Features

Lika-liku Sodiq Monata, dari Kuli Batu Jadi Manusia Rp 200 Juta

Sodiq Monata saat tampil di salah satu acara anugerah musik dangdut yang dihelat sebuah stasiun televisi swasta. (Tika Hapsari/ JawaPos.com)

Sodiq Monata kini sedang berkibar tinggi ke langit ketujuh. Lelaki yang punya nama lengkap Sodiq Rifa’i itu meniti karir di belantika dangdut dari nol. Sebelum melejit seperti sekarang, sang Raja Dangdut Koplo itu sudah kenyang merasakan pahit getirnya kehidupan.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Gayanya slengekan. Low profile. Ala kadarnya. Jauh dari kesan glamor. Seolah hidup tiada beban.

Rambut gondrong ikal ala Bob Marley menjadi salah satu ciri khasnya. Saat mentas, Sodiq begitu menguasai panggung dengan goyangan-goyangan yang menghentak. Tak jarang dia ‘genit’ dengan biduan-biduan cantik yang tiada duanya.

Selama tiga hari, arek asli Pandaan, Pasuruan itu berada di Kabupaten Malang. Sodiq terpilih sebagai salah satu nominator artis paling di hati sebuah anugerah musik dangdut yang dihelat salah satu stasiun televisi swasta.

Saat ditemui JawaPos.com di belakang panggung, Jumat malam (16/11), Sodiq kedandapan. Sepiring nasi kuning masih berada di tangan kirinya. Dia buru-buru meletakkan piring tersebut di atas meja.

Dengan logat Jawa Timuran yang kental, Sodiq langsung menunjukkan kesan humble. Dia begitu hangat dengan wartawan. ”Ayo wis, langsung wawancara ae (Ayo, langsung wawancara saja),” timpal Sodiq menolak tawaran JawaPos.com yang meminta dirinya agar menghabiskan santapannya terlebih dahulu.

Mengenakan kaos oblong warna hitam, celana chino semata kaki, Sodiq mengajak JawaPos.com mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Dia memilih lorong Stadion Kanjuruhan yang sedikit lebih hening. ”Nang kene ae yo mbak (di sini saja ya mbak),” serunya.

Sembari menghela nafas panjang, Sodiq mengaku bersyukur dengan hidupnya saat ini. Dia sudah memiliki jutaan penggemar seantero Indonesia. Orkes Melayu (OM) Monata yang digagasnya, semakin melambung dengan membanjirnya tawaran-tawaran manggung. Baik off air maupun on air.

Mengusung genre koplo, Sodiq mencoba menyajikan nuansa dangdut yang berbeda ketimbang sebelumnya. Lelaki kelahiran 7 April 1968 itu ingin membawa warna baru. ”Penyanyi dangdut yang ganteng itu sudah biasa. Nah saya ini penyanyi dangdut sing elek, nggak mbois blas (yang jelek dan tidak keren sama sekali),” ucapnya lalu terkekeh.

Lamunan Sodiq kemudian menggelayut jauh ke masa lampau. Sodiq masih mengingat betul bagaimana jerih payahnya dulu hingga mencapai ke titik kehidupan sekarang. Baginya, hidup tak semudah membalikkan telapak tangan. Penuh liku-liku perjangan. Penuh onak dan duri.

Dia tak sungkan mengakui bahwa dirinya pernah hidup serba kekurangan.”Ibarate melarate wong melarat, wes tahu kabeh aku (ibaratnya miskinnya orang miskin, sudah pernah merasakan semua),”ucap lelaki berusia setengah abad tersebut.

Sodiq mulai menyanyi pada 1996. Kala itu, dia belum berhadapan dengan gemerlapnya panggung. Tidak ada keriuhan penonton.

Status Sodiq waktu itu hanyalah seorang penyanyi jalanan alias pengamen. Dia berpindah-pindah, dari satu bus ke bus lainnya. Blusukan dari kampung ke kampung.

Dua tahun berselang, Sodiq mendapat berkah. Dia mendapat job nyanyi pertamanya. Suaranya yang berat dan berkarakter mampu membius pendengarnya sampai klepek-klepek. Apalagi penampilannya di atas panggung juga nyentrik. Sodiq dengan cepat mudah dikenali dan mulai punya penggemar.

Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Badai krisis moneter yang menghantam negeri ini pada tahun 1998, memaksa Sodiq mengencangkan ikat pinggang.

Hingar bingar panggung nyatanya tidak sebanding dengan pendapatan yang dia terima. Honor yang didapat Sodiq saat manggung tak sebanding dengan kerja kerasnya. Bayangkan saja, sekali tampil dia cuma mengantongi Rp 15 ribu. “Pengalaman pahit sudah saya telan semua. Saya juga orkes dari kampung ke kampung. Bayarannya kecil,” bebernya.

Bahkan ketika sepi manggung, Sodiq mencari mata pencaharian lain agar dapur di rumah tetap mengebul. Mulai dari menjadi pedagang nasi goreng di Pandaan hingga menjadi kuli batu.”Aku wes tahu kabeh. Ajur ledeh ibarate (Sudah pernah merasakan semua. Ibaratnya hancur lebur),” tambah lelaki yang memiliki tahi lalat di pipi sebelah kanan itu.

Sebagai seorang entertainer, ada fans, ada pula haters. Begitu pula dengan Sodiq. Dia juga kerap mendapat cibiran. Mulai omongan yang meremehkan, dibilang tidak pantas jadi penyanyi, sampai perundungan yang mengarah ke fisiknya. ”Ada yang bilang wajah saya jelek lah. Nggak pantas jadi penyanyi,” ujar pedangdut yang mengidolakan Rhoma Irama itu.

Bagi Sodiq, hinaan adalah lecutan hidup. Meskipun dicerca, Sodiq tetap melaju bersama OM Monata. Show must go on! “Yang penting tetap semangat, maju terus. Orang menghina selalu ada, tapi harus tetap percaya diri. Buktikan bahwa mampu,” ucapnya penuh antusias.

Berkat hujatan, mental Sodiq lebih teruji. Sodiq kini sudah mencecap kebahagiaan hidup. Dia sudah menelurkan lebih dari 100 judul lagu.

Kalau dulu cuma mendapat bayaran Rp 15 ribu, sekarang Sodiq memperoleh honor Rp 75 juta sekali manggung. Uang itu untuk harga 8 lagu yang didendangkan.

Beda lagi kalau orang ingin mengundang Sodiq lengkap dengan OM Monata. Harganya lebih mentereng. Yakni sebesar Rp 200 juta sekali mentas.

Kalau boleh dibelikan properti, nominal sebesar itu sudah bisa menebus satu unit rumah sederhana di pinggiran Kabupaten Malang. “Hahaha, Alhamdulilah sekarang sudah enaknya. Kalau dulu siapa mau wawancara Sodiq. Sekarang Alhamdulilah bisa diwawancarai, punya kenalan teman wartawan,” kelakarnya. (jawapos)

Facebook Comments