Berebut Bubur Samin Khas Masjid Darussalam Solo

by
Menu Khusus di Bulan Ramadan
BUBUR SAMIN - Petugas membagikan bubur Samin Banjar kepada masyarakat di Masjid Darussalam, Jayengan, Solo, Kamis (17/5). Tradisi tiap jelang berbuka puasa Ramadan itu dimulai oleh komunitas warga keturunan Banjarmasin di Solo tahun 1930-an. ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO
Menu Khusus di Bulan Ramadan
BUBUR SAMIN – Petugas membagikan bubur Samin Banjar kepada masyarakat di Masjid Darussalam, Jayengan, Solo, Kamis (17/5). Tradisi tiap jelang berbuka puasa Ramadan itu dimulai oleh komunitas warga keturunan Banjarmasin di Solo tahun 1930-an.
ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO

*Menu Khusus di Bulan Ramadan

Setiap memasuki bulan Ramadan, Masjid Darussalam akan sangat sibuk. Hal ini karena, masjid yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto No. 161, Jayengan, Solo ini akan membuat menu khas Ramadan.

Menu tersebut adalah bubur samin khas Banjar, Kalimantan. Sudah puluhan tahun masjid Darussalam menyediakan bubur samin. Bubur samin ini akan dibagikan kepada warga masyarakat yang ingin menikmatinya.

Awalnya, bubur tersebut hanya diperuntukkan bagi para jamaah masjid Darussalam saja. Tetapi, ternyata banyak masyarakat yang juga menyukai bubur tersebut. Aroma rempah dan daging sapi menjadi salah satu khas dari bubur samin. Tidak heran jika setiap hari ratusan warga sudah mengantre di halaman masjid Darussalam. Mereka biasanya sudah membawa wadah dari rumah. Ada yang membawa satu wadah, dua wadah atau bahkan lebih.

Bubur Samin

Warga yang datang untuk mendapatkan bubur samin tidak hanya warga Solo saja. Bahkan ada warga dari luar Solo yang rela datang hanya untuk mencicipi bubur khas Banjar tersebut. “Kemarin ada yang dari Jogja, Kaliwungu, Rembang dan juga dari daerah lainnya,” ungkap Ketua Takmir Masjid Darussalam, H. Rosyidi Muhdlor saat ditemui JawaPos.com, Jumat (18/5).

Rosyidi menambahkan, tradisi pembagian bubur samin ini sudah dilakukan sejak tahun 1965.

Dahulu ada beberapa menu khas Banjar yang diusulkan, seperti soto Banjar, nasi abang, kuning dan bubur banjar. Akhirnya yang dipilih adalah bubur samin. Kemudian takmir memasak bubur samin itu untuk dimakan saat berbuka bersama di masjid.

“Dan sejak tahun 1980 kami memasak bubur samin untuk warga juga. Dan masyarakat sangat menyukai dengan rasa bubur ini, akhirnya semakin banyak yang ingin mencicipinya,” ucapnya.

Rosyidi menceritakan, awal munculnya bubur samin adalah karena di kawasan masjid Darussalam dulunya banyak perantau dari Banjar. Mereka kemudian tinggal di sebuah perkampungan di kawasan Jayengan, Serengan, Solo. Untuk mengobati rasa kerinduan terhadap kampung halaman, mereka memasak bubur samin.

Sekarang ini, setiap hari selama Ramadan takmir menyiapkan 1.100 porsi bubur samin. Bubur itu nantinya akan dibagikan kepada warga sebanyak 900 porsi. Dan yang 200 porsi dimakan untuk buka bersama. Untuk memasak 1.100 porsi, diperlukan beras sebanyak 50 kilogram.

Sementara untuk bumbu yang digunakan adalah rempah-rempah khas Banjar. Tidak hanya itu, di dalam bubur juga dicampur dengan daging sapi. Semua bahan ini didapatkan dari sumbangan, termasuk juga dari para alumnus Darussalam yang sekarang sudah sukses.

“Kalau memasaknya sudah dimulai sejak pukul 11.00 WIB dan selesai sekitar pukul 15.00 WIB. Untuk pembagiannya dilakukan selepas salat Ashar, tapi sebelum Ashar warga sudah mengantre,” tandasnya.

Salah seorang warga, Andre, 41, mengaku selalu menyempatkan diri untuk mendapatkan bubur samin. Padahal jarak rumah Andre lebih dari 25 kilometer. “Dari dulu sudah rutin cari bubur samin, rasanya yang khas bikin ketagihan. Sebulan itu bahkan bisa sampai delapan kali,” ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan, Maryanto,54. Warga Kalioso Sragen, Jateng itu mengaku, setiap pulang kerja dirinya menyempatkan untuk mampir mengambil bubur samin. Meski harus mengantre baginya tidak mengapa. “Ini merupakan menu khas Ramadan, kalau puasa pasti ke sini,” tandasnya. (jpg)