Pengoplos dan Penjual Krim Pemutih Ilegal Dibekuk

by
Jumpa pers penangkapan pengoplos dan penjual kosmetik ilegal. RADAR BANYUMAS

Jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Purbalingga berhasil menangkap pengoplos dan pengedar kosmetik ilegal, berupa krim pemutih, Kamis (3/1) petang. Polisi meringkus Dra (23) dan P (29), warga Purbalingga yang tinggal di Perum Griya Perwira Asri 2 Blok A2, Desa Babakan, Kecamatan Kalimanah.

Jumpa pers penangkapan pengoplos dan penjual kosmetik ilegal. RADAR BANYUMAS

Pasangan suami isteri, yang memiliki KTP dengan alamat Kelurahan Purbalingga Kulon RT 3/RW 1, Kecamatan Purbalingga, itu diduga sebagai pengoplos pengedar kosmetik ilegal berupa pemutih kulit, yang diberi merek Suntik Putih Purbaligga.

“Kosmetik yang diedarkan oleh pelaku, berupa pemutih kulit berupa hand body lotion dan obat pemutih yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Pelaku menggunakan jasa perawat untuk melakukan penyuntikan obat pemutih tersebut,” jelas Kapolres Purbalingga, AKBP Kholilur Rohman dalam jumpa pers di Mapolres Purbalingga, Jumat (4/1) siang.

Berdasarkan keterangan, pelaku mengoplos sendiri kosmetik oplosan dan mengedarkan kosmetik ilegal tersebut, namun tidak mempunyai ijin dari Dinas Kesehatan atau BPOM. Selain menjual, tersangka juga membuka praktek kecantikan dengan kosmetik oplosan tersebut di rumahnya.

Tersangka memperoleh barang-barang tersebut secara online. Sedangkan bahan lain untuk oplosan dibeli di toko biasa. Bahan-bahan itu dioplos dan diedarkan sebagai obat pemutih kulit.

Berdasarkan pengakuan, kedua tersangka sudah melakukan kegiatan tersebut setahun terakhir. Rata-rata tiga pasien per pekan, yang datang ke rumah tersangka yang digunakan sebagai tempat praktek.

“Mereka sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat Purbalingga. Rupanya warga tidak tahu mereka tidak mempunyai izin untuk praktek perawatan kesehatan,” tambahnya.

Ketika dimintai keterangan, tersangka mengaku, konsumennya rata rata ibu ibu rumah tangga dan pemandu lagu. Tersangka mengaku mematok tarif Rp 300 hingga Rp 500 ribu, untuk sekali perawatan.

Tersangka, juga melayani tindakan infus whitening dengan menggunakan perangkat infus berupa spet (suntikan), infus set (selang infus), abocat, kapas alkohol, serta plester (cairan NACL dicampur dengan serbuk pure glutathione 800 mg).

Tersangka juga menjual produk kosmetik ilegal bermerek ‘Suntik Pemutih Purbalingga’ yang dioplos dan dimasukkan kedalam botol secara online sekitar Rp 80 hingga Rp 100 ribu. Dalam sepekan, tersangka bisa menjual dua tiga botol. Kosmetik itu dijual keluar kota hingga ke Jogjakarta, Bogor dan Purwokerto.

Selain mengamankan tersangka, polisi juga mengamankan barang bukti berupa delapan botol plasenta dan body lotion merk plasenta, 14 botol berlebel Suntik Pemutih Purbalingga dan seperangkat alat infus whitening.

Kedua tersangka dijerat pasal 197 Undang -undang Nomor 37 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Tersangka diancaman pidana penjara 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 milyar. (tya)