, Kecamatan Cepiring 1 penderita, dan Kecamatan Patebon 1 penderita serta Kecamatan Kota Kendal 1 penderita.

Terhadap temuan kasus tersebut, Dinkes telah berupaya untuk menekan penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh nyamuk Aides Aigypti tersebut dengan melakukan fogging di daerah yang telah positif terdapat korban demam berdarah. “Sebanyak 18 penderita demam berdarah tersebut semua dirawat di rumah sakit pemerintah dan sawasta serta sudah sembuh,” ungkapnya.

Upaya lainnya, lanjut Ferinando, penanggulangan demam berdarah dengan solusi preventif. Hal itu untuk mengantispasi adanya peningkatan kasus demam berdarah yang terjadi sampai bulan Januari tahun ini. Yakni Puskesmas melakukan upaya preventif promotif melalui penyuluhan dan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui menguras, menutup dan mengubur (3M). Kemudian juga dengan membentuk kawasan bebas jentik dengan memberdayakan sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtida’ (MI), institusi atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan masyarakat.

Selanjutnya, berkoordinasi dengan camat melalui surat untuk menginformasikan kepada kepala desa/kelurahan dan tim penggerak PKK kabupaten untuk menginformasikan ke tim penggerak PKK kecamatan tentang demam berdarah dan kriteria fogging tersebut. “Mengaktifkan jumantik di sekolah dan desa, dengan 1 rumah 1 jumantik. Tahun ini untuk pemberantasan demam berdarah dianggarkan sebesar Rp 200 juta,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes, Muntoha menambahkan, kasus demam berdarah tahun 2017, bulan Januari hingga Desember ada 61 penderita dan 1 di antaranya meninggal dunia. Kasus penderita demam berdarah meninggal dunia di tahun tersebut terjadi pada bulan Juni dengan jumlah 8 kasus demam berdarah.

Sedangkan jumlah kasus demam berdarah pada tahun 2018 sebanyak 33 penderita dan juga 1 di antaranya meninggal dunia. Kasus positif penderita meninggal dunia itu terjadi di bulan Januari dengan sebanyak 8 penderita. Usianya adalah 5 tahun berasal dari Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu. “Untuk tahun ini, Januari hingga jelang pertengahan Februari ada 18 penderita dan semua sudah menjalani perawatan dan sembuh,” jelasnya.

Muntoha menjelaskan, untuk menekan mewabahnya penyakit demam berdarah pihaknya melakukan fogging di rumah warga yang terkena demam berdarah dan lingkungan sekitar dengan radius 100 hingga 200 meter. Kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi jentik nyamuk dan penyuluhan kepada warga. Pihaknya juga memberikan abate di setiap puskesmas dan semua disediakan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Khusus untuk permintaan fogging ada prosedur pengajuannya, yakni ada laporan KDRS tentang kasus DBD dari rumah sakit atau Puskesmas rawat inap, laporan penyelidikan epidemologi dari petugas Puskesmas, ada tambahan 2 atau lebih kasus DBD dalam periode 3 minggu yang lalu.

Prosedur berikutnya, ada tambahan 1 kasus DBD yang meninggal dalam periode 3 minggu yang lalu, ada tambahan 1 kasus DBD dan 3 penderita panas dalam periode 3 minggu serta house indeks (HI) > 5 persen, serta ada 1 kasus DBD dan house indeks (HI) <5 persen.

“Perlu diperhatikan, gejala penyakit demam berdarah itu adalah demam tinggi tanpa sebab dan disertai muntah-muntah. Jika dalam kondisi akut maka akan disusul dengan keluarnya darah lewat hidung atau mimisan,” pungkasnya. (nur)

Facebook Comments