Desa Didorong Kembangkan Budidaya Coklat

by
Desa Didorong Kembangkan Budidaya Coklat
TINJAU - Bupati Wihaji didampingi Ketua TP PKK, Uni Kuslantasih Wihaji, meninjau lokasi pabrik coklat, belum lama ini. DOK ISTIMEWA
Desa Didorong Kembangkan Budidaya Coklat
TINJAU – Bupati Wihaji didampingi Ketua TP PKK, Uni Kuslantasih Wihaji, meninjau lokasi pabrik coklat, belum lama ini.
DOK ISTIMEWA

BATANG – Tidak lama lagi, sebuah pabrik pengolah coklat akan berdiri di Kabupaten Batang. Rencananya, pabrik yang berlokasi di Desa Wonokerso, Kecamatan kandeman itu akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, 12 Desember mendatang.

“Kami belum mendapat kepastiannya, apakah nanti beliau Presiden RI Joko Widodo bersedia datang langsung ke Batang untuk meresmikan pabrik coklat ini. Namun paling tidak, jika beliau tidak hadir, maka akan ada dari Kementerian Perindusterian yang mewakili,” ungkap Bupati Batang, Wihaji, Minggu (2/12).

Ia mengatakan, pabrik coklat tersebut berdiri di atas areal tanah seluas 2,8 hektar, dengan bangunan fisik seluas 4.000 meter persegi dan berada di tengah perkebunan seluas 165 hektar. Pembangunan pabrik cokelat sendiri, kata dia, menghabiskan dana sebesar Rp 105 miliar yang berasal dari Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, Sekertaris Daerah (Sekda) Batang, Nasikhin mengungkapkan, pabrik cokelat itu masih banyak membutuhkan tanaman kakao atau cokelat untuk memenuhi produksinya. Sebab, produksi tanaman kakao di Kabupaten Batang hingga kini tidak sampai 1 ton, hanya di kisaran 700 kg.

Oleh karena itu, Pemkab Batang bersama Universitas Gajah Mada (UGM) dan PT Pagilran sebagai inisiator berdirinya pabrik cokelat akan menggelar pelatihan pengelolaan kakao pada masyarakat Kabupaten Batang. “Pemkab Batang mempunyai pekerjaan rumah untuk menyiapkan peserta pelatihan yang memiliki niat usaha pengelolaan tanaman kakao. Dan ke depan para petani setempat akan kita dorong untuk dapat melakukan perluasan lahan tanaman kakao,” ujar Nasikhin.

Ia pun berharap, agar ada salah satu desa di Kabupaten Batang yang yang menjadi penghasil coklat. Terlebih, hal itu sejalan dengan program prioritas Bupati dan Wakil Bupati, yakni One Village One Product (OVOP). Nantinya usaha itu juga bisa dikelola oleh desa sebagai Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR).

“Disamping untuk memenuhi kebutuhan pabrik, kampung coklat bisa dijadikan sebagi destinasi baru dan pusat edukasi untuk menarik pengunjung wisata. Karena selain dapat mengunjungi pabrik, masyarakat juga bisa berkunjung ke kebun kakao untuk mendukung Visit to Batang 2022,” papar Nasikhin.

Adapun untuk para peserta pelatihan pengelolaan kakao nanti, Pemkab Batang akan menyediakan kuota bagi 30 orang. Mereka diharapkan berasal dari Kecamatan Kandeman dan Tulis. Tujuannya untuk mendidik warga masyarakat sekitar agar memiliki kemampuan dan samangat mengembangkan wirausaha di bidang olahan kakao menjadi produk turunan yg lebih variatif dan sesuai selera kaum milineal.

Sedangkan untuk para petani kakao, kata Nasikhin, akan diberdayakan kembali agar lebih semangat dalam memelihara kebun kakao yang sudah ada dan didorong untuk mengembangkan kebun kakao dengan peremajaan tanaman dan perluasan lahan, sehingga produksi biji kakao akan meningkat untuk mensuplai kebutuhan bahan baku pabrik.

“Para peserta akan dilatih cara mengelola coklat setengah jadi yang selanjutnya untuk mensuplai Pabrik. Ini kesempatan bagi masyarakat untuk menjadi pengusaha, sehingga program menciptakan 1000 wirausaha baru cepat terlaksana,” pungkasnya. (red)