Metro Pekalongan

Data Pengangguran di Kota Pekalongan, Darimana Asalnya?

Pengangguran di Kota Pekalongan pada tahun 2017 mencapai angka 5,05 persen. Artinya, dari 100 orang angkatan kerja (penduduk usia 15 tahun atau lebih), terdapat sekitar 5 orang yang menganggur. Angka pengangguran yang biasa disebut sebagai angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ini, dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja, yang dinyatakan dalam persentase.

Nurul Kurniasih, S.ST, Fungsional Statistisi Muda di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan
Nurul Kurniasih, S.ST, Fungsional Statistisi Muda di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan

Penduduk yang disebut sebagai pengangguran terbuka adalah mereka yang tak punya pekerjaan dan mencari pekerjaan, mereka yang tak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha, mereka yang tak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan serta mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.

Bila ditinjau menurut jenis kelamin, TPT laki-laki di Kota Pekalongan ternyata lebih besar dari perempuan. TPT laki-laki sebesar 5,43 persen dan TPT perempuan sebesar 4,48 persen. Angka tersebut berarti bahwa dari 100 orang angkatan kerja laki-laki terdapat sekitar 5 orang yang menganggur, sedangkan dari 100 orang angkatan kerja perempuan ada sekitar 4 orang yang menganggur.

Darimana angka pengangguran tersebut didapatkan?

Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) diperoleh dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Survei ini dirancang khusus untuk memperoleh data yang dapat menggambarkan keadaan umum ketenagakerjaan antarperiode pencacahan. Sakernas dilaksanakan setiap 6 bulan sekali atau semesteran dengan tujuan menyediakan data pokok ketenagakerjaan yang berkesinambungan.

Secara khusus, tujuannya adalah untuk memperoleh informasi data jumlah penduduk yang bekerja, pengangguran dan penduduk yang pernah berhenti/pindah bekerja serta perkembangannya di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional.

Sakernas semester I dilakukan pada bulan Februari dengan sampel sebanyak 5.000 blok sensus yang mencakup 50.000 rumah tangga di seluruh Indonesia, untuk menghasilkan estimasi level provinsi. Sedangkan Sakernas semester II dilakukan pada bulan Agustus dengan sampel sebanyak 20.000 blok sensus di seluruh Indonesia yang mencakup 200.000 rumah tangga, untuk menghasilkan estimasi level kabupaten/kota.

Pada tahun 2019 ini, Sakernas di Kota Pekalongan akan dilakukan dua kali yaitu pada bulan Februari untuk semester I dan Agustus untuk semester II. Untuk pelaksanaan Sakernas Februari 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan akan menerjunkan 13 petugas yang terdiri dari 9 petugas pencacah (PCS) dan 4 petugas pengawas&pemeriksa (PMS).

Petugas pencacah seluruhnya adalah non pegawai BPS Kota Pekalongan, melainkan mitra yang telah mengikuti proses perekrutan dan seleksi. Sementara itu, untuk petugas pengawas&pemeriksa merupakan pegawai BPS Kota Pekalongan itu sendiri. Baik petugas pencacah maupun petugas pengawas&pemeriksa nantinya akan mengikuti pelatihan sebelum diturunkan ke lapangan untuk mendata, mewawancarai responden door to door ke rumah-rumah warga yang menjadi sampel Sakernas. Pada Februari 2019 ini akan ada sebanyak 15 blok sensus yang mencakup 150 rumah tangga sampel yang akan didata.

Oleh karena itu, diharapkan dukungan dari segenap warga masyarakat Kota Pekalongan untuk turut mensukseskan pelaksanaan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Warga diharapkan bersedia untuk menerima kehadiran petugas dan memberikan jawaban dari pertanyaan yang disampaikan dengan sejujur-jujurnya. Jawaban benar dari warga yang menjadi responden, nantinya akan menentukan kualitas data ketenagakerjaan di Kota Pekalongan. Dengan data yang benar, maka pemerintah Kota Pekalongan akan dapat membuat kebijakan terbaik untuk masyarakat di bidang ketenagakerjaan. (*)

Facebook Comments