Kata Satpol PP, Di Kota Pekalongan Tak Ada Lagi Lokalisasi

by -

KOTA PEKALONGAN – Semenjak ditutupnya eks lokasi prostitusi di wilayah Bendingsari, Kota Pekalongan dinyatakan sudah bebas dari prostitusi.

Pemerintah setempat melalui Satpol PP, juga terus melakukan pemantauan dan operasi penyakit masyarakat untuk menertibkan potensi-potensi tindakan asusila yang masih banyak ditemui di sejumlah titik.

Kabid Trantibum pada Satpol PP, Henri Rudin menegaskan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi lokasi prostitusi yang terpusat pada satu wilayah. “Kalau lokalisasi disini sudah tidak ada. Dulu, sudah lama itu sudah ditutup dan sudah tidak ada aktivitas yang seperti itu lagi,” jelasnya.

Dalam operasi pekat yang rutin dilakukan Satpol PP, memang masih ditemui penyalahgunaan rumah kos, hotel melati, maupun tindakan asusila yang dilakukan di tempat-tempat yang sepi. Namun untuk prostitusi dengan wilayah yang terlokalisir beserta keberadaan Wanita Tuna Susila (WTS) sudah tidak ditemui.

“Kalau yang seperti itu kan memang dari pelakunya saja. Melakukannya bisa dimana saja tidak harus di lokasi tertentu. Memang masih ada beberapa lokasi yang berpotensi dijadikan tempat untuk asusila dan kami terus lakukan operasi pekat dan penertiban di titik-titik tersebut,” tambahnya.

Terakhir, pada 2016 lalu Satpol PP juga menutup salah satu wilayah yang sering dijadikan tempat penyewaan kamar untuk tindakan asusila yakni di wilayah Krakalan, Kelurahan Panjang Wetan. Sejak ditutup secara resmi, sudah tidak lagi ada laporan terkait penyewaan kamar untuk tindakan asusila di wilayah tersebut.

“Saat ini juga sudah ada Perda yang mengatur keberadaan rumah kos. Kami selalu sosialisasikan itu kepada pemilik rumah kos. Satpol PP juga terus berkeliling melakukan pemantauan dan penertiban terhadap rumah kos. Kami akan pastikan jika keberadaannya sudah sesuai dengan Perda,” kata Henri.

Kasi Penindakan dan Pemberdayaan PPNS pada bidang penegakkan perda Satpol PP, Sapto Widiaspono menambahkan, pihaknya terus memantau baik lewat operasi maupun berdasarkan laporan masyarakat terkait lokasi-lokasi yang berpotensi digunakan untuk tindakan asusila. “Dulu sekali sempat ada tapi sudah ditutup. Kami juga bekerjasama dengan warga sekitar untuk melaporkan jika masih ada aktivitas asusila disana. Sejauh ini, baik dari operasi maupun laporan masyarakat sudah tidak ada aktivitas,” katanya.

Namun dikatakan Sapto, akhir-akhir ini Satpol PP juga mendapatkan laporan adanya aktivitas asusila di wilayah Ceblung. Beberapa kali dilakukan operasi, juga sempat ditemui pelaku asusila di lokasi tersebut. “Kami masih terus pantau. Beberapa waktu yang lalu sempat ada laporan dan kami sudah tertibkan. Terakhir kami lakukan operasi disana sudah kosong tapi itu terus kami pantau,” tambahnya.

Mengenai lokasi penyewaan kamar yang sebelumnya marak di wilayah Krakalan, ia juga menegaskan bahwa sejak ditutup 2016 lalu sudah tidak laporan dari warga sekitar tentang penyalahgunaan rumah penduduk untuk asusila. “Sebelumnya memang ada di Krakalan tapi disana penyewaan kamar tidak ada WTS nya. Tapi itu sudah ditutup dan sudah tidak ada laporan lagi terkait aktivitas seperti itu,” tegas Sapto.

Ia memastikan, Satpol PP akan terus melakukan operasi di wilayah-wilayah tersebut dan menyisir sejumlah wilayah yang berpotensi dijadikan tempat meelakukan tindakan asusila di Kota Pekalongan. (nul)