Features

Tiwi Wati, Wanita Tergemuk di Kalteng Berbobot 350 Kg Lebih

OBESITAS: Tiwi Wati memperlihatkan foto dirinya saat masih langsing. (DODI/RADAR PALANGKA/Jawa Pos Group)

Tiwi hanya bisa memandangi foto dirinya beberapa sepuluh tahun silam. Saat usianya masih 27 tahun, badannya masih ideal. Rambut yang terurai panjang menambah manis penampilannya. Idaman para pria.

Foto itu hanya tinggal kenangan. Badannya sedikit demi sedikit membesar. Pada 2013 lalu, berat badannya tercatat 167 kilogram (kg). Bobotnya terus bertambah hingga dan kini mencapai 350 kf.

Kondisi itu membuat Ibu dari Herliana, 19, tertsebut tak lagi bisa berjalan. Sudah enam tahun ini dia hanya tengkurap. Sesekali berbaring ke kiri dan ke kanan. Seluruh aktivitasnya dihabiskan di satu tempat, baik mandi, tidur, makan, minum, bercengkrama, dan lainnya.

“Sudah enam tahun lebih saya hanya bisa tengkurap. Hanya sesekali tidur. Itu pun tak lama. Kini mungkin berat badan saya lebih dari 350 kilo dan tidak pernah timbang badan. Saya berharap ada perhatian dari pemerintah untuk mengatasi hal ini,” tutur Tiwi yang akrab disapa Mama Gendut ini, dikutip dari Radar Sampit (Jawa Pos Group), Selasa (8/1).

Tiwi ingin badannya kembali seperti semula. Agar bisa kembali berjalan. “Awalnya dulu nggak seperti ini. Sejak umur 29 sudah mulai gemuk,” katanya sambil tersenyum.

Wanita itu tak tahu penyebab dia bisa segemuk itu. Hanya saja, dulu, dia sering ngemil gorengan, sedikit makan nasi, dan sering minum es. Kebiasaan itu sudah dikurangi agar tidak semakin gemuk.

“Dulu pernah juga mengonsumsi herbal. Sebulan dua bulan bisa beli, tapi seterusnya nggak bisa. Kini cepat lelah. Bangun tidur napas sesak dan terasa ngilu di kaki dan tangan. Rebahan tak bisa lama juga. Biasanya harus tengkurap,” uarnya.

Tiwi menuturkan, setiap malam dia tidur sekitar pukul 24.00 WIB dan bangun saat dini hari. Hari-hari istri dari Edi (52) itu diisi dengan bercengkrama bersama keluarga, nonton televisi, dan karaoke.

Dia mengaku tak pernah memeriksakan dirinya ke dokter. “Tidak pernah melakukan pengobatan atau cek ke dokter dan rumah sakit. Kata suami saya ambil hikmahnya saja dan syukuri keadaan yang sudah diberikan Tuhan. Mau bagaimana lagi. Ini sudah nasib keluarga kami,” tuturnya.

Tiwi merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dari semua saudaranya, hanya dirinya yang mengalami kondisi demikian. “Dulu pernah minder, tetapi sekarang sudah menerima dengan ketulusan,” katanya.

Sang anak, Herlina, berharap pemerintah serta para dermawan bisa mengulurkan bantuan untuk mengembalikan kondisi ibunya. “Kami pasrah dengan kondisi perekonomian kami yang tidak mampu untuk melakukan pengobatan ibu,” pungkas Herlina.

Facebook Comments