Menilik Model Pembelajaran Tahfidz SD MTQ Wonokerto

oleh -
Menilik Model Pembelajaran Tahfidz SD MTQ Wonokerto
SETOR HAFALAN - Suasana para siswa SD Muhammadiyah Tahfidzul Quran saat sedang setor hafalan kepada guru tahfidz, Jumat (30/03). EKA ISDITYA / RADAR PEKALONGAN

*Gunakan Metode Khusus Ajarkan Siswa Meghafal Alquran

Sebagai sekolah dasar berbasis tahfidzul quran, SD Muhammadiyah Tahfidzul Quran Wonokerto memiliki metode khusus dalam membimbing para siswanya menghafal Alquran. Seperti apa yang dilakukan? EKA ISDITYA, Wonokerto

Menilik Model Pembelajaran Tahfidz SD MTQ Wonokerto
SETOR HAFALAN – Suasana para siswa SD Muhammadiyah Tahfidzul Quran saat sedang setor hafalan kepada guru tahfidz, Jumat (30/03).
EKA ISDITYA / RADAR PEKALONGAN

Pentingnya nilai-nilai keagamaan untuk diterapkan dalam pendidikan anak sejak dini, menjadi salah satu tujuan beridirnya SD Muhammadiyah Tahfidzul Quran (SD MTQ) Wonokerto. Berfokus pada kegiatan tahfidz atau hafalan quran, menjadi kekhususan SD Muhammadiyah yang kini baru memiliki siswa kelas 3 ini.

Menurut penuturan Kepala SD MTQ Wonokerto, Diah Tripara NS, ketika ditemui Radar Pekalongan disela-sela kegiatan daftar ulang peserta didik baru, pendirian SD MTQ merupakan salah satu bentuk syiar untuk mengajak para siswa mencintai Aquran. “Untuk targetnya satu tahun anak bisa hafal 2 Juz,” ujar Umi, sapaan akrabnya.

Mengajar siswa dalam kelas tahfidz atau hafalan Alquran rupanya diakui lebih sulit daripada mengajar pelajaran umum maupun pelajaran agama di dalam kelas. Hal tersebut diamini oleh salah seorang Guru Tahfidz SD MTQ Wonokerto, Amalia Pratiwi. “Jelas lebih susah ngajak anak-anak untuk hafalan. Apalagi untuk anak-anak usia kelas 1 kelas 2, moodnya mudah banget berubah-ubah,” ujar Ustadzah Lia, sapaan karibnya.

Dijelaskan pula, pihaknya memiliki ruang kelas khusus yang berbeda dengan ruang kelas pembelajaran biasa. Dalam kelas tahfidz, satu orang pengajar tahfidz maksimal hanya boleh membimbing maksimal 10 orang siswa. Ruang kelasnya pun berbeda. Dalam satu ruang kelas umum, ruang tahfidz menggunakan sekat untuk membagi ruang menjadi dua bagian.

“Kebetulan ini saya megang kelas 2, dan nggak ada 10 anak,” jelasnya. Kegiatan setoran hafalan tak hanya dilaksanakan didalam ruang, suasana santai diluar ruang juga seringkali digunakan untuk membimbing para siswa. “Karena ruang kelasnya masih kurang, kami juga gunakan teras kelas seperti ini. Memang tujuannya juga untuk mengurangi kejenuhan siswa, tapi susahnya kadang anak-anak kalau lihat suasana luar mereka inginnya bermain terus,” kata dia.

Tak jarang, para pengajar tahfidz juga memberikan permainan disela-sela setoran hafalan. “Ya kami juga nggak bisa maksa, namanya anak-anak. Kalau lagi suka kadang bisa setor banyak. Kalau lagi nggak mood ya kadang juga nggak mau hafalan. Jadi biasanya saya selingi dengan permainan seperti ini biar anak-anak nggak bosan,” tandasnya. (*)

Penulis: Eka Isditya | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin