Launching Sarung Batik, Bukti Sejahterakan Masyarakat Pekalongan

by
Launching Sarung Batik
LAUNCHING - Walikota Pekalongan H Saelany Machfudz melaunching Sarung Batik, sebagai pakaian resmi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dan masyarakat umum.
Launching Sarung Batik
LAUNCHING – Walikota Pekalongan H Saelany Machfudz melaunching Sarung Batik, sebagai pakaian resmi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dan masyarakat umum.

Tepat pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Pekalongan tahun 2018, Walikota Pekalongan H Saelany Machfudz melaunching Sarung Batik sebagai busana resmi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dan masyarakat umum.

Manfaatnya sangat terasa sekali bagi masyarakat Kota Pekalongan, karena pengrajin batik kebanjiran pesanan. Tidak hanya mereka, toko-toko yang menjual obat batik, lilin dan kain mori juga mengalami peningkatan penjualan. Otomatis menumbuhkan perekonomian masyarakat secara luas, sehingga terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Walikota mengatakan, launching sarung batik sebagai busana khas Kota Pekalongan memang programnya sebagai kepala daerah. Mengingat memakai sarung batik merupakan budaya masyarakat Pekalongan.

“Dulu saat kecil, saya sering gunakan sarung batik bahkan hingga menikah juga menggunakan sarung batik. Penggunaan sarung batik bagi ASN, juga menjadi bukti bahwa sarung batik cocok digunakan dalam berbagai aktivitas baik formal atau santai,” katanya.

Launching sarung batik sebagai busana khas Kota Pekalongan, sambung Walikota, mesti berdampak pada perekonomian masyarakat. Ia berharap, melalui momentum ini kreativitas pengrajin sarung batik kembali bergairah, sehingga mampu menciptakan produk yang berkualitas.

“Momentum ini menjadi daya pengungkit agar kreativitas dari pengrajin batik bisa meningkat dan mampu menciptakan produk yang dapat digunakan seluruh kalangan dan cocok serta nyaman untuk berbagai aktivitas.”



Dengan pencanangan tersebut, jelasnya, maka sarung batik akan dikenakan setiap hari Jumat pada minggu keempat setiap bulannya. Baik di lingkungan Pemkot Kota Pekalongan maupun oleh masyarakat pada umumnya.

Wali Kota Saelany menambahkan, peluncuran Sarung Batik sebagai identitas Kota Pekalongan, merupakan upaya Pemkot dalam mempertahankan predikat Kota Kreatif Dunia yang diberikan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

“Makanya, kita harus kreatif dan berinovasi untuk mempertahankan penghargaan dari UNESCO ini. Apabila kita tidak mampu menjaga atau berkreasi dan berinovasi, bisa saja penghargaan dari UNESCO dicabut,” kata Saelany yang dalam kesehariannya kerap mengenakan sarung batik dalam acara resmi pemerintahan atau saat beribadah.

Selain itu, katanya, lauching Sarung Batik ini untuk meningkatkan daya kreatif UMKM Batik lokal dan berdampak positif pada perkembangan pemasaran UMKM di daerah Pekalongan sendiri. “Karena itu, harus terus kreatif, dengan membangkitkan sarung batik. Misal sarung didesain dengan berbagai model yang lebih nyaman,” tuturnya.

Sukses membangkitkan kembali budaya memakai sarung batik di lingkungan Pemkot Pekalongan, Walikota juga akan meminta kepada instansi vertikal, BUMN, BUMD dan juga perusahaan swasta agar mengikuti penggunaan sarung batik sebagai salah satu seragam untuk melayani masyarakat. “Biar kesemuanya selaras dengan visi terwujudnya Kota Pekalongan yang sejahtera, mandiri dan berbudaya berlandaskan nilai-nilai religiusitas,” tutur Walikota.

Senada disampaikan salah satu perajin sarung batik, Khusnul Khotimah, warga Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan. Mewakili pengrajin sarung batik, dirinya sangat senang dengan program Pemkot Pekalongan dalam mengangkat kembali sarung batik.

“Keluarga besar saya, mulai dari kakek hingga kini, sudah produksi sarung batik. Namun kami baru mulai produksi lagi, tahun 2015 ini, ketika sarung kembali populer,” jelas pemilik merek batik Rayhan.

Awalnya dirinya hanya membuat sarung batik cap sebanyak 100 potong dan dipasarkan sendiri ke berbagai tempat, terutama di lingkungan pondok pesantren (Ponpes) baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Lambat laun, sejak tahun 2017, sarungnya mulai diminati, terutama di kalangan santri. Dengan dicanangkannya sarung batik menjadi ikon baru Kota Pekalongan dalam berbusana, Khusnul selaku pengrajin dan pedagang sarung batik, menyambut positif. Pihaknya berharap, produk ini bisa populer di kalangan orang lokal sendiri. “Kalau produk sarung batik ini dikenakan orang Pekalongan juga, otomatis semua perajin dan pedagang sarung batik juga dapat berkahnya,” harapannya. (dur)