Radar Kendal

Marak Teror Pembakaran Kendaraan, Jalur Pantura Dijaga Ketat

KENDAL – Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono, menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penjagaan ketat di jalur pantura. Bahkan di beberapa daerah diberi penambahan personil Polri dan TNI. Hal itu menyusul maraknya aksi teror pembakaran kendaraan motor di wilayah Semarang dan Kendal.

Marak Teror Pembakaran Kendaraan, Jalur Pantura Dijaga Ketat
DEKLARASI – Bupati Kendal bersama tiga pilar, kades, lurah, babinsa dan babinkamtibmas membacakan deklarasi dan menyatakan sikap tidak takut pada aksi teror pembakaran kendaraan bermotor. NUR KHOLID MS

Pesan itu disampaikan Kapolda saat memberikan penguatan tiga pilar, dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Pengarahan dan Pembinaan Kamtibmas di Kabupaten Kendal di Pendopo Pemkab, Rabu (6/2).

“Razia-razia di semua jalan-jalan atau akses-akses yang potensi bisa mengungkap pelakuk kita lakukan dengan giat patroli sekala besar gabungan TNI dan Polri. Kekuatan 2/3 pada malam hari dan 1/3 kekuatan pada siang hari,” katanya.

Ditegaskan Kapolda, aksi teror bakar mobil sengaja dilakukan untuk menciptakan keresahan masyarakat. Polri sudah maksimal melakukan upaya pengungkapan, dengan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara profesional untuk mengungkap pelaku.

Untuk diketahui, sejak Desember 2018 hingga Februari 2019, ada sembilan kejadian aksi teror pembakaran kendaraan bermotor di Kabupaten Kendal. Kesembilan kejadian tersebut berada di wilayah hukum Polsek Kaliwungu 3 kejadian, Polsek Brangsong 2 kejadian, Polsek Kota Kendal 1 kejadian, Polsek Cepiring 2 kejadian dan Polsek Rowosari 1 kejadian. Berdasarkan data, aksi pelaku teror rata-rata dilakukan di atas pukul 02.00 WIB.

Dijelaskan, teror sudah berlangsung sejak Desember 2018. Namun kejadian itu ada yang dilaporkan dan tidak dilaporkan. Namun yang pasti, pola teror pembakaran kendaran bermotor sama. Pelaku mengincar kendaraan yang berada di pinggir jalan atau di garasi yang rumahnya berdekatan dengan jalan. Sementara jalannya bukan jalan nasional (pantura), akan tetapi masuk kiri kanan pantura. Tujuannya Supaya pelaku mudah melarikan diri.

“Maksudnya ke dalam itu tidah jauh masuk sampai ke selatan atau sampai utara pantai. Ini saya sampaikan supaya memprioritaskan jalur pantura untuk dijaga,” pintanya.
Pada kesempatan itu, Kapolda juga menjelaskan bahwa pelaku dalam setiap aksi tidak pernah mengambil barang dari tempat kejadian perkara. Artinya, pelaku dalam aksinya tidak ada motif secara ekonomi.

Terkait korban, dari hasil pemeriksaan 9 korban mereka tidak mempunyai musuh. Mereka orang baik-baik, bergaul dan bersosial. Sehingga disimpulkan tujuan aksi adalah ingin membuat resah masyarakat Kendal dan ingin membuat takut sehingga tidak berani keluar rumah dan sebagainya.

Kapolda juga mengungkap sasaran pelaku teror pembakaran kendaraan bermotor. Kata dia, sasarannya bukan dari kalangan menengah ke atas, yang mempunyai penjaga, satpam, dan tembok rumahnya tinggi, serta mobil dan motornya aman di dalam garasi. Sasaran pelaku teror adalah masyarakat menengah ke bawah. Seperti warga yang mempunyai rumah akan tetapi tidak cukup untuk menyimpan mobil, atau punya rumah tapi menyimpan mobil mepet dengan jalan.

“Ini yang jadi sasaran pelakuk teror pembakaran mobil dan sepeda motor. Kemudian tidak punya satpam dan penjaga,” tandasnya.

“Apakah ini akan kita biarkan? Kalau kita tak mau menjaga lingkungan permukiman, maka itulah yang diharapkan pelaku. Tidak ada tujuanya. Tujuan ekonomi tidak ada,” terangnya Condro Kirono.

Dengan terjadinya kasus teror pembakaran ini perlunya dilakukan penguatan tiga pilar, yakni lurah, kades, babinsa dan babinkamtibmas di Kabupaten Kendal.

“Senin (4/2) kemarin, saya dan Pangdam memberikan penguatan tatap muka dengan RT/RW, lurah, camat, walikota di semarang. Hari ini. Setelah di sini, kita akan ke Kabupaten Semarang dan Demak,” ungkap Kapolda.

**Penambahan Personil

Pada kesempatan itu, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono, pelaku sudah beralih tempat. Hal itu setelah Poltabes Semarang bersama dengan TNI selama dua minggu tidak tidur.

“Tiap pukul 00.00 apel, selanjutnya melakukan pengamanan pukul 02.00 hingga 05.00 pagi. Makanya, 1/3 kekuatan digelar di siang hari, sedangkan 2/3 kekuatan digelar di malam hari. Patroli Poltabes digelar sampai menyentuh jalan antar kecamatan, sementara patroli Polsek dan Koramil masuk ke kecamatan menyentuh antar kelurahan dan antar desa. Kemudian harus masuk ke permukiman-permukiman,” terangnya seraya menjelaskan ada lima titik masuk Kota Semarang yang razia.

Setelah lima pintu masuk ditutup, diantaranya Demak dan Ungaran, ternyata pelaku masuk ke Kendal. “Makanya kita lakukan penguatan di Polres Kendal dengan turunkan 200 personil,” timpal Condro Kirono.

Dijelaskan Kapolda, ada kelemahan di setiap tempat kejadian perkara. Yakni, siskamplingnya tidak aktif dan banyak daerah yang tidak ada portal. Selain itu, masyarakat juga diminta melakukan penataan lingkungan terutama akses masuk lingkungan dengan menerapkan “one gate system” dan CCTV.

“Kita penuh keterbatasan. Adalkalanya mengantuk. Makanya teknologi sudah semakin canggih. Sehingga sangat perlu menggunakan CCTV. Nanti kita gandeng telkom. Maping anggota TNI dan polisi yang ada di kelurahan dan desa menata jalan utama di kasih portal dan disipakan CCTV. Setelah itu jadi program masing-masing desa untuk diajukan kepada Muskerdes, atau Muskercam, dan bisa juga ke Muskerkab. Saya sudah bilang sama Pak Ganjar. Pak Ganjar ini ada suatu yang kurang saat membangun insfrastruktur, alangkah baiknya jalan kita ini bisa langsung satu paket ada portal dan CCTV nya,” pungkasnya.

Senada diungkapkan Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, mengatakan, bahwa tugas pertahanan dan keamanan negara merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Dalam sistem Hankamrata di Indonesia, TNI dan Polri sebagai kekuatan utama yang didukung masyarakat. Oleh karena itu setiap warga negara wajib menjaga keamanan di lingkungannya. “Tanpa diminta pun, tiap warga harus ikut menjaga keamanan, karena merupakan kewajiaban,” katanya.

Sementara itu, Bupati Kendal Mirna Annisa telah membuat Surat Edaran tentang Antisipasi Teror Tindak Pidana pembakaran Kendaraan Bermotor yang disampaikan kepada seluruh camat, diteruskan ke seluruh kepala desa, ketua RW dan RT di Kabupaten Kendal. Surat Edaran itu disampaikan untuk menjaga situasi keamanan dan kondusivitas wilayah Kabupaten Kendal serta mengantisipasi teror dan tindak pidana pembakaran kendaraan bermotor.

“Saya menghimbau agar di setiap RT mengaktifkan kembali program-program swadaya masyarakat yang terkait dengan pengawasan dan pengamanan di wilayah masing-masing, seperti siskamling dimulai pukul 24.00 sampai 6 pagi,” katanya.

Kemudian, membuat spanduk MMT bertuliskan Kampung Siaga 1 x 24 jam, siap tanggulangi aksi teror, tamu wajib lapor 1 x 24 jam, mengimbau pengurus masjid, pengelola tempat kos hotel untuk segera melaporkan apabila ada tamu atau pengunjung yang aktivitasnya mencurigakan. Kepada pemilik mobil atau sepeda motor untuk lebih meningkatkan kewaspadaan guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dan bertanggung jawab terhadap aset pribadinya. Setiap jalan lingkungan perumahan untuk mamasang portal dan memberlakukan akses keluar masuk satu pintu.

“Saya minta kepala desa untuk mendata penjual BBM eceran di wilayahnya, kemudian memberikan himbauan agar melaporkan bila ada transaksi pembelian BBM di atas jam 24.00 sampai 06.00 pagi dalam jumlah sedikit. Adanya teror ini, masyarakat tidak boleh takut, tapi harus dihadapi bersama dengan meningkatkan keamanan di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.

Setelah giat koordinasi lintas sektoral Kapolda Jateng dan Pangdam IV/Diponegoro. Bupati Kendal bersama tiga pilar, kades, lurah, babinsa dan babinkamtibmas membacakan deklarasi dan menyatakan sikap tidak takut pada aksi teror pembakaran kendaraan bermotor. Selain itu juga meminta pihak kepolisian dapat mengusut tuntas pelaku aksi teror pembakaran kendaraan bermotor yang sangat meresahkan warga tersebut. (nur)

Facebook Comments