Metro Pekalongan

Ada Penyalahgunaan Tata Ruang, Laporkan Melalui Sistem SIMTARU

SIMTARU

SIMTARU – Walikota Pekalongan Saelany Machfudz saat mencoba layanan aplikasi Simtaru yang ditampilkan di lingkungan Setda setempat, kemarin.
WAHYU HIDAYAT

KOTA PEKALONGAN – Masyarakat diimbau turut aktif berpartisipasi memberikan laporan apabila ada pelanggaran terhadap aturan tata ruang di Kota Pekalongan. Apalagi, prosedur pengaduan maupun pelaporan kini lebih mudah, lantaran Pemkot Pekalongan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) setempat telah meluncurkan Sistem Informasi Tata Ruang (SIMTARU).

Kepala Bidang (Kabid) Penataan Ruang dan Pertanahan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Kota Pekalongan, Khaerudin, menjelaskan SIMTARU ini juga mempermudah masyarakat mendapatkan informasi tentang tata ruang di Kota Pekalongan.

Dia memaparkan bahwa SIMTARU merupakan Layanan Aplikasi Berbasis website-Geographic Information System (WebGis) yang bisa diunduh melalui website simtaru.duamedia.net. Website ini nantinya akan diintegrasikan dengan websitekota.go.id. “Juga bisa diunduh dalam bentuk aplikasi android melalui Google playstore Simtaru Pekalongan,” jelasnya, kemarin.

Menurutnya, sistem informasi tata ruang ini mudah diakses masyarakat melalui website dan aplikasi android seperti untuk meningkatkan kinerja pengendalian pemanfaatan ruang, memberikan arahan bagi perizinan terkait tata ruang, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan penataan ruang. Selain itu juga disediakan pelayanan pengaduan pelanggaran tata ruang.

“Kegunaan SIMTARU untuk mengetahui informasi tata ruang misalnya jika punya kebun, tanah, dan lahan di suatu daerah peruntukannya untuk apa bisa langsung diketahui dari sini dan karena berbasis web,” terangnya.

Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa langsung menunjuk peta titik lokasi berdasarkan koordinat dan nanti akan keluar aturannya. “Akan tercantum di situ lokasi tersebut peruntukkannya untuk apa, ketentuan bangunan seperti apa, misalnya koefisien dasar bangunan yangg boleh dibangun berapa, yang tentu sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terutama para investor hotel dan rumah sakit. Selain itu, terdapat pelayanan pengaduan tata ruang jika masyarakat ingin mengadu hanya dengan mengisi kolom identitas dan melampirkan foto,” ujar Khaerudin.

Ia menambahkan prinsip SIMTARU ini menggantikan sistem lama, yang mana pada awalnya masyarakat yang ingin mengetahui informasi tata ruang harus bertatap langsung. Namun melalui SIMTARU ini bisa dilakukan secara online dimanapun dan kapanpun.

Informasi terkait tata ruang di SIMTARU juga bisa dimanfaatkan oleh para mahasiswa yang sedang membutuhkan informasi untuk bahan tugas akhir atau skripsi sesuai kebutuhan (peta dasar, rencana, sarana dan prasarana, peraturan terkait tata ruang yang bisa diunduh seperti perda tata ruang, uu tata ruang) dalam satu sistem.

Dalam SIMTARU juga dilengkapi simbol-simbol warna pada peta tata ruang. Misalnya warna merah menandakan daerah perdagangan dan desa, kuning menandakan permukiman/perumahan, oranye menginterpretasikan perumahan kepadatan tinggi-sedang, kuning untuk perumahan kepadatan rendah, hijau menunjukkan kawasan pertanian/persawahan, biru menunjukkan tambak, dan ungu untuk kawasan industri.

Khaerudin berharap dengan adanya SIMTARU ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan pada publik terkait informasi tata ruang dan pengendalian tata ruang bisa dilakukan lebih baik karena masyarakat bisa ikut mengawasi. (way)

Facebook Comments