Metro Pekalongan

Masyarakat Kota Pekalongan Cenderung Jajan

Diana Dwi Susanti, Statistisi Ahli Muda BPS Kota Pekalongan

Diana Dwi Susanti, Statistisi Ahli Muda BPS Kota Pekalongan

Hampir setiap pagi di sepanjang jalan baik di kampung maupun perumahan di wilayah Kota Pekalongan, bertebaran orang berjualan nasi keliling atau jual nasi megono di depan rumah. Menjelang siang penjual masakan matang berkeliling dan ibu-ibu rumah tangga sambil menggendong anak segera keluar menghampiri penjual sayur matang. Pegawai maupun karyawan juga tidak mau kalah membawa tentengan sayur matang sepulang kerja untuk menyiapkan menu makan keluarga. Malam hari warung-warung makan juga dibanjiri pengunjung untuk menikmati menu makan malam.

Menurut ibu-ibu setempat, membeli makanan jadi untuk menu makan sehari-hari adalah hal yang sering dilakukan. Selain menghemat tenaga, membeli makanan jadi juga lebih praktis dan menunya bisa berbagai macam jenis. Apalagi di Kota Pekalongan ibu-ibu rumah tangga cukup produktif, mereka biasa bekerja maklon sebagai penyolet batik, njaplak batik, ngrombe atau menjahit konveksi untuk menambah penghasilan keluarga. Terbukti 2016 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Pekalongan untuk perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. TPT tercatat 1,49 persen untuk perempuan dan TPT laki-laki sebesar 5,73 persen. Karena ibu-ibu juga sibuk bekerja maka membeli makanan jadi untuk menu keluarga adalah pilihan yang terbaik.

Makanan jadi adalah makanan yang sudah siap dimakan tanpa ada proses pengolahan lagi seperti roti, biskuit, bakso, mie ayam, nasi rames, sayur matang, ayam goreng, ikan bakar, minuman mineral, es dll. Hasil Susenas 2016 menyatakan pengeluaran terbesar untuk konsumsi makanan di Kota Pekalongan adalah makanan / minuman jadi yaitu sebesar 34,74 persen. Jadi sepertiga lebih pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah untuk membeli makanan/ minuman jadi. Tingginya pengeluaran untuk konsumsi makanan dan minuman jadi dibandingkan komoditi-komoditi makanan lainnya menggambarkan bahwa pola konsumsi penduduk Kota Pekalongan sudah beralih dari makanan yang dimasak di rumah ke makanan dan minuman jadi yang dibeli. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mendorong ibu rumah tangga untuk ikut bekerja membantu suami sehingga tidak bisa menyiapkan makanan di rumah. Dampaknya akan mengakibatkann berkurangnya waktu yang tersedia untuk menyiapkan kebutuhan keluarga. Keadaan jaman “now” ini dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan dan perubahan gaya hidup yang serba ingin praktis dan instan.

Menjual makanan di Kota Pekalongan suatu hal yang menguntungkan pada saat ini. Usaha penyedia makanan dan minuman merupakan salah satu usaha yang cukup menggeliat di Kota Pekalongan. Selama 10 tahun terakhir kategori penyedia makan dan minum meningkat sebesar 16,29 persen dari 8 ribu usaha (SE 2006) menjadi 9 ribu (SE 2016) dan diikuti penyerapan tenaga kerja juga mengalami peningkatan sebesar 21,46 persen. Selain itu kategori penyedia makan dan minuman adalah 3 besar usaha terbanyak yang digeluti di Kota Pekalongan setelah kategori perdagangan dan industri.

Penyedia makan dan minum di Kota Pekalongan menyediakan beragam kuliner. Ada kuliner mahal dan ada kuliner murah. Kuliner murah merupakan salah satu daya tarik ibu-ibu dan mahasiswa untuk tidak masak sendiri. Nasi megono sambel, pagi hari cukup dengan uang Rp2.000 dengan lauk tempe “kemul” istilah di Pekalongan untuk tempe yang digoreng dengan tepung terigu. Siang hari berbagai sayur matang dengan porsi dari Rp2.000 sampai dengan Rp10.000 sudah bisa menikmati makan siang. Bahkan warung kuliner dengan lauk-pauk ayam atau ikan berlomba-lomba menyediakan paket murah.

Rata-rata pengeluaran per kapita untuk konsumsi makanan di Kota Pekalongan sebesar Rp382.437 setiap bulan. Untuk pengeluaran makanan jadi sebesar Rp132.849 per kapita/ bulan. Artinya setiap orang di Kota Pekalongan selama satu bulan rata-rata mengeluarkan uang untuk makanan jadi sebesar Rp132.849 atau Rp4.428 per hari.

Fenomena tingginya konsumsi makanan/minuman jadi tentu dapat berdampak positif atau negatif pada pola konsumsi makanan dan kesehatan rumah tangga. Pemilihan makanan sehat dan bergizi tergantung pada pengetahuan pangan dan gizi ibu-ibu rumah tangga. Dengan mengkonsumsi makanan jadi akan berdampak positif bagi kesehatan anggota rumah tangga, asal dalam pemilihan jenis makanan tetap memperhatikan pola makanan sehat. Penyediaan makanan rumah tangga melalui makanan jadi jelas akan menghemat waktu, praktis, mudah dalam persiapan dan mudah diperolehnya. Namun dari sisi negatif, terutama dikaitkan dengan adanya bahan makanan tambahan yang berbahaya, faktor kebersihan makanan dan penggunaan bahan lainnya yang kurang higienis, seperti menggoreng makanan dengan menggunakan minyak goring yang sudah kotor (coklat tua). Kesemuanya ini berdampak pada kemungkinan terjadinya keracunan makanan.

Bagaimanapun kesehatan keluarga sangat penting untuk dijaga. Untuk apa bekerja seharian jika taruhannya adalah kesehatan anggota keluarga tercinta. Semua tergantung pada ibu sebagai tombak utama dalam pemilihan makanan yang dikonsumsi keluarganya. Ibu cerdas akan memilih makanan yang sehat dan bergizi tinggi untuk dikonsumsi keluarga. (*)

Penulis: Diana Dwi Susanti, Statistisi Ahli Muda BPS Kota Pekalongan

Facebook Comments