Radar Tegal

KA Joglosemarkerto Sambar Pikap, Dua Tewas

DITONTON WARGA – KA Joglosemarkerto terhenti usai menghantam mobil pikap bermuatan genset, kemarin. Insiden itu menjadikan warga sekitar berdatangan untuk melihat kondisinya. HERMAS PURWADI / RADAR SLAWI

Kecelakaan maut kembali terjadi di perlintasan sebidang rel Kereta Api (KA) tanpa palang pintu Kabupaten Tegal. Kali ini, KA Joglosemarkerto menyambar mobil pikap pengangkut genset bernopol B 9560 BAL di perlintasan Dukuh Langon, Desa Kudaile, Kecamatan Slawi. Insiden yang terjadi Selasa ( 22/1) sekitar pukul 12.00 WIB tersebut mengakibatkan dua nyawa melayang.

Dari informasi yang dihimpun, insiden bermula saat pengemudi pikap berupaya melintasi perlintasan dan tidak mengetahui ada KA Joglosemarkerto meluncur. Alhasil, mobil berwarna hitam itu terseret sekitar 600 meter hingga masuk di wilayah Desa Harjosari Kidul, Kecamatan Adiwerna.

Kapolres Tegal, AKBP Dwi Agus Prianto SIK MH, melalui Kasat Lantas AKP M Adiel Aristo menyatakan, ada dua korban tewas dalam insiden kali ini. Identifikasi awal di TKP ada dua orang tewas. Yakni pengemudi yang diketahui bernama Bambang Sugito, 40, warga Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Brebes dan penumpang mobil yang belum diketahui identitasnya. ”Korban pengemudi pikap dan satu penumpang mengalami luka serius dan meninggal di TKP. Jenazah keduanya langsung dievakuasi menuju RSI Muhammadiyag Singkil Adiwerna,” katanya kemarin.

Akibat kecelakaan itu, KA Joglosemarkerto sempat tertahan karena menunggu evakuasi korban dan mobil pikap yang melintang di atas rel. Kemacetan juga terjadi di ruas jalan dua karena banyaknya warga yang menonton.

Adiel mengaku, masinis KA Joglosemarkerto No.Loko : CC-2018316 itu teridentifikasi bernama Eko Purwanto, 30, asal Banyumas. ”Mobil pikap tersebut sempat meluncur dari arah barat ke timur. Saat melintasi TKP, dia tertabraak KA Joglosemarkerto yang melaju dari arah selatan ke utara,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dishub Kabupaten Tegal, Abdul Honi, melalui Kasi Perkereta Apian Muhajir menyatakan, upaya memasang banner kewaspadaan di perlintasan sebidang tanpa palang pintu mulai dilakukan sejak awal pekan lalu. ”Saat ini ada sekitar 54 perlintasan sebidang yang belum berpalang pintu. Untuk Daop IV lintasan terbentang di wilayah pantura dan Daop V ada perlintasan yang ada rata- rata sudah berpalang pintu,” terangnya.

Pemasangan banner kewaspadaan di wilayah Pantura difokuskan di kawasan Suradadi, Purin, Larangan, dan Munjungagung. ”Kami berupaya mendorong peran pengelolaan perkereta apian berbasis masyarakat bisa menjalankan perannya secara maksimal. Baik itu dari tenaga linmas desa atau pemuda desa yang peduli terhadap keselamatan warga yang tinggal di perlintasan tanpa palang pintu,” ungkapnya.

Terkait masih banyaknya lintasan kereta api tak berpalang pintu, pihaknya mengaku menunggu realisasi wacana dari Dishub Provinsi yang akan membantu pengadaan sinyal otomatis untuk mengganti keberadaan petugas yang tidak ada. Dimana sinyal otomatis itu akan berbunyi sekitar 200 meter dari lintasan apabila ada kereta api yang akan melintas.

Dari jumlah total lintasan tak berpalang pintu sempat diprioritaskan 28 lintasan untuk segera dipecahkan. Dengan minimnya anggaran yang dimiliki pemkab, prioritas tersebut sempat dirumuskan menjadi super prioritas, yakni 12 lintasan yang mendesak agar bisa dilengkapi palang pintu. Khususnya, dijalur double track yang banyak terdapat di jalur Pantura.

Pihaknya mengakui sempat melakukan pemasangan lampu kedip, sekaligus papan peringatan di lintasan tak berpalang . Dia mengaku, memang dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit untuk menyediakan palang pintu di lintasan tanpa palang. Ini menyangkut biaya untuk tenaga penjaga pintu. Dimana kabupaten memiliki kawasan yang luas, sehingga alokasi untuk pengadaan dana petugas palang pintu harus menunggu keluasan anggaran yang ada. (her/fat)

Facebook Comments