Radar Kajen

Penerimaan Sekdes Kisruh, Kelulusan dengan Diundi

Penerimaan Sekdes Kisruh, Kelulusan dengan Diundi

TUNJUKKAN – peserta ringking satu ujian penyaringan perangkat desa formasi Sekdes, Maulana Arif Syaifuddin, bersama bapaknya menunjukkan surat dari camat.
Widodo

KAJEN – Penerimaan Sekretaris Desa (Sekdes) di Desa Kebonagung Kecamatan Kajen kisruh. Hal itu menyusul langkah Kepala Desa Kebonagung yang memilih Sekdes tidak berdasarkan peringkat(rangking) ujian, namun dengan mengundi dua amplop berisi diterima atau tidak antara peserta peringkat pertama dan kedua.

Hal itu dibenarkan peserta ringking satu ujian penyaringan perangkat desa formasi Sekdes, Maulana Arif Syaifuddin. Maulana mengatakan bahwa kejadian pengocokan amplop kelulusan Sekdes terjadi pada Kamis (29/11).

“Kejadiannya di ruang pak lurah (Kades, red),” katanya yang didampingi bapaknya, di Kebonagung.

Diceritakan Maulana, sehari sebelum dipanggilKades, Maulana terlebih dulu menerima hasil seleksi ujian yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Bandung. Hasil seleksi tersebut diterbitkan tanggal 21 November 2018 dan ditandatangani Ketua Pelaksana Kegiatan Dra NenengNuryati, disetujui Ketua UPPM Dr Ir Ediana Sutjiredjeki, mengetahui Direktur RachmdImbang.

“Seleksi diikuti 16 peserta. Dan Alhamdulillah saya menduduki peringkat I dengan nilai akhir 74,817. Sementara peringkat kedua Dian Murdiyanto dengan nilai akhir 68, 625,” katanya.

Selanjutnya, Mulana undangan dari Kades Kebonagung Andi Kristiyanto pada Kamis (29/11). Ia pun mendatangi undangan kades bersama bapaknya di balaidesa.

“Saat itu saya disuruh masuk ke ruang pak lurah bersama Dian (pesertarangking II, red). Bapak saya di luar. Di ruangan Cuma ada kami bertiga,” katanya.

Pada pertemuanitu, lanjut Maulana, belum ada pembicaraan serius. Kades berbicara soalseleksi hingga rejeki. Bahkan, saat itu kades meminta Maulana untuk menunjukkan garis tangannya untuk mengetahui garis rejeki.

“Hingga kemudian pak Lurah mengatakan bahwa dalam penerimaan sekdes ada faktor keberuntungan. Dan pak lurahmenunjukkan duaamplop untuk dipilih. Tapi sebelum memilih, kami disuruh membuat surat pernyataan,” terangnya.

“Kamid disuruh ketik surat pernyataan dengan kalimat didekte oleh pak lurah. Dalam surat itu intinya saya siap membantu pembangunan di DesaKebonagung dan berjanji tidak menyebar berita bohong (hoax),” terangnya.

Sebelum amplop dibagikan, Maulana disuruh keluar oleh Kades menemui bapaknya. Sementara peserta peringkat kedua bersama Kades di ruangan. Beberapa saat kemudian, Maulana kembali masuk ke ruangan.

“Nah pada saat itulah, pak luruh menyuruh kami mengambil amplop. Saya sempat kaget, karena teman saya cepet sekali memilih salah satu amplop. Karena amplop tinggal satu ya saya ambil. Ketika saya buka, ternyata amplop milik saya berisi surat Pemerintah Desa Kebonagung nomor 05/DS.021/XI/2018 hal Selamat. Dalam surat itu tertulis Mohon Maaf Anda Belum Diterima Sebagai Sekdes,” ucapnya.

“Terus terang saya tidak terima dengan sistem pilih amplop yang dilakukan pak lurah. Kalau memang mau kaya gitu, gak usah aja ada tes,” paparnya.

Atas tindakan yang tak wajar tersebut, Maulana pun melakukan perlawanan. Ia bersama bapaknya sempat menemui beberapa pejabat, diantaranya Camat Kajen. Ternyata, sehari sebelum ada pengundian amplop berisi diterima atau tidak diterima menjadiSekdes, Camat Kajen sudah melayangkan surat.

Surat yang ditandtangani Plt Camat Kajen Budi Rahmulyo bernomor 145.05/784, perihal rekomendasi pengangkatan perangkat desa. Inti isi surat memerintahkan kepala desa untuk melantik calon yang memiliki rangking/ peringkat tertinggi menurut hasil seleksi. “Dari surat Camat Kajen kan sudah jelas, tapi kenapa Kades Kebonagung melakukan itu (mengundiamplop, red),” ucapnya.

Atas tindakan pengundian amplop yang dinilai melanggar aturan, Maulana pun membuat suratke pada Camat Kajen untuk difasilitasi. Tak hanya itu, Maulana juga melayangkan surat kepada Kades Kebonagung.

Sementara itu,Kades Kebonagung Andi Kristiyanto saat dikonfirmasi membantah. Kata dia, dalam penyeleksian pihaknya selaku kepala desa memiliki penilian tersendiri.
“Jadi, kalaupun ada hasil tes ujian namun kepala desa memiliki peniliaian tersendiri. Jadi, masyarakat ini salah ringking satu mesti dipilih,” katanya saat ditelp, semalam.

Saat ditanya tentang aturan baik Perda, Perbub, yang menerangkan hal tersebut, telepon Kepala Desa mati. (wid)

PENULIS: WIDODO

Facebook Comments