Siapkan Regulasi Anak Putus Sekolah Wajib Ikut Kejar Paket

by
Wakil Bupati Suyono saat menjadi narasumber pada acara FGD. (dok istimewa)

BATANG – Setiap anak yang putus sekolah, diusulkan agar diwajibkan mengikuti kejar paket, sehingga mereka tetap bisa mendapat pendidikan. Disisi lain, Tutor atau pengajar kejar paket diharapkan bisa mendapat bantuan operasional.

Kedua usulan tersebut disampaikan oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Batang Siti Ismusaroh saat digelar Fokus Group Discussiun dengan tema Upaya Peningkatan Indeks PembangunanManusia ( IPM ). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Bapelitbang Kabupaten Batang diikuti oleh Kepala Sekolah dan Kepala OPD di Kabupaten Batang, Selasa (8/1).

“Pemda kami harapkan mempunyai regulasi yang mengatur anak putus sekolah wajib mengikuti kejar paket. Selain itu, juga adanya bantuan operasional bagi tutor kejar paket,” usul

Usulan tersebut rupanya langsung mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Batang, Suyono yang hadir pada acara tersebut. “Usulan Wacana regulasi bagai anak putus sekolah untuk wajib ikut kejar Paket akan kami tindak lanjuti,” katanya.

Suyono menjelaskan, seorang anak putus sekolah bisa disebabkan karena kamauan dan kemampuan. Oleh karena itu, menjadi tugas bersama semua pihak untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar anak yang putus sekolah bisa berminat kembali.
“Tugas kita bersama mensosialisaikan, terutama dinas pendidikan untuk mengejar siswa putus sekolah agar berminat kembali untuk sekolah di kejar paket ataupun sekolah diformal lainya. Dan hal itu juga untuk mengejar peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM),” jelas Suyono.

Untuk pemberian honor bagi tutor kejar paket, lanjut Wabup, akan dicarikan solusi terbaiknya. Mengingat Bantuan Operasional Sekolah tidak boleh untuk memberikan honor, dan kejar paket masuk dalam sekolah formal.
“Akan kita pikirkan regulasinya yang tentunya tidak boleh bertentangan dengan aturan diatasnya,” lanjut Suyono.

Sekda Batang Nasikhin yang ikut dalam FGD tetsebut juga mengatakan jika di Jawa Tengah ada Program Nginceng wong meteng, di Batang juga berjalan program yang hampir sama. Namun di Batang tujuannya untuk mengurangi angka putus sekolah yang harapanya setelah SD masuk SMP selanjutnya SMA dan perguruan tinggi.

“Kalau dulu anak putus sekolah namanya bocah tembeng, maka kita punya program nginceng bocah tambeng sengkuyung bareng men sekolah rasaneng seneng,” tandas Nasikhin. (rls/red)