Radar Jateng

Gara-gara Unggah Unggah Hoax di Facebook, Pemuda Ini Dicokok Polisi

Gara-gara Unggah Unggah Hoax di Facebook, Pemuda Ini Dicokok Polisi

Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly saat jumpa pers, soal pengungkapan kasus penyebaran hoaxs.
AGUS/RATEG

Ini Peringatan kita semua yang kerap menggunakan media sosial (medsos). Sebab, jika asal membuat status, kita bisa terjerat dengan hukuman.

Seperti dialami Dian Purwanto, warga Kelurahan Keturen Kecamatan Tegal Selatan. Gara-gara menyebarkan informasi tentang gempa dahsyat yang cukup membuat banyak orang resah melalui facebook, pemuda 25 tahun itu kini harus meringkuk di sel tahanan Mapolres Tegal Kota. Diketahui, melalui postingannya di FB, dia membuat status soal gempa tak lama setelah musibah gempa bumi di Lombok.

Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly Arianto menyatakan, dalam informasi bohong yang dibagikan, tersangka menggunakan pernyataan dari hasil wawancara satu stasiun televisi swasta dengan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Namun dalam postingan itu, dia melintir informasi tersebut sehingga menimbulkan kegaduhan dan keresahan di masyarakat,” kata Jon.

Tersangka menulis di akun tersebut tentang ‘nestapa Lombok belum berakhir’. Laut mulai retak-retak sudah. Buat yang lagi di pulau Jawa atau ada keluarga di pulau Jawa. Perbanyak doa dan tetap waspada’.

Dalam postingannya, pelaku juga menuliskan ‘LIPI mewaspadai akan terjadinya gempa dengan kekuatan skala besar khususnya di Pulau Jawa beberapa waktu ke depan’.
”Termasuk diantaranya, dia (pelaku) juga menambahkan tulisan angka-angka yang saling dihubungkan dengan ayat-ayat suci,” jelasnya.

Sementara, pengungkapan kasus ini bermula ketika ada patroli siber oleh anggotanya. Setelah ditelusuri, akhirnya tim menangkap tersangka di rumahnya di Keturen Tegal Selatan.

”Dian Purwanto kami amankan pada Kamis (15/11). Dan atas tindakannya itu, pelaku terbukti melanggar perbuatan yang dilarang dan dijerat Pasal 15 UU 1946 tentang hukum pidana,” jelas Jon.

Disebutkan, barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau yang tidak lengkap, sedangkan dia mengerti kabar tersebut akan menimbulkan keonaran di masyarakat diancam dengan hukuman penjara maksimal 2 tahun.

”Karenanya, kepada masyarakat yang suka memposting di medsos, agar berhati-hati. Saring dulu sebelum di share,” bebernya.

Sementara tersangka Dian mengaku bahwa dirinya memperoleh informasi itu dari akun Facebook lain.

“Saya dapat itu hasil copy-paste dari akun lain yang muncul di beranda Facebook. Selanjutnya, saya copy paste dan diunggah di postingan FB saya,” akunya.

Atas postingannya itu, Dian juga mengaku tidak tahu bahwa tindakannya itu melawan hukum.

“Baru sekali ini saya melakukannya. Dan saya menyesal sekali,” pungkasnya. (gus/ela)

Facebook Comments