Features

Kisah Pengantin yang Tertipu WO, Sempat ‘Berburu’ Makanan ke Restoran

*Tak Ada Makanan Tersaji, Terpaksa Minta Maaf ke Tamu Undangan

APS (kiri) didampingi kuasa hukumnya saat melaporkan penipuan Wedding Organizer ke Mapolresta Palembang, Senin (14/1). (Alwi Alim/ JawaPos.com)

Momen pernikahan sejatinya disambut dengan suka cita. Biasanya segala kebutuhan mulai undangan, gedung resepsi, suvenir, hingga katering, sudah dipersiapkan sedari awal. Namun sebuah pesta pernikahan yang dihelat di Palembang justru berujung kekecewaan. Ribuan tamu undangan tidak mendapat santap siang gara-gara tertipu Wedding Organizer (WO).

Alwi Alim, Palembang

Malu, kecewa, sedih, perasaan itu bercampur aduk di dalam diri APS (korban minta namanya disamarkan). Impiannya untuk menggelar hajatan pernikahan yang indah sudah sirna. Pesta pernikahannya memang bakal berkesan seumur hidupnya. Namun bukan kesan baik yang membekas dalam memorinya.

Perempuan berusia 27 tahun itu harus menanggung malu. Bahkan saat bertemu dengan JawaPos.com di Mapolresta Palembang, APS enggan difoto. Bayang-bayang pesta pernikahannya terus mengahantuinya.

5 Januari lalu, APS melangsungkan resepsi pernikahan dengan suaminya, FW. Dia menggunakan jasa WO milik RIY alias Uut. APS mengenal Uut dari teman kuliahnya. Rekannya itu merekomendasikan agar APS menggunakan jasa WO milik Uut. Pasalnya, WO tersebut sudah lama berdiri, cukup tersohor, dan punya banyak pelanggan.

Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, perempuan yang tinggal di kawasan Sako, Palembang itu sepakat menggunakan jasa WO Uut. WO tersebut meng-handle prosesi akad hingga resepsi.

APS dan FW sudah memesan gedung sejak jauh-jauh hari, yakni pada 28 Juni 2018. Keduanya juga sudah membayar uang muka Rp 10 juta sebagai bagian dari kontrak kerja sama. Bisa dibayangkan, bagaimana matangnya persiapan kedua mempelai tersebut untuk merancang pesta pernikahan yang diimpi-impikan.

“Kontrak kerja sama ini mulai akad nikah hingga resepsi pernikahan,” beber APS kepada JawaPos.com, Senin (14/1).

Awalnya, WO Uut itu sebenarnya sudah tampak serius. Keseriusan itu terlihat saat pihak WO mendatangi rumah orang tua APS di kawasan Kecamatan Alang-Alang Lebar, Palembang. Saat itu mereka mempersiapkan akad nikah hingga resepsi.

Beberapa barang telah dititipkan di kediaman orang tua APS. Salah satunya adalah gaun pengantin.

Tak pernah sedikit pun terbesit rasa curiga dalam benak APS terhadap WO Uut. Hingga akhirnya, Uut meminta APS dan FW membayar lunas kerja sama tersebut. Alasannya, WO butuh segera melunasi uang gedung yang dipakai untuk resepsi.

“Nah, mulai saat itu kami mulai curiga. Jadi untuk mengantisipasi ha-hal yang tidak diinginkan, kami meminta KTP pemilik WO (Uut),” tambahnya.

Tepat pada 26 Desember 2018, APS melunasi sisa uang kerja sama. Sesuai dengan permintaan Uut. Sejak pelunasan tersebut, pemilik WO masih terlihat menjalankan tugasnya. Mulai menghiasi mobil pengantin dengan aneka ragam bunga, menata gaun, dan lain sebagainya, Semuanya beres hingga menjelang prosesi akad nikah tanggal 4 Januari.

Bahkan, dekorasi gedung juga sudah siap. Tiba akhirnya pada momen resepsi di Gedung Sukaria di Lemabang, Palembang, 5 Januari lalu. Kala itu, Uut masih sempat menunjukkan batang hidungnya. Namun dia tidak bisa lama mengawal resepsi itu karena beralasan ada barang yang tertinggal. Uut pamit pulang.

Selanjutnya, pukul 09.00 WIB, para tamu undangan mulai berdatangan. Saat itulah keluarga mulai panik. Mereka sama sekali tidak melihat adanya makanan yang tersaji di atas meja. Cuma peralatan makan seperti piring, sendok, dan panci, yang terlihat.

Pihak keluarga berusaha menelepon Uut. Telepon sempat dijawab. Uut mengatakan bila makanan sedang dimasak. Namun tak lama berselang, handphone Uut sudah tidak aktif.

Saking paniknya keluarga kedua mempelai, jam makan siangpun sampai diulur. Keluarga sampai menyiasati agar para tamu tak kecewa. Dengan mengulur waktu makan siang, mereka bisa memesan makanan dari restoran.

Beberapa anggota keluarga APS dan FW menyebar untuk ‘berburu’. Mereka pontang-panting mendatangi berbagai macam restoran. Celakanya, tak ada satupun rumah makan yang sanggup menyiapkan seribu porsi makanan dalam tempo hanya satu jam.

Dengan berat hati, keluarga menyerah. Mereka harus meminta maaf kepada para tamu undangan karena tidak dapat menyajikan hidangan pernikahan.

“Kami terpaksa mengumumkannya. Beruntung tamu dapat memaklumi kondisi ini,” ujar APS.

Tak hanya sepasang pengantin yang dikibuli oleh Uut. Rupanya Uut juga tidak membayar jasa fotografer, gaun pengantin, mobil, hingga tenda. Mereka belum menerima uang sepeserpun. Padahal, di dalam kerja sama disebutkan bahwa pengantin membayar biaya pernikahan secara keseluruhan.

Mereka kemudian meminta barang yang telah dipakai pengantin untuk dikembalikan. APS, dengan terpaksa mengembalikan semua pernak-pernik pernikahannya kepada pemilik

Usai hajatan, APS mendatangi rumah Uut untuk meminta pertanggungjawaban. Alih-alih bertemu, Uut malah pergi dari rumah bersama anak-anaknya. Dia lenyap bak ditelan bumi. Kini dia jadi buronan Polresta Palembang.

“Ibunya bilang, dia (Uut) sempat pulang tapi pergi lagi dengan anaknya. Setelah itu tidak pernah pulang lagi. Teleponnya juga nggak aktif lagi,” tutur APS.

Perempuan berkulit kuning langsat itu sebenarnya menunggu itikad baik dari Uut. Namun, Uut tak kunjung muncul. Hingga akhirnya APS melaporkan penipuan itu ke Mapolresta Palembang. Dia juga sudah menunjuk kuasa hukum.

“Jadi kami sudah laporkan kejadian ini ke polisi untuk mencarinya,” singkatnya. (jawapos)

Facebook Comments