10 Pasangan Ikuti Nikah Massal TP PKK

by
Nikah Massal
NIKAH MASSAL - Sebanyak 10 pasangan mengikuti kegiatan nikah massal yang digelar TP PKK Kota Pekalongan bersama Dinsos P2KB, Senin (23/4).
Nikah Massal
NIKAH MASSAL – Sebanyak 10 pasangan mengikuti kegiatan nikah massal yang digelar TP PKK Kota Pekalongan bersama Dinsos P2KB, Senin (23/4).

KOTA PEKALONGAN – Sebanyak 10 pasangan mengikuti nikah massal yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan bekerjasama dengan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P2KB) dalam rangka memperingati Hari Kartini dan HUT Kota Pekalongan. Mereka berasal dari berbagai umur yakni yang termuda 23 tahun dan yang paling tua 50 tahun.

Bisri (50) dan Maroyah (46) merupakan pasangan tertua yang menjadi peserta nikah massal tahun ini. Sebelum diresmikan dalam momen tersebut, keduanya sudah dua tahun menikah siri. “Sudah dua tahun menikah siri tapi saya tidak tinggal bersama. Saya ikut anak saya, hanya sesekali mengunjungi,” tutur Bisri.

Sebelum menikahi Maroyah, ia mengaku sudah pernah sekali menikah, namun sang istri meninggal. “Ini yang kedua. Alhamdulillah perasaannya senang,” akunya.

Sementara bagi Maroyah, pernikahannya kali ini merupakan yang pertama. Ia mengaku bahagia akhirnya bisa menikah. “Senang juga,” katanya.

Tak hanya diikuti pasangan yang sudah berumur, pasangan muda juga terpantau menjadi peserta nikah massal. Seperti pasangan Khusnul Udin (24) dan Rochimatun (23) misalnya.

Keduanya memilih ikut nikah massal karena lebih ramai. “Ya ingin ikut disini karena lebih ramai saja,” kata Khusnul.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan, Khusnul Khotimah menuturkan, program nikah massal tersebut adalah dalam rangka membantu para pasangan pengantin yang sudah lama menikah, namun belum mendapatkan buku nikah secara sah yang diakui oleh negara. “Nikah massal ini sebagai wadah bagi masyarakat yang kurang mampu untuk melakukan pernikahan secara aturan agama dan pemerintah, sehingga mendapatkan legalitas dari negara,” tuturnya.

Lebih lanjut, Khusnul Khotimah menjelaskan bahwa legalitas pernikahan menjadikan kehidupan rumah tangga akan semakin baik, dan juga pembinaan mental sepiritual anak sebagai generasi masa depan bangsa bisa terjamin. “Dengan adanya pernikahan yang sah, maka di dalam membina rumah tangga, manusia akan merasa aman dan tentram, karena telah sesuai menurut kaidah agama maupun menurut hukum negara,” tambahnya.

Ia menambahkan, 10 pasang pengantin tersebut diberikan santunan dan bantuan peralatan rumah tangga. “Kami berikan sedikit bantuan kepada 10 pasangan pengantin untuk mengarungi kehidupan rumah tangga,” katanya.

Sementara Walikota Pekalongan, Moch Saelany Machfudz menambahkan, semua pasangan yang ikut nikah massal ini akan mendapat buku nikah, sebagai bukti legal yuridis. “Dengan adanya pencatatan nikah massal ini diharapkan ada kepastian hukum bagi pasangan dan anak-anaknya. Aspek hukum formal dalam perkawinan harus kita dorong dan dilakukan,” kata Walikota.

Walikota melanjutkan, penyelenggaraan nikah massal ini membawa misi penting akan pesan pemberdayaan perempuan. Karena dalam beberapa kasus, sering perempuan dirugikan pada aspek perjanjian pernikahan. Terlebih untuk pernikahan yang dilakukan di bawah tangan.

“Kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi untuk membangun masyarakat yang sadar hukum,” tandasnya. (nul)

Penulis: M. Ainul Atho’ & Redaktur: Abdurrahman