Radar Batang

Ngombe Kopi ala Batang, Pengusaha sampai Praktisi Dihadirkan

BATANG – Dilaunching sejak malam pergantian tahun lalu, acara Ngombe Kopi alias Ngomong Bebas Karo Bupati Wihaji dan Suyono akhirnya berhasil dilaksanakan perdana dengan kreatif di kawasan Minggon Jatinan Hutan Kota Rajawali (HKR) Batang. Mengusung tema 1.000 cangkir Kopi 1.000 Pengusaha Muda Baru, Bupati Wihaji bahkan menghadirkan pengusaha, praktisi, dan pegiat komunitas kopi untuk berbagi ilmu dengan warganya.

DIALOG – Bupati Batang Wihaji berdialog dengan masyarakat dan para narasumber yang dihadirkan dalam acara “Ngombe Kopi”, kemarin. Wabup Suyono dan segenap pejabat eselon juga ikut hadir di acara perdana tersebut. M DHIA THUFAIL

Sesuai tema, acara lanjutan dari Ngudo Roso itu ditandai dengan pembagian 1.000 cup kopi gratis kepada ribuan pengunjung Minggon Jatinan. Memanfaatkan ribuan pengunjung yang menikmati sensasi Minggon Jatinan, acara Ngombe Kopi pun sukses mencuri perhatian yang hadir.

“Program baru ini kita gunakan sebagai wadah masyarakat untuk ngomong bebas kepada Bupati dan Wakil Bupati. Akan tetapi, berbeda dengan program yang sebelumnya, untuk program kali ini kita buat tematik. Dengan begitu masyarakat bisa menyampaikan aspirasi atau mengeluarkan unek uneknya sesuai tema yang diangkat dalam pertemuan itu,” terang Bupati Wihaji.

Beberapa narasumber yang dihadirkan pun tak main-main, yakni mereka yang memang kompeten dan punya riwayat sukses di bidangnya. Seperti Jasmine, Mahasiswi ISI asal Denpasar Bali yang suskses dengan usahanya memproduksi kain endek khas Bali. Kemudian Zainal Arifin, seorang petani kopi sekaligus supplier asal Temanggung, lalu Steven Low Ketua tim dewan pakar kopi Indonesia dan Teguh Ariyanto Pengusaha sekaligus Direktur LSM londsum dan Pakar Sosial.

Menurut Wihaji, program Ngombe Kopi akan dilaksanakan setiap dua minggu sekali, dengan tempat dan tema yang berbeda beda. “Acara ini sedikit berbeda dengan “Ngudo Roso”, di mana program “Ngudo Roso” kemarin lebih pada masyarakat yang meminta anggaran untuk perbaikan dan lain sebagainya. Kalau program baru ini cenderung lebih solutif, memberikan solusi tetapi tidak hanya masalah an sich permintaan, melainkan juga kita hadirkan para pelaku, pemerhati maupun regulatornya,” katanya.

Ia berharap, apa yang sudah dihadirkan di program Ngombe Kopi itu bisa ditindaklanjuti. Dengan cara itu, Program Batang untuk menciptakan 1.000 wirausaha muda baru di Kabupaten Batang bisa teralisasi.

Sementara itu, Rifani Suryanto, pengusaha Kopi dari Batang menyampaikan, program Ngombe Kopi merupakan kegiatan yang luar biasa, karena bisa dijadikan sebagai media untuk mengenalkan produk kopi lokal ke masyarakat.

“Memang temanya berbeda-beda setiap sesionnya, jadi lebih menarik untuk diikuti. Selain itu, juga melibatkan 18 pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Batang, sehingga masyarakat atau pelaku UMKM yang memiliki permasalahan, dengan mengikuti kegiatan ini mereka akan dapat solusinya,” jelas salah satu perintias komunitas kopi di Batang itu.

Lanjut Rifani, pada kegiatan tersebut pihaknya mendatangkan kopi dari petani Batang, seperti kopi Robusta dan Arabika yang merupakan produk unggulan. “Kopi di Batang berdasarkan tanamannya ada 800 ribu, satu Ons Robusta kita jual Rp 25 ribu, Arabika Rp 35 ribu,” bebernya.

Mengenai penjualan produk kopi asal Kabupaten Batang itu sendiri, kata dia, sudah sampai ke seluruh pulau Jawa dan Luar Jawa. “Per bulan Juni nanti, kita bahkan sudah mulai ekspor ke Singapura. Dalam satu tahun kita sanggupi mengirim 12,5 ton kopi, yang dalam satu bulan kita mampu kirim 1 ton Kopi. Sedang untuk pengiriman ke lokal dalam waktu sebulan, kita mampu mencapai 30 ton,” pungkasnya. (fel)

Facebook Comments