Pedagang Dadakan Keluhkan Omzet Menurun

by
Warung Jalur Pantura
SEPI - Para pedagang di sejumlah warung yang berada di tepi jalur Pantura wilayah Desa/Kecamatan Kandeman ini mengeluhkan sepinya pembeli saat arus mudik dan bali lebaran tahun ini. M Dhia Thufail
Warung Jalur Pantura
SEPI – Para pedagang di sejumlah warung yang berada di tepi jalur Pantura wilayah Desa/Kecamatan Kandeman ini mengeluhkan sepinya pembeli saat arus mudik dan bali lebaran tahun ini.
M Dhia Thufail

BATANG – Selama arus mudik dan balik Lebaran 2018, ratusan pedagang warung tiban (dadakan) di sepanjang jalur pantai utara (Pantura) Kabupaten Batang, sepi dari pembeli. Sepinya pembeli ini, berdampak cukup besar pada pendapatan para pedagang di sepanjang jalur tersebut.

Menurut pengakuan sejumlah pedagang warung tiban yang biasa menggelar dagangan saat arus mudik, omzet mereka tahun ini mengalami penurunan.

Dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya, omzet mereka turun hingga 70 persen saat arus mudik dan balik sampai H+6 Lebaran tahun ini.

Seorang pedagang bernama Sulastri (39) mengaku, pendapatannya tak sampai Rp 50 ribu per hari. Padahal, saat arus mudik dan balik Lebaran tahun tahun lalu, ia mampu mengumpulkan hingga Rp 300 ribu per hari.

Penyebab sepinya pendapatan para pedagang di sepanjang jalur pantura Kabupaten Batang itu diyakini karena difungsikannya jalan tol fungsional sepanjang 38,20 kilometer, mulai Pemalang-Gringsing, Batang, Jawa Tengah.

“Dibukanya tol Brebes-Pemalang hingga Batang membuat kendaraan pribadi tidak lagi memanfaatkan jalur Pantura. Sehingga berimbas pada omzet kami yang semakin menurun drastis,” katanya.

Nesya (35), pedagang es degan ijo di komplek rest area Plelen, Gringsing mengungkapkan jika pemudik yang beristirahat di tempat usahanya menurun hingga 50 persen.

Sebagian besar pemudik yang berhenti dan makan atau sekadar minum kopi di warungnya sekarang hanya didominasi oleh para pengendara sepeda motor yang mudik secara rombongan.

Pedagang lainnya, Sulistyo (44) menambahkan, omzet penjualan warungnya turun drastis. “Tahun kemarin kami sempat kewalahan melayani pembeli. Tetapi tahun ini kami justru kekurangan pembeli,” ujarnya.

Fauzan (27) salah seorang pemudik asal Jakarta mengungkapkan bahwa mudik kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. “Mudik lebaran berasa nggak mudik lebaran, Pantura sepi banget. Kasian juga para pedagang pedagang di pinggir jalan, yang berharap setahun sekali mendapat keuntungan melimpah,” katanya.

Robby (32), pemudik satu kelompok dengan Fauzan mengungkapkan hal senada, “Kasihan orang-orang Pantura. Setelah ada tol Trans Jawa, jualan makan minuman jadi sepi. Pemudik lebih banyak lewat jalan tol. Yang mudik jajan di rest area tol,” ujarnya.

Sementara menurut Arif Munandar (50) dengan dibukanya jalan tol ada plus minusnya. Karen menurutnya, dengan dibukanya tol Brebes-Pemalang-Batang, perjalanan menjadi lebih cepat.

“Perjalanan juga bisa dipersingkat, tapi ya itu, kalo lewat tol dari Brebes langsung keluar tol Batang. Jadi ngga bisa rasain kuliner di sepanjang jalur Pantura Brebes, Tegal, Pemalang, Batang, dan Kendal,” pungkasnya. (fel)