Ingat, Relawan Kemanusiaan Dituntut Serba Bisa

by
Ingat, Relawan Kemanusiaan Dituntut Serba Bisa
PAPARKAN MATERI - Salah seorang pemateri tengah menyampaikan materi kepada calon KSR PMI Kendal yang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). AKHMAD TAUFIK

KENDAL – Sebanyak 30 calon KSR PMI Kendal mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) KSR yang digelar selama tiga hari, Minggu sampai Selasa (23-25/12) di Lapangan Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu. Dari kegiatan tersebut diharapkan lahir relawan tangguh yang mau berkorban untuk kemanusiaan.

Ingat, Relawan Kemanusiaan Dituntut Serba Bisa
PAPARKAN MATERI – Salah seorang pemateri tengah menyampaikan materi kepada calon KSR PMI Kendal yang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). AKHMAD TAUFIK

Calon Korps Sukarelawan (KSR) tersebut sebagian besar dari lulusan SLTA dan mahasiswa. Lantaran cuaca hujan, pembukaan kegiatan dan pemberian materi dilakukan di dalam tenda besar.

Ketua PMI Cabang Kendal, dr Budi Mulyono mengatakan, tenda merupakan rumah kedua bagi relawan. Sebab dalam menjalankan tugas penanganan bencana, tenda merupakan tempat untuk tidur dan beristirahat. Tenda juga untuk mengamankan barang-barang dan peralatan supaya tidak rusak, terutama ketika hujan, sehingga tetap bisa digunakan.

“Karena hujan, maka kegiatan ini cukup dilakukan di dalam tenda. Karena sebagai relawan itu harus bisa nyaman di tenda yang merupakan rumah bagi relawan ketika bertugas,” katanya.

Budi mengatakan, kegiatan perekrutan itu untuk mencari generasi relawan yang tangguh dan mau berkorban untuk kemanusiaan. Pasalnya, jika ingin menjadi sukarelawan, maka harus benar-benar menjadi sukarelawan yang tanggap.

Dikatakan, Idonesia termasuk negara yang rawan bencana, karena letak geografi yang meliputi laut, gunung, dan berada di atas lempeng bumi. “Jadi, mari bersama dengan PMI untuk peduli dalam tugas kemanusiaan, terutama ketika ada kejadian bencana, bisa banjir, tanah longsor, sunami atau gempa bumi,” ajaknya.

Lanjut Budi, sebagai relawan dituntut bisa melaksanakan segalanya yang dibutuhkan dalam penanganan bencana, mulai cara menolong korban sampai dapur umum. Agar semuanya bisa tertangani dengan baik, maka harus ada pengaturan atau manajemen bencana, sehingga tidak ada tugas yang tumpang tindih, sementara ada yang tidak tertangani.

“Jadi, dalam membantu bencana itu tidak asal membantu, tapi perlu ada spesifikasinya, sehingga semuanya bisa ditangani dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Markas PMI Kendal, M Nur Fatoni mengatakan, materi yang diberikan selama tiga hari, mulai pagi sampai malam, tidak hanya pemberian materi, tapi juga dilakukan praktek langsung seperti ketika bertugas di lapangan.

“Selain pemberian materi juga praktek langsung, mulai cara memberikan pertolongan pertama korban bencana, cara mendirikan tenda, mengoperasikan alat radio komunikasi, termasuk cara memasang antena hingga penanganan dapur umum,” katanya.(fik)

PENULIS: AKHMAD TAUFIK