Nasional

Setnov Kembali Tersangka, Golkar Tak Ikut Campur

Setnov Kembali Tersangka, Golkar Tak Ikut Campur

PRA PERADILAN – Kuasa Hukum Setya Novanto, Friedrich Yunadi, mengaku akan mengajukan praperadilan lagi dan pelaporan ke polisi atas penetapan Setnov sebagai tersangka untuk kedua kalinya.
CNNINDONESIA

*Pengacaranya Langsung ke Lapor ke Bareskrim

JAKARTA – Partai Golkar menyerahkan sepenuhnya proses hukum ketua umumnya, Setya Novanto, pasca ditetapkannya kembali ia sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus mega korupsi e-KTP. Golkar menyatakan tidak ikut campur urusan Setnov kembali menjadi tersangka, dan menghormati proses hukum yang bergulir di KPK. Namun berbeda dengan Fredrich Yunadi, pengacara Setnov, yang kemarin langsung mendatangi Bareskrim.

“Sudah, kita (Golkar) menyerahkan pada proses hukum terkait kasus yang kembali menjerat Pak Novanto sebagai tersangka,” ungkap Andi Sinulingga, Ketua DPP Partai Golkar kepada INDOPOS saat dihubungi, kemarin.

Sebagai kader, ia mengaku prihatin ketuanya kembali menjadi tersangka di kasus yang sama. Namun walau bagaimana pun, partai berlambang pohon beringin harus tetap menghormati proses hukum yang berlaku di Indonesia. “Pertama, prihatin. Kedua, kami harus hormati proses hukum,” tegasnya.

Dia juga menegaskan, Partai Golkar akan segera melakukan konsolidasi menyikapi status hukum Novanto. “Biarkan proses hukum berjalan. Golkar segera mengonsolidasikan diri,” imbuhnya.

Politisi Partai Golkar lainnya, Dave Laksono menyatakan, DPP Partai Golkar sudah memperkirakan bila Novanto pasti akan ditersangkakan kembali oleh KPK atas kasus yang sama. “Ya memang sudah ada pembahasan. Tapi kan ini langkah hukum, dan ini kan ada tim khusus yang dibuat oleh ketum dan lawyer yang membahas soal ini. Jadi ini tidak secara langsung melibatkan DPP. Tapi tetap kita komunikasikan sajalah progres-progresnya,” kata anggota Komisi I DPR RI.

Ia mengakui, pihaknya belum mendapatkan surat dari lembaga antirasuah soal penetapan tersangka kembali Novanto. “Kami tunggu dulu seperti apa, kita pelajari. Kita lihat langkah hukum yang bisa kita lakukan berikutnya seperti apa. Kemudian, kita juga harus melihat objektif,” imbuhnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham mengamini komentar kedua pengurus Golkar tersebut. Bahkan, dia menyatakan, DPP Golkar tidak ingin ikut campur terkait Novanto yang ditersangkakan kembali oleh KPK. Hal itu diserahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum Novanto.

“Kami sudah sepakat Pak Novanto telah memiliki penasihat hukum. Oleh karena itu, terkait penjelasan hukum ditanyakan pada penasihat hukumnya,” kata Idrus kepada wartawan, kemarin.

Idrus yakin, pengacara Novanto akan memberikan pertimbangan yang baik, supaya proses hukum yang dilalui berjalan sesuai fakta hukum. Partai Golkar menghargai apapun yang diputuskan KPK terhadap ketua umumnya itu.

“Bagi Partai Golkar, proses-proses yang ada selama ini kita hargai KPK. Tapi pada saat yang sama juga, saya ingin supaya azas praduga tak bersalah tetap dihargai oleh masyarakat,” pinta Idrus.

Diketahui, pengumuman penetapan Novanto sebagai tersangka itu disampaikan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, dalam jumpa pers di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat (10/11). “Setelah proses penyelidikan dan terdapat bukti permulaan yang cukup dan melakukan gelar perkara akhir Oktober 2017, KPK menerbitkan surat perintah penyidikan pada 31 Oktober 2017 atas nama tersangka SN, anggota DPR RI,” kata Saut.

Dalam kasus ini, sambung Saut, Novanto disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 Subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dalam penetapan tersangka sebelumnya, KPK menduga Novanto terlibat dalam korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Sementara pengacara Setnov, Fredrich Yunadi, kemarin langsung mendatangi Bareskrim Polri. Dia mengaku akan membuat laporan. “Ini kan baru laporan dulu. Nanti ya,” ucap Fredrich di Bareskrim Polri, kemarin.

Fredrich tampak membawa sebuah berkas dan didampingi 2 rekannya. Saat ditanya siapa yang akan dilaporkan, Fredrich tak menjawab lugas. “Yang mengumumkan,” ujarnya tanpa merujuk siapa yang dimaksud. Ketika ditanya apakah maksudnya adalah Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK, ia malah menjawab,”Iya, sudah tahu kok nanya.” (aen)

 

Facebook Comments