Features

Kisah Pak Yono, Musafir dari Kalsel untuk Hadiri Maulid di Habib Luthfi

WAHYU HIDAYAT
MUSAFIR – Sudaryono alias Pak Yono (66), musafir dari Kalimantan Selatan jauh-jauh datang ke Kota Pekalongan mengendarai sepeda motor hanya untuk menghadiri acara Maulid Nabi di Kanzus Sholawat Habib Luthfi bin Yahya, kemarin (16/12).

*Sendirian Naik Motor, Sudah Lima Hari di Pekalongan

Sudah lazim, puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Habib Luthfi bin Yahya di Gedung Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan setiap tahunnya dihadiri puluhan ribu pengunjung. Tak sedikit dari mereka yang datang dari luar Jawa Tengah, bahkan dari luar Jawa.


Demikian halnya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H/2018 M yang digelar pada Minggu (16/12). 


Salah satu yang hadir adalah seorang musafir dari Kalimantan Selatan. Dialah Sudaryono, atau biasa disapa Pak Yono, 66 tahun, asal Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.


Sudah lima hari ini Pak Yono berada di Kota Pekalongan. Semata-mata untuk melepas rasa kangennya terhadap Habib Luthfi, sekaligus menghadiri peringatan Maulidurrosul yang digelar di Kanzus Sholawat.


Yang cukup mengejutkan, Pak Yono sendirian berangkat dari kampung halamannya dengan mengendarai sepeda motor. Sebuah sepeda motor Suzuki Shogun tahun lawas, yang sudah ia modifikasi sedemikian rupa sehingga mirip motor khusus untuk touring.


Dari rumahnya, pensiunan guru SD khusus untuk penyandang disabilitas ini mengendarai motornya menuju ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Dari situ dia naik kapal feri ke Tanjung Perak, Surabaya.
Dari Surabaya, dia melanjutkan naik motor ke Jogja, lewat Madiun. Setelah di Jogja selama dua hari, Pak Yono tadinya berniat ke Pelabuhan Ratu, untuk berziarah ke makam salah satu mubalig asal Timur Tengah yang dimakamkan di sana.


Belum sampai tujuan, ketika baru sampai Bandung, Pak Yono mendapat informasi kalau Habib Luthfi akan menggelar peringatan Maulid Nabi.

“Saya sempat dapat kabar katanya juga akan dihadiri Bapak Presiden Jokowi,” tutur Pak Yono, saat ditemui sedang beristirahat di Markas Koramil Pekalongan Timur, yang lokasinya tak jauh dari kediaman Habib Luthfi, di sela-sela acara maulid, Minggu (16/12) siang. “Saya ke sini semata-mata rasa kangen saya kepada Habib Luthfi dan ingin hadiri Maulid Nabi di majelis yang beliau pimpin,” imbuhnya.


Bapak dua anak ini menuturkan, sudah lima hari ini dirinya berada di Kota Pekalongan. Selama di kota batik, setiap harinya dari siang sampai Isya dia di Masjid Al Jami’ Kauman, Kota Pekalongan. Malam sampai dini harinya, dia tidur di Masjid Al Fairus, di Jalan Dr Sutomo, Pekalongan Timur. “Pernah juga menginap di sini (Koramil Pekalongan Timur, red). Kalau tadi malam, saya tidur di mushola yang berada di seberang Gedung Kanzus Sholawat,” ungkapnya.


Pak Yono menceritakan, kedatangannya ke Kota Pekalongan untuk menemui Habib Luthfi ini sudah yang kedua kalinya. Sebelumnya, tahun lalu dia juga sowan ke Habib Luthfi, dan selama lima hari lima malam menginap di kediaman Habib Luthfi.  


“Waktu itu saya sempat empat hari empat malam di kediaman Habib Luthfi. Tetapi belum sempat bertegur sapa maupun bersalaman dengan beliau. Saya memahami karena tamu beliau sangat banyak. Saya hanya duduk saja di atas karpet di situ, tidak berani mendekat. Tepat di hari ke lima, sekitar jam 11 malam, tiba-tiba Abah Habib melihat ke saya, kemudian mendatangi saya dan menyapa. Beliau berkata: Sampeyan kok cuma duduk saja di situ. Lalu saya diajak duduk di kursi bersebelahan dengan beliau. Yang saat itu duduk di kursi diminta turun, gantian saya yang disuruh duduk di kursi sebelah beliau. Kemudian beliau mengajak ngobrol. Saya jelaskan tentang diri saya, bagaimana saya datang ke sini,” kenangnya.


Selanjutnya, dia mengalami sebuah peristiwa yang sangat membekas di hatinya. “Ternyata beliau Abah Habib Luthfi sangat perhatian. Waktu itu jam 11 malam beliau berkata, kamu di sini saja dulu. Nanti jam 3 pagi saya menemui kamu lagi. Tepat jam 3 pagi, tidak kurang tidak lebih, beliau benar menemui saya lagi. Ternyata beliau menyerahkan amplop berisi sejumlah uang untuk menambah bekal perjalanan saya. Itu adalah saat paling berkesan bagi saya,” kenangnya.


Pada kedatangannya kembali ke Pekalongan kali ini, sejak lima hari lalu, Pak Yono mengaku sudah tiga kali bertatap muka dengan Habib Luthfi. Meski dia hanya bisa bersalaman satu kali. “Ternyata beliau masih ingat saya. Beliau langsung menyapa saya. Apa kabar, bapak dari Kalimantan Selatan,” ungkap Pak Yono. 


“Abah Habib juga berpesan kepada saya: Sampeyan jangan pernah bosan  datang ke tempat ini (kediaman Habib Luthfi). Sambil bahu saya ditepuk dua kali. Waktu saya kemarin ikut hadir di Kajen, beliau Abah Habib juga mengucap: terima kasih, ya. Perhatian beliau sungguh luar biasa. Tidak membeda-bedakan, termasuk kepada orang kecil seperti saya,” tuturnya lagi.


Rencananya, usai acara peringatan Maulid Nabi di Kanzus Sholawat selesai, Pak Yono masih akan berada di Pekalongan. “Mungkin satu atau dua hari lagi saya masih di Pekalongan. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi menjadi musafir,” katanya.


Pria kelahiran Jogja ini menambahkan, dirinya sejak tiga tahun lalu selepas purnatugas sebagai guru, memang sudah memutuskan untuk menjadi seorang musafir. “Saya nadzar menjadi musafir sejak tiga tahun lalu,” ujarnya.


Banyak tempat, kota, kabupaten, dan provinsi yang ia singgahi. Khususnya di Pulau Jawa, sampai Madura. “Sudah ke banyak tempat. Mulai ujung Banten sampai Sumenep,” tuturnya.


Diungkapkan Pak Yono, dalam bermusafir dirinya menggunakan tiga cara. Pertama, pernah pakai mobil jenis Jeep Willis yang kapnya terbuka. Kedua, pernah pula berjalan kaki. Bahkan pernah dia berjalan kaki menyusuri pantura Jawa, dari Pandeglang Banten sampai Sumenep. “Saya waktu itu ingin membuktikan jalan kaki seperti apa. Dari Pandeglang Banten sampai Sumenep. Saya tempuh selama 4 bulan 29 hari. Yang 29 hari itu untuk istirahat. Saya istirahat kalau saya ngantuk,” kenangnya.


Lantas, bagaimana dengan keluarga yang ia tinggalkan? Pak Yono pun menuturkan bahwa keluarganya tidak mempermasalahkan aktivitas berkelananya. “Status saya sudah duda. (Mantan) Istri kebetulan sedang mengikuti tugas belajar. Anak juga kuliah di sana,” kata dia.


Sebagian besar, perjalanan Pak Yono selama menjadi musafir itu ia gunakan untuk mengunjungi para ulama, dan berziarah ke makam para wali dan ulama. Ia pun tak memperhitungkan berapa banyak rupiah yang sudah ia gunakan untuk bekal perjalanannya. “Takjarang kehabisan bekal. Tetapi alhamdulillah selalu ada pertolongan,” ungkap Pak Yono.


Dia pun mengaku sangat terkesan dengan Pekalongan, berikut orang-orangnya. Menurutnya, Pekalongan adalah kota yang religius. “Saya selalu mengingat tiga hal tentang Pekalongan. Pertama Habib Luthfi, kedua batik, yang ketiga adalah megono,” imbuh dia. 


Usia Pak Yono memang sudah tak muda lagi. Namun kondisi fisiknya patut diacungi jempol. Tampak masih kuat dan bugar. Semangatnya pun luar biasa. Masih kuat menempuh beratus-ratus kilometer dalam sekali perjalanan menggunakan sepeda motor. 


Resep menjaga kebugaran fisiknya itu ternyata simpel. “Tidak merokok. Kemudian, selalu tersenyum, berpikiran positif dan selalu gembira, meskipun kondisi hati lagi pilu. Selalu jaga ibadah. Selain itu terus baca salawat,” bebernya. (way)

Facebook Comments