Metro Pekalongan

Potensi Benda Maupun Bangunan Cagar Budaya Sangat Besar

Pameran Cagar Budaya

KENALKAN – Siswa dari sejumlah sekolah di Kota Pekalongan saat dikenalkan dengan beberapa benda dan bangunan cagar budaya dalam Pameran Cagar Budaya di Museum Batik, Senin (19/11).

KOTA PEKALONGAN – Potensi benda maupun bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan, diprediksi masih sangat besar. Hal itu melihat realita bahwa Kota Pekalongan di masa lalu merupakan salah satu wilayah strategis yang dilalui jalur perdagangan. Sehingga diperkirakan masih banyak peninggalan bangunan maupun benda masa kolonial yang merupakan benda cagar budaya.

Analisa tersebut disampaikan Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan pada Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Wahyu Krisnanto yang ditemui usai pembukaan Pameran Cagar Budaya di Museum Batik, Senin (19/11).

“Pekalongan merupakan jalur strategis, banyak peninggalan kolonial disini. Sehingga potensi benda atau bangunan cagar budaya disini sangat besar,” tuturnya.

Kondisi tersebut dibuktikan dengan adanya beberapa kawasan budaya mulai kampung arab dan kampung cina serta beberapa bangunan peninggalan zaman kolonial, salah satunya Museum Batik.

“Karena aktivitas yang tinggi di zaman dulu meninggalkan bangunan atau kawasan cagar budaya sesuai karakternya. Seperti disini ada kampung arab dan kampung cina. Termasuk Museum Batik dan Stasiun Pekalongan yang dulu berfungsi untuk mengakomodir jalur perdagangan,” tambahnya.

Krisnanto menambahkan, penetapan bangunan atau benda cagar budaya bisa diusulkan oleh tim ahli dari masing-masing kabupaten kota melalui kepala daerah setempat yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai benda atau bangunan cagar budaya. “Tapi ada kriteria bangunan atau benda cagar budaya yang sudah ditetapkan diantaranya berusia minimal 50 tahun, memiliki nilai penting bagi pengetahuan dan kebudayaan serta menguatkan kepribadian bangsa,” katanya.

Kasubbag TU pada Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Sumardi, mengatakan pameran yang digar merupakamn salah satu bagian dari sosialisasi informasi tentang budaya.

“Kami mengajak masyarakat terutama anak didik untuk mulai ditanamkan sejak dini mencintai cagar budaya. Tentunya ini melalui proses pembelajaran dan pemahaman agar ke depannya dapat melestarikan warisan budaya,” terang Sumardi.

Dijelaskan Sumardi, melalui cagar budaya anak-anak akan memahami nilai-nilai budaya. Ditambah lagi Kota Pekalongan memiliki peran penting dalam jejak peradaban, salah satunya adanya museum batik yang dibangun pada era Belanda, yang telah diakui sebagai warisan dunia. “Untuk itu sangatlah tepat jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengajak masyarakat untuk bersama menggali informasi tentang cagar budaya di Kota Pekalongan,” tambah Sumardi.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Pekalongan, Sutarno dalam sambutannya menjelaskan bahwa pameran ini sangat penting sebagai benteng pengaruh kemajuan di era globalisasi. “Tentu itu akan membawa pengaruh positif maupun negatif, jangan sampai jiwa nasionalisme generasi kita terkikis,” tutur Sutarno.

Sutarno menyatakan bahwa bangsa yang yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Bangsa yang tidak menghargai sejarah akan tergilas oleh sejarah itu sendiri. “Pameran ini jadi upaya pemerintah Jawa Tengah untuk meningkatkan nasionalisme. Harapannya akan terwujud suatu bangsa yang kuat dan bermartabat yang dihargai bangsa lain,” tandasnya. (nul)

Facebook Comments