Problem Sampah Bisa Ganggu Program Wisata

by
Problem Sampah
DIANGKUT – Armada DLH Batang tengah memindahkan tumpukan sampah di bantaran Kali Belo, Tersono, untuk dipindahkan ke TPA, kemarin. Selanjutnya mereka akan tangani di Banyuputih. AKHMAD SAEFUDIN
Problem Sampah
DIANGKUT – Armada DLH Batang tengah memindahkan tumpukan sampah di bantaran Kali Belo, Tersono, untuk dipindahkan ke TPA, kemarin. Selanjutnya mereka akan tangani di Banyuputih.
AKHMAD SAEFUDIN

Sedang Tangani, DLH Minta Perindag Membantu

Problem penumpukan sampah di wilayah Batang timur kembali disuarakan kalangan DPRD dari dapil setempat. Pasalnya, selain volumenya yang tinggi dan mudah menggunung, permasalahan itu juga bisa mengganggu program wisata yang tengah digencarkan Bupati Wihaji.

“Paling tidak ada tiga titik yang jadi keluhan masyarakat, yakni Pasar Hewan Limpung, utara Pasar Banyuputih, dan di bantaran Kali Belo Tersono. Volumenya tinggi, kalau pengangkutannya tak rutin pasti menggunung,” kata anggota Komisi C DPRD Batang, H Muafie, Minggu (1/4).

Selaku legislator asal Limpung, dia mengakui problem tumpukan sampah telah banyak dikeluhkan masyarakat. Selain baunya yang menyengat, kondisi itu juga menganggu pemandangan.

“Makanya, kami tak bosan untuk terus menyoal penanganan sampah. Jangan sampai problem sampah ini mengganggu program unggulan Bupati, terutama wisata. Apalagi, akhir bulan nanti akan ada even nasional paralayang di Banyuputih, semestinya masalah sampah bisa teratasi,” tandasnya.

Sebelumnya, permasalahan ini juga telah disoal jajaran Komisi C lainnya di akhir Januari lalu. Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batang, Ir Agus Riyadi MM, mengaku telah menggkordinasikan penanganan sampah itu ke sejumlah camat dan kepala pasar.

“Ini yang TPS Kali Belo, Tersono, sedang ditangani, petugas kami tengah mengangkuti tumpukan sampah, mungkin Senin selesai dan kita lanjut ke Banyuputih. Yang jelas, penanganan sampah, terutama yang bersumber dari pasar ini tidak mungkin hanya ditangani DLH, tapi juga instansi terkait lainnya. Makanya kita selalu berkoordinasi dengan camat dan muspika agar ada penanganan bersama,” terang dia.

Terkait tumpukan sampah di utara Pasar Banyuputih yang berada di pinggir jalur pantura, Agus juga mengaku telah menyurati Camat dan Kepala Pasar untuk mencari lokasi lain guna dijadikan TPS. Sebab selain proses pengangkutannya membahayakan, tumpukan sampah di pinggir jalan nasional juga sangat mengganggu pemandangan.

“Termasuk di Tersono, Pak Camat dan Muspika juga ikut turun tangan dan tengah mencari lokasi baru untuk TPS. Karena tugas DLH itu mengangkut sampah dari TPS ke TPA. Di Terminal Banyuputih malah buat TPS sendiri dengan karung,” ujarnya.

Menurut Agus, volume sampah di TPS sebagian besar bersumber dari pasar. Sementara Disperindag selaku pengelola pasar juga memiliki anggaran, personel, hingga armada amrol untuk rutin mengangkut sampah. “Ya harapan kami, Disperindag juga ikut aktif mengangkut sampah secara rutin, jangan menunggu seminggu karena pasti menumpuk. Kami di DLH tetap melaksanakan apa yang jadi kewajiban, tetapi akan lebih optimal jika armada amrol bisa aktif juga mengangkuti sampah. Kami sudah koordinasikan ini dengan camat dan kepala pasar juga,” pungkasnya. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin & Redaktur: Dony Widyo