Ujian di Tazakka, Tak Hanya How to Know, But How to Be

by
Ujian Tazakka
TURUN LANGSUNG – Pimpinan Tazakka KH Anang Rikza Masyhadi dan Gus Anizar Masyhadi beserta jajaran Direksi PM Tazakka turun langsung memantau pelaksanaan ujian.
Ujian Tazakka
TURUN LANGSUNG – Pimpinan Tazakka KH Anang Rikza Masyhadi dan Gus Anizar Masyhadi beserta jajaran Direksi PM Tazakka turun langsung memantau pelaksanaan ujian.

BATANG – Pendidikan karakter benar-benar menempati ruang utama dalam sistem pendidikan di Pondok Modern (PM) Tazakka. Gambaran konsep itu terlihat mencolok terutama pada momentum pelaksanaan ujian, para santri tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga ujian mental.

Suasana di hari-hari pelaksanaan ujian memang menampakan pemandangan yang khas di Tazakka. Ada dinamika keilmuan yang mencolok, sehingga lingkungan pondok tak ubahnya sebuah miniatur dari potret learning society.

Bagaimana tidak, para santri praktis menghabiskan hari-harinya dengan buku, mereview semua materi yang telah diajarkan. Pemandangan itu kian genap dengan khusyuk masyuknya mereka berlomba-lomba mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai ibadah, mulai shalat sunnah, puasa senin kamis, hingga melangitkan dzikir dan doa-doa.

“Di Tazakka, ujian tak sekadar menguji kemampuan akademik saja, tetapi lebih dari itu adalah ujian mental dan karakter,” ungkap Direktur KMI PM Tazakka, Ustadz M Bisri SHI MSi, Rabu (15/12).

Dua orientasi pendidikan tersebut, yakni akademik dan mental, karenanya menuntut seluruh santri dan jajaran asatidz untuk bersungguh-sungguh dan jujur dalam pelaksanaan ujian. Di ruang ujian, para santri didudukkan dalam skema 1 bangku 3 santri dari tingkat kelas yang berbeda. Pengawas ujian dilakukan berlapis. Santri diawasi 3 sampai empat pengawas di setiap penjuru ruangan, sementara kinerja pengawas juga dipantau oleh majlis guru.

“Maka kesempatan berbuat curang saat ujian it’s seems to be an impossible mission,” tukas Bisri.

Pimpinan Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi MA, mengatakan, ujian yang dilaksanakan para santri tidak hanya bertujuan mengembangkan pengetahuan, melainkan juga sikap mental yang benar. Kata dia, belajar bukan semata untuk menghadapi ujian, tetapi sebaliknya, ujian adalah sarana untuk belajar. “Maka santri-santri Tazakka mengenal falsafah ‘ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian,” ucapnya.

Maka ukuran ujian tidak an sich untuk menakar pengetahuan, bukan juga sekadar angka-angka statistik dalam nilai akademik. Lebih dari itu, adalah mengukur sikap mental. “Kalaupun nanti nilai akademiknya bagus, namun bila raport mentalnya tidak baik, outputnya bisa tidak naik kelas,” tandas Kiai muda itu.

Itu sebabnya, lanjut Kiai Anang, lulus tidak lulus memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah bagaimana menyikapinya. Meski lulus dan dapat nilai bagus, ketika salah menyikapinya pun dampaknya kurang baik.

“Maka dalam hal ujian, para santri Tazakka tidak hanya berorientasi pada how to know. Lebih dari itu, mereka dididik agar bercara pikir how to be, baik to be honest, to be confidence, dan sikap mental lainnya,” pungkasnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin & Redaktur: Dony Widyo