Metro Pekalongan

Menurut BPS, Rupiah Melemah Inflasi Pasti Terpengaruh

Burhanuddin

DIWAWANCARAI – Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Pekalongan Burhanuddin saat diwawancarai Radar Pekalongan, kemarin.
MALEKHA

KOTA PEKALONGAN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Hingga kemarin, nilai tukar Rupiah tembus di angka Rp 15.002 per US dollar.

Melemahnya nilai tukar rupiah yang semakin melonjak tajam di akhir-akhir ini, pasti akan mempengaruhi nilai inflasi Kota Pekalongan. Hal itu disampaikan Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan Burhanuddin kepada Radar Pekalongan di ruang kerjanya, Rabu (5/9).

Diungkapkan Burhanuddin, pengaruh nilai inflasi di Pekalongan karena mayoritas warga adalah pengusaha batik dan banyak menggunakan obat-obat import. Sehingga, sangat terasa melemahnya nikai tukar rupiah.

“Kalau melemahnya nilai tukar rupiah sekarang sebenarnya tidak bisa dinilai sekarang. Karena pasti butuh waktu sebagai pembanding perubahan pasar, ” ujarnya.

Namun secara pasti inflasi akan mempengaruhi daya beli masyarakat, karena nilai nominal uangnya menjadi lebih sedikit.

“Contoh gampang begini, nilai Rp50.000 ketika dibelikan ke pasar waktu dulu pasti mendapatkan banyak barang. Nah tapi sekarang dengan inflasi yang semakin tinggi maka uang dengan nominal seperti itu hanay bisa mendapatkan sedikit barang,” tandas Burhan.

Melemahnya nilai tukar rupiah, membuat inflasi menjadi mimpi buruk yang harus segera diatasi. Oleh karena itu masyarakat dihimbau untuk menggunakan produk-produk dalam negri untuk memenuhi kehidupan sehari-hari sebagai upaya mengurangi dampak inflasi.

Namun, Burhanuddin menjelaskan terkait inflasi di Kota Pekalongan, pihaknya memiliki angka dalam kurun waktu Yoy (years of Years) per Juli tahun 2018 masih pada range stabil. Yaitu diangka 2,99 persen. Hal ini masih tergolong stabil karena bagas angka inflasi adalah 30 persen.

“Ini data per Juli ya, sebenarnya ada data terbaru tapi nanti akan keluar tanggal 7 September,” ungkap Burhan, sapaan akrabnya.

Kondisi inflasi ini cenderung stabil, sebab selama ini jika ada harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan maka akan ada bahan pokok yang porsi pentingya sama mengalami penurunan.

“Misal ni ya kemarin-kemarin harga BBM kan naik, nah ternyata pada waktu yang bersamaan harga beras justru turun. Jadi saling melengkapi sama-sama kebutuhan yang urgent, ” terangnya. (mal)

Facebook Comments