Bernostalgia dengan Kuliner Masa Lalu di Minggo Jatinan

by -
Bernostalgia dengan Kuliner Masa Lalu di Minggo Jatinan
KLASIK – Menikmati kuliner di Minggon Jatinan seperti memutar waktu pengunjung ke masa lalu. Nuansa klasik dan tradisional benar-benar dominan. AKHMAD SAEFUDIN / RADAR PEKALONGAN
Bernostalgia dengan Kuliner Masa Lalu di Minggo Jatinan
KLASIK – Menikmati kuliner di Minggon Jatinan seperti memutar waktu pengunjung ke masa lalu. Nuansa klasik dan tradisional benar-benar dominan.
AKHMAD SAEFUDIN / RADAR PEKALONGAN

BATANG – Anda yang berusia di atas 25 tahun mungkin sesekali kangen dengan menu kuliner tradisional di masa kecil tetapi bingung di mana bisa memenuhinya. Nah, jika ingin bernostalgia dengan selera masa lalu itu, Minggon Jatinan mungkin bisa menjadi solusinya.

Dari segi nama sendiri sudah unik. Kata Minggon menunjuk pada waktu, yakni setiap Hari Minggu atau bisa juga bermingguan. Sementara Jatinan menggambarkan tempat di mana makanan dan jajanan tradisional itu dijajakan, yakni di Hutan Kota Rajawali yang bercirikan Pohon Jati.

Yang ditawarkan ke masyarakat Batang tentu tak sekadar fisik jajanannya, tetapi juga sensasinya. “Orang-orang zaman now kan suka dengan sensasi, termasuk saat berburu kuliner. Akan berbeda kalau menu makanan dan jajanan tradisional ini sekadar dijajakan di ruko atau pasar, tetapi tempat dan caranya juga dibuat bercitarasa,” tutur Humas Minggon Jatinan, Bachtiyar Rivai, Selasa (1/5).

Sejak dilaunching Bupati Wihaji bersama Ketua TP PKK, Uni Kuslantasih, Minggon Jatinan memang membuat penasaran banyak orang. Gemanya tidak hanya di Batang, tetapi juga menjalar ke Pekalongan.

“Ya menikmati serabi, bubur, jamu kunyit atau lainnya di bawah rerimbunan pohon jati kan punya sensasi tersendiri. Apalagi waktunya di minggu pagi sampai menjelang siang, pas untuk orang jogging plus relaksasi sambil rekreasi kuliner khas masa lalu,” terang Bachtiyar.

Tak hanya itu, sensasi pun akan dirasakan pembeli yang harus menggunakan koin atau kreweng dengan simbol K sebagai pengganti uang. Pembeli harus lebih dulu menukar uang dengan koin yang perbijinya bernilai Rp 2.000. Kemasan pun menggunakan bahan alami untuk mengurangi plastik. “Ini bisa untuk wisata edukasi juga, model transaksi non tunai,” imbuh Bachtiyar.

Sejumlah kuliner jadul yang sudah langka di pasaran memang menjadi menu andalan di Minggon Jatinan. Sebut saja sego megono demang, susu jagung, the sereh, kopi lobang, jajanan pasar telo dn sejenisnya, wedang rempah seduh, aneka serabi, gemblong bakar, kinco, hingga buntil jagung.

“Pengunjung bisa bernostalgia dengan kuliner masa lalu yang mungkin sudah sulit ditemukan. Alhamdulillah, respon pengunjung sangat tinggi. Sebelum jam 11, menu sudah ludes,” ujarnya.

Gagasan Minggon Jatinan sendiri bermula dari pertemuan Uni Kuslantasih dengan segenap penggerak UMKM hingga Madrasah Bisnis serta pemberdaya ekonomi kreatif lainnya. Saat ini, pengelolaan even minggunan itu sudah diserahkan secara mandiri ke even organisir (EO) setempat.

“Prospeknya cukup bagus, terutama untuk mendorong pertumbuhan UMKM ke depan. Nyatanya ada satu UMKM yang omsenya mencapai Rp1,6 juta. artinya potensi cukup besar. Yang jelas ada simpul ekonomi yang berpeluang meningkatkan kesejahteraan,” kata Uni. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin | Radar Pekalongan
Redaktur: Doni Widyo