Mangkal di Siang Bolong, 4 PSK Terjaring Razia

by
Mangkal di Siang Bolong, 4 PSK Terjaring Razia
JARING PSK - Petugas Satpol PP Kabupaten Pekalongan menjaring empat PSK yang mangkal di warung remang-remang di Kecamatan Kesesi dan Wiradesa, kemarin. MUHAMMAD HADIYAN

KAJEN – Petugas Satpol PP Kabupaten Pekalongan kembali berhasil menjaring empat PSK yang menjajakan bisnis syahwat di siang bolong, kemarin (12/12). Penjaringan ini dilakukan di dua warung remang-remang yang berada di Kecamatan Kesesi dan Wiradesa.

Dalam giat cipta kondisi ini yang digelar sejak pukul 11.00 siang itu, sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara petugas dengan para wanita pekerja seks komersial tersebut. Bahkan, beberapa PSK lari tunggang langgang ke permukiman penduduk saat mengetahui kedatangan petugas Satpol.

Adu mulut antara petugas dengan pemilik warung juga sempat terjadi. Pemilik warung yang menyediakan bilik-bilik kamar dan PSK, tidak terima dengan tindakan petugas.

Meski demikian, keempat PSK yang berasal dari warga lokal dengan usia 25 hingga 35 tahun tetap digelandang petugas. Semuanya dibawa ke kantor Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan untuk didata, selanjutnya dikirim langsung ke panti rehabilitasi sosial di Surakarta hari itu juga.

Kabid Tubun Tranmas Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan, Farid Abdul Khakim mengatakan, giat cipta kondisi ini akan terus dilakukan secara rutin. Tidak hanya di warung remang-remang saja, namun juga tempat kos-kosan yang disinyalir sering dijadikan ajang kumpul pasangan bukan suami istri.

“Giat ini kita lakukan di dua lokasi, pertama di Kesesi, lalu di Wiradesa. Kita dapat empat PSK yang langsung kita bawa ke markas, untuk kita kasih pembinaan. Selanjutnya kita data dan kita kirim ke panti rehabilitasi sosial seperti giat-giat sebelumnya,” terang Farid, kemarin.

Sasaran giat dilatarbelakangi dari laporan masyarakat yang mengeluhkan keberadaan praktik prostitusi di lokasi tersebut. Dari laporan itu pihak Satpol melakukan penulusuran, hingga dilanjut pada penjaringan.

Ia membenarkan, memang sempat ada cek-cok mulut dengan pemilik warung. Namun hal itu dapat dikondisikan setelah petugas menjelaskan pelanggaran Perda No 2 Tahun 2012 yang dilakukan oleh para pemilik warung. Dijelaskan, dalam pasal 32 di Perda tersebut, bahwa setiap orang atau badan dilarang menyediakan, menggunakan bangunan rumah, villa, warung, hotel, losmen, caffe, panti pijat, rumah spa, rumah kos-kosan, warnet, tempat arena ketangkasan (billyard) atau tempat sejenisnya sebagai tempat mangkal/ transaksi awal penjaja seks komersial dan/ atau untuk berbuat
asusila/ penyelenggaraan prostitusi.

“Kita juga memberi teguran ke pemilik warung, agar dalam menjalankan bisnisnya tidak melanggar norma agama, dan dapat mengikuti aturan yang berlaku. Jika masih membandel, maka sanksi tegas akan diberikan,” tegasnya. (yan)

PENULIS: MUHAMMAD HADIYAN