Radar Batang

Radio Komunikasi Bantuan DKP Lebih Canggih Dibanding Milik Nelayan

Radio Komunikasi Bantuan DKP Lebih Canggih Dibanding Milik Nelayan

PEMASANGAN – Petugas melakukan pemasangan perangkat radio maritim di kapal tangkap ikan milik nelayan Batang, Jum’at (16/11).
M DHIA THUFAI,

BATANG – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah memberikan bantuan tujuh perangkat radio maritim atau berstandar internasional untuk kapal tangkap ikan berukuran 10–30 GT di wilayah perairan Kabupaten Batang.

“Ya, Gubernur melalui DKP Jateng menyalurkan tujuh set perangkat radio komunikasi untuk nelayan Batang. Namun bantuan kali ini diprioritaskan hanya untuk kapal tangkap ikan berukuran 10–30 GT yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan,” ungkap Ketua DPC HNSI Kabupaten Batang, Teguh Tarmujo, Jum’at (16/11).

Disebutkan, jumlah kapal tangkap ikan berukuran 10–30 GT non alat tangkap cantrang di Kabupaten Batang ada 20 unit. Kapal kapal tersebut sebelumnya telah dilengkapi peralatan komunikasi radio.

“Namun demikian, alat radio tersebut terbilang kurang canggih dibanding yang diberikan oleh DKP Jateng ini. Selain kurang canggih, sebagian dari alat yang sudah terpasang di kapal nelayan juga ada yang sudah tidak layak atau tidak berfungsi,” katanya.

Oleh karenanya, Teguh berharap agar dalam anggaran bantuan selanjutnya, DKP Jateng bisa memberikan kuota lebih untuk nelayan Batang. “Kalau nelayan suruh membeli sendiri alat bantuan itu mungkin cukup berat, karena diketahui satu set alat itu harganya hampir mencapai Rp 40 juta,” terangnya.

Adapun para penerima alat komunikasi radio itu, Nano Harwanto pemilik kapal Dolphin Star, Pribadi pemilik kapal Sri Sigit Pandowo, Daryono pemilik kapal Mantep Sido Resmi, Gunawan pemilik kapalPrima United, Slamet pemilik kapal Leo, Isreno pemilik kapal Jujuk Sri Keno, dan Alimin pemilik kapal Kerinci Jaya.

“Hari ini baru ada tiga alat komunikasi radio yang dipasang, sisanya masih menunggu kapal pulang dari melaut,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala DKP Jateng, Lalu M Syafriadi menjelaskan, penggunaan perangkat radio maritim merupakan salah satu syarat untuk berlayar. Di mana Pelabuhan Perikanan Pantai dan Kantor Syahbandar melakukan pendataan kapal-kapal yang berlayar.

Semua kontrol dilakukan untuk memastikan keselamatan jiwa. Perangkat radio maritim akan menggantikan penggunaan perangkat lama yang biasa digunakan kapal tangkap ikan. Pasalnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan frekuensi perangkat lama mengganggu aktivitas (navigasi) penerbangan.

“Selama ini sudah banyak nelayan yang menggunakan radio. Namun perangkat radio all ban yang frekuensinya mengganggu penerbangan, sehingga memengaruhi keselamatan. Frekuensi tidak teratur, masih digunakan belum sebagaimana mestinya,” jelas Lalu.

Lebih jauh, jelas dia, di Jateng kurang lebih ada 24 ribu kapal tangkap ikan berbagai ukuran. Untuk ukuran di atas 30 GT terdapat 2.000 an kapal. (fel)

PENULIS: M DHIA THUFAIL

Facebook Comments