Radar Pendidikan

Lahan Sempit Petani pun Terhimpit

Sawah sebagai kantornya para petani dari tahun ke tahun semakin menyempit dan sekarang tersisa 1.152 hektar. Pemerintah seperti tidak berdaya dan kehilangan cara menghadapi para pengembang dalam merayu para petani agar mau melepas lahan sawahnya untuk kepentingan bisnisnya. Berbagai macam regulasi coba dikeluarkan untuk membendung upaya mengalihfungsikan lahan sawah menjadi perumahan, perkantoran ataupun pabrik. Maka sekarang begitu mudahnya bermunculan berbagai macam perumahan di atas lahan sawah yang dulunya produktif.

Kalau lahan sawah semakin menyempit dan tidak menutup kemungkinan menjadi habis pada suatu saat nanti, maka pertanyaan besar yang muncul adalah akan kemana lagi si petani beraktifitas? Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk dapat mengatasinya sehingga cita-cita swasembada pangan khususnya padi tidak berhenti sebatas cita-cita pada dokumen perencanaan.

Petani merupakan profesi yang pada suatu saat nanti akan menjadi sangat langka. Hal ini dikarenakan tidak adanya proses regenerasi yang dilakukan oleh si petani tersebut, sehingga jumlahnya dari tahun ke tahun semakin sedikit. Dari total penduduk Kota Pekalongan yang bekerja pada semua sektor pada tahun 2015, tercatat hanya sebanyak 2,91 persen bekerja di sektor pertanian.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa pemerintah dalam mengejar target swasembada pangan mengerahkan segala daya dan upaya untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut. Secara kasat mata, yang sering diperhatikan dan mendapat perhatian lebih dari pemerintah melalui perpanjangan tangannya yakni dinas pertanian adalah pemberian bantuan baik sarana maupun prasarana yang menunjang peningkatan hasil produksi padi. Pemerintah secara berkesinambungan menggelontorkan dana yang cukup besar untuk dapat mencapai swasembada pangan. Benih, pupuk, peralatan pertanian sampai dengan modal untuk memulai usaha, semuanya diusahakan oleh pemerintah untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut.

Akan tetapi pemerintah secara tidak langsung melupakan hal yang sangat urgen yakni sang subjek, si petani itu sendiri. Bagaimanapun gencarnya segala daya upaya dilakukan oleh pemerintah, jika nasib petani tidak mendapat perhatian, maka akan sia-sia usaha tersebut.

Pemerintah tidak mampu menjadikan profesi petani sebagai profesi yang menjanjikan. Hal inilah yang menyebabkan profesi sebagai petani hanya dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, sehingga petani itu sendiri pun tidak bangga dan tidak ada keinginan jika suatu saat nanti keahliannya sebagai petani akan diturunkan kepada anak-anaknya.

Mari kita sejenak memperhatikan keadaan di sekeliling. Tampaklah dengan jelas gambaran sosok petani yang identik dengan orang tua, tidak memerlukan pendidikan yang tinggi karena yang diperlukan adalah stamina dan tenaga yang kuat serta mempunyai kehidupan dengan pendapatan yang pas-pasan. Tidak mengherankan jika data survei angkatan kerja nasional tahun 2015 menunjukkan 69,50 persen penduduk yang bekerja di sektor pertanian hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar alias tamatan SD. Tidak adanya proses regenerasi profesi petani inilah yang menyebabkan sulitnya kita menjumpai anak muda yang mau berkecimpung di bidang pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan. Seiring dengan berjalannya waktu sehingga si petanipun bertambah usianya hingga menjelang akhir usianya belum didapatkan penggantinya atau bahkan tidak ada penggantinya untuk bertani. Hal ini diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa 30,14 persen penduduk yang bekerja di sub sektor pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan dan hortikultura berada di kelompok umur di atas 45-49 tahun. Suatu kelompok umur yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.

Nasib para petani khususnya buruh tani semakin terpinggirkan dengan gencarnya pemerintah menciptakan alat-alat pertanian canggih dengan dalih tuntutan peningkatan produksi, sehingga tidak lagi memerlukan banyak tenaga manusia. Maka diciptakanlah traktor sawah untuk membajak dan mesin pemotong padi untuk panen.

Dulu, aktifitas membajak sawah bisa memakan waktu berhari hari, namun sekarang dengan adanya mesin traktor cukup dikerjakan oleh satu orang dengan hasil yang berlipat lipat luasnya. Demikian juga dengan mesin pemanen, yang bisa menggantikan petani hingga 20 orang dalam proses pemanenan dan dapat berlangsung dengan tempo yang singkat.

Dengan fenomena yang terjadi sekarang, yakni semakin sempitnya lahan sawah dan semakin banyaknya alat-alat pertanian yang serba canggih, maka sangat wajarlah jika suatu saat nanti kita pasti akan kekurangan petani. (*)

Oleh: Somadi, Fungsional Statistisi BPS Kota Pekalongan

Facebook Comments