Lahan Produktif Dikepung Pemukiman

by
Lahan Produktif Dikepung Pemukiman
DIKEPUNG - petani kelurahan sumberdalem kertek panen selada air di lahan produktif yang sudah dikepung oleh pemukiman padat penduduk DOKUMEN
Lahan Produktif Dikepung Pemukiman
DIKEPUNG – petani kelurahan sumberdalem kertek panen selada air di lahan produktif yang sudah dikepung oleh pemukiman padat penduduk
DOKUMEN

WONOSOBO- Lahan-lahan produktif pertanian di Kabupaten Wonosobo, baik itu lahan persawahan maupun lahan sayuran terus berkurang. Lahan tersebut dengan cepat mengalami perubahan menjadi pemukiman atau tempat usaha.

Pemandangan area persawahan dengan latar belakang perumahan yang padat dan gedung-gedung bertingkat terhampar di pinggiran kota wonosobo.

Zamroni, salah satu petani pemilik sawah asal desa Sumberdalem Kertek, menyebutkan area persawahan di dekat rumahnya dulu masih cukup luas sekitar 3 hektare, namuan sekarang sudah beralih fungsi menjadi pemukiman dan juga tempat usaha.

“Cepat sekali berubah, lahan produktif untuk sektor pertanian terus berkurang, termasuk di tempat saya,” ungkapnya

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sumber Dalem itu juga menambahkan, bahwa selain lahan produktif yang berkurang, sisa lahan yang ada saat ini juga dimiliki oleh orang dari luar. Bahkan pemiliknya berada di kota-kota besar, seperti bandung, semarang, jakarta dan bahkan kalimantan. “Aawalnya tanah itu milik petani setempat, tapi kemudian dibeli oleh orang luar untuk dijadikan tempat usaha atau pemukiman, lahan petani kita makin sendikit,” bebernya.

Merespon hal tersebut Komandan Kodim 0707 Wonosobo Letkol Czi Fauzan Fadli mengungkapkan banyaknya area persawahan yang kini dijadikan lahan sayur mayur dan banyaknya juga lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi bangunan seperti pemukiman,gedung atau perkantoran lainnya. Bahkan area persawahan terkikis oleh perluasan jalan untuk kebutuhan transportasi atau akses lainnya.

“Lahan sawah yang terus berkurang, tidak hanya di wonosobo, alih fungsi lahan sawah selalu menjadi permasalahan klasik disetiap kota di Indonesia. Sejak dari dulu, lahan pertanian di kawasan perkotaan memang tidak selalu dominan,” katanya

Namun pihaknya mengaku akan berupaya untuk tetap mempertahankan kualitas dan ketahanan pangan dengan memanfaatkan potensi yang ada. Seperti menanam sayuran di halaman rumah. “Kami hanya melakukan kroscek ke lapangan setiap satu tahun sekali untuk mengetahui lahan tersebut masih berupa sawah atau bukan,” tambahnya.

Menurut Dandim, kepemilikan lahan sepenuhnya adalah hak dari petani itu sendiri. Pihaknya pun tidak memiliki kewenangan lebih untuk menentukan diperbolehkan atau tidak sebuah lahan sawah untuk alih fungsi

Sedangkan upaya yang dilakukan adalah memberi sosialisasi bagi petani untuk meningkatkan hasil panen dan bantuan berbagai alat. Termasuk memberikan benih dan pelatihan. Di mana sebagian besar alat juga didapat dari Kementerian Pertanian.

“Yang disayangkan juga, saat ini sedikit pemuda kita yang tertarik untuk terjun sebagai petani. Begitu kuliah di jurusan pertanian, lulusnya memilih bekerja di perusahaan atau perbankan,” pungkasnya. (gus)