Radar Tegal

Penjual Jamu Gendong Ini Punya Paras Cantik, Kerap Digoda Pria Hidung Belang

Parasnya cantik tidak membuat Dila Mutiara malu untuk berjualan jamu gendong. Perempuan yang baru berumur 23 tahun setiap pagi rela berkeliling dengan berjalan kaki untuk mendapatkan rezeki yang halal. LAPORAN : AGUS WIBOWO

SUASANA di Kota Tegal, pada Sabtu (9/2) pagi, tampak cerah. Sengatan sinar matahari yang menyinari bumi juga menghangatkan badan. Di sela-sela cerahnya matahari, tampak sesosok penjual jamu yang tengah melintas di Jalan Karimunjawa Mintaragen, Tegal Timur.

Penjual Jamu Gendong Ini Punya Paras Cantik, Kerap Digoda Pria Hidung Belang
TETAP SEMANGAT – Dila Mutiara, penjual jamu gendong yang memiliki paras cantik sedang melayani pembeli. AGUS/RATEG

Awalnya, Radar mengira sesosok penjual jamu gendong yang tengah melintas adalah seorang artis yang tengah bermain film, atau seseorang tengah membuat adegan Prank. Namun, ternyata dugaan itu salah. Sebab, bakul jamu gendong yang memiliki paras cantik itu ternyata memang penjual jamu sebenarnya.

Dia adalah Dila Mutiara. Wanita yang tinggal di depan Perumahan Dozen, setiap hari berjalan kaki dan menggendong jamunya. Mulai pukul 06.00 WIB, wanita asal Karanganyar Jatiyoso, Solo, Jawa Tengah itu berkeliling dari tempat tinggalnya ke sekitar Perumahan Pondok Martoloyo hingga Perumnas Nelayan. Dan dalam waktu 1,5 jam, jamunya laku terjual.

”Berjualan jamu gendong memang baru jalan empat bulan ini. Karena sebelumnya saya bekerja di produk kecantikan menjadi Sales Promotion Girl (SPG) di Solo,” terang wanita berhijab kepada Radar.

Dia mengisahkan, pada 2016, dirinya melangsungkan perkawinan dengan Wahyudi, yang kini berjualan siomai. Kemudian pada 2017, dia hamil dan melahirkan seorang putri yang baru berumur 1,5 tahun. ”Setelah melahirkan, pada akhir Desember 2018 saya ikut suami dan kini tinggal di Kota Tegal,” ungkapnya.

Dirinya rela berjualan keliling dengan jamu gendong untuk menambah kebutuhan ekonomi suaminya yang berjualan siomai. ”Apalagi saya tinggal di sini juga ngontrak. Sehingga, mau tidak mau saya pun harus ikut bekerja demi menambah kebutuhan keluarga,” akunya.

Dia mengaku, berjualan jamu gendong keliling kampung awalnya sempat membuat dirinya malu. Namun, dengan tekad dan semangat untuk menambah kebutuhan keluarga, akhirnya rasa malu itu hilang. ”Setiap berjualan, pasti ada yang menggoda. Bahkan, ada yang menggoda dan mengajak saya nikah. Tapi, saya kan sudah punya suami dan anak,” akunya.

Meskipun penghasilan sedikit, dirinya sudah berkomitmen dengan suaminya untuk tetap bersamanya. Dengan demikian, godaan dari para hidung belang itu pun dianggap angin lalu. ”Tiap hari saya keluar rumah jam 06.00 WIB untuk bisa keliling jamu. Alhamdulillah, jam 07.30 WIB, saya sudah bisa kembali ke rumah karena jamu sudah habis,” ujarnya.

Meski berjalan kaki dari rumah Jalan Karimunjawa ke Perumnas Becak jaraknya lumayan jauh, tapi itu ia rasakan sebagai olahraga. Apalagi pagi hari. Ia pun tidak merasakan capek. ”Yang penting semangat dan jangan malu. Karena kalau malu, saya tidak makan mas,” pungkasnya. (*/fat)

Facebook Comments